
Karena sudah dua tempat didatangi oleh Andreas Jonathan dan Cassandra, belum juga menunjukkan ada tanda-tanda keberadaan Nyonya Sheilla, akhirnya Alexander meminta pasangan suami istri itu berdiam diri untuk sementara. Dengan mengajak satu pengawal, Alexander mencari sepeda motor, dan berdua dengan pengawal datang ke apartemen yang ditunjukkan oleh Mr. Smith. Akan sangat berbahaya bagi mereka, jika mereka berani datang ke apartemen tersebut dengan membawa mobil mewah.
"Tagor.. stop here! We leave the motorbike, and we go to the apartment on foot." melihat situasi jalan masuk, Alexander berpikir akan lebih baik jika mereka masuk dengan berjalan kaki.
"Okay.. tuan Alex." Tagor segera berhenti mengikuti arahan Alexander.
Kedua laki-laki itu segera memarkirkan sepeda motor, kemudian mengunci dan meninggalkan di luar pagar apartemen. melihat sekilas lingkungan di luar apartemen memang terlihat sangat kumuh, dan hunian itu tampak sesak, dan memiliki banyak penghuni. Terlihat ada seorang anak kecil menangis, dan anak yang lebih besar mencoba mendiamkannya. Alexander teringat, tadi menyimpan beberapa candy di dalam saku jaketnya. Anak muda itu mendekati anak kecil itu, kemudian memberikan candy kepadanya,
"Thank.s.." ucap anak kecil itu lirih.
Alexander berhenti menatap anak-anak itu yang tampak menunjukkan ekpresi senang, hanya dengan mendapatkan candy darinya. Beberapa saat, Alexander menghabiskan waktu untuk melihat pada anak-anak itu, hingga tanpa sadar ada seorang gadis yang menatapnya dengan pandangan bermusuhan,
"Hey apa yang kamu lakukan.. jangan suka memperdaya anak-anak..? Jerry.. Remmy.. kembali ke dalam, jangan mudah terpengaruh orang asing hanya dengan satu buah candy.." seorang gadis berteriak memperingatkan dua anak-anak itu.
Anak muda itu terkejut, dan terperangah melihat seorang gadis dengan berpenampilan tomboy, tampak sedang menatapnya dengan tatapan tidak suka. Alexander menghela nafas, kemudian menatap langsung pada gadis yang sudah salah menilainya itu. Melihat tatapan bermusuhan dari gadis cantik itu, menantang sikap laki-laki Alexander. Anak muda itu tersenyum, kemudian berjalan mendekati gadis itu.
"Hmm.. apa yang anda katakan tentangku gadis.." dengan tersenyum, Alexander mempertegas pertanyaan pada gadis muda itu. Pengawal yang bersama dengan Alexander berusaha membantu anak muda itu, tetapi dengan cepat Alexander memperingatkan dengan memberi isyarat tangan untuk membuatnya berhenti.
"Aku hanya mau memperingatkanmu, salah jika dirimu mau mencari korban anak-anak. Seisi apartemen akan keluar untuk menangkapmu.." dengan nada ancaman, gadis muda itu dengan berani berbicara pada Alexander.
Alexander tersenyum melihat gadis muda itu berpikiran buruk kepadanya. Dengan terus mengamati gadis itu, Alexander tidak melakukan tindakan apapun. Bibir anak muda itu terus mengeluarkan senyuman, menunjukkan ketertarikan melihat gadis cantik itu yang menatapnya dengan sikap bermusuhan.
"Pergi.., kembalilah ke tempat asalmu. Jangan pernah berpikir untuk berbuat jahat di lingkungan ini, atau aku akan merajammu." teriak gadis itu.
"Aku ingin sekali-sekali merasakan bagaimana seorang gadis cantik sepertimu akan merajamku. Lakukanlah.." dengan senyum smirk, Alexander malah menggoda gadis itu. Laki-laki muda itu malah berjalan semakin mendekati gadis itu, dan gadis itu memundurkan tubuhnya ke belakang, dan tanpa sadar kakinya malah terperosok pada lubang di belakangnya.
"Aaaaw.." gadis itu menjerit, namun dengan sigap tangan Alexander terulur dan menarik tubuh gadis itu. Dengan kekuatannya, tubuh gadis itu tertarik ke depan, dan menubruk dada Alexander. Bau harum aroma maskulin tercium di hidung gadis itu, dan pipi gadis tomboy bersemburat pink. Alexander seperti mendapatkan kesempatan, laki-laki itu malah mendekatkan tubuh gadis itu dengan mendekapnya menggunakan satu tangannya. Beberapa saat gadis itu baru tersadarkan jika sudah dikerjai oleh laki-laki itu, dengan cepat gadis itu mencoba melepaskan diri dan mendorong dada Alexander.
Alexander tertawa, karena gadis itu malah pergi meninggalkannya. Pengawal menghampiri Alexander, dan meminta laki-laki itu untuk menunggunya di luar.
********
Beberapa Saat Kemudian
Mungkin karena Tagor tinggal di negara itu, ternyata laki-laki itu bisa diterima dengan baik oleh pengelola apartemen. Ternyata petugas penginput data penghuni, merupakan teman Tagor saat masih duduk di High Junior School. Dengan ramah teman Tagor mempersilakan duduk di ruang transit, dan Tagor meminta ijin untuk memanggil Alexander yang masih menunggu di luar apartemen.
"Tuan Alex.. kita ditunggu pengelola apartemen untuk duduk di ruang transit.." Tagor keluar dan memanggil Alexander.
Tanpa menjawab, Alexander segera mengikuti Tagor, dan mereka berjalan berdampingan. Dalam perjalanan menuju ke dalam, banyak tatapan ingin tahu dari para penghuni apartemen. Banyak laki-laki bertatto dengan tubuh gempal, melihat dua anak muda itu berjalan. Tetapi untungnya teman Tagor melihat mereka di depan pintu lobby, sehingga tidak ada yang berani mengganggu keduanya.
"Silakan duduk tuan Alex.." Tagor segera meminta Alexander duduk, dan tanpa banyak bicara Alexander segera duduk di sofa yang ada di ruang transit. Tidak lama kemudian, pengelola apartemen duduk di depan kedua laki-laki itu. Dengan perasaan ingin tahu, karena melihat penampilan Alexander yang dibalut dengan barang-barang branded, namun mereka saat ini berada di dalam apartemen kumuh, tentu saja menimbulkan banyak pertanyaan.
"Aseng.. seperti tadi yang sudah aku katakan kepadamu. Kedatanganku kemari karena mengantarkan tuanku ini, tuan Alexander yang ingin mencari tahu tentang keberadaan tempat tinggal dari seorang perempuan yang bernama Nyonya Sheilla. Ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan perempuan itu, jadi aku harap kamu bisa membantu upaya kami." tagor memulai pembicaraan,
Aseng terdiam, kemudian menatap Tagor dan Alexander secara bergantian. Sepertinya ada rasa berat pada diri laki-laki itu, untuk membuka jati diri orang-orang yang tinggal di apartemen itu. Kerasnya kehidupan di kota besar ini, memang menjadikan orang-orang yang tinggal di apartemen ini sering berurusan dengan pihak yang berwajib. Menjadi kewajibannya, selaku pengelola apartemen untuk melindungi warga yang tinggal di apartemen itu.
"Aku yakin tuan Aseng, anda memiliki tanggung jawab penuh untuk keselamatan warga yang tinggal di apartemen ini, karena aku yakin semua warga yang tinggal dalam apartemen ini, tidak semuanya orang baik. Mereka memiliki masalah dengan kehidupan mereka masing-masing. Bukankah demikian..?" dengan nada datar, Alexander berbicara pada laki-laki penjaga apartemen.
Aseng terlihat kaget, kemudian menatap tajam pada Alexander. Ada setitik rasa amarah, melihat bagaimana Alexander langsung berbicara tanpa tedeng aling-aling, seakah melecehkan mereka. Untungnya Tagor segera tanggap, laki-laki itu segera mendekati Aseng, dan berbisik kepadanya. Alexander hanya menatap kedua laki-laki itu dengan tatapan datar. Tidak lama kemudian, sepertinya Aseng sudah bisa mengenali karakter Alexander, karena wajahnya perlahan mulai memudar amarahnya.
********