CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 134 Stevie Memiliki Hak



Merasa semua urusan di negara Singapura sudah selesai semuanya, akhirnya Andreas Jonathan mengajak semua keluarganya untuk pulang kembali ke Indonesia. Dengan menggunakan private jet, akhirnya semua meninggalkan negara itu via bandara Changi. Ketika pesawat sudah mulai take off, ada keharuan di hati Stevie karena harus meninggalkan negara yang sudah membesarkannya. Sejak kelahirannya, mamanya Nyonya Sheilla meninggalkan Indonesia dan memutuskan untuk tinggal di negara ini dengan Armansyah.


"Apa yang kamu pikirkan sayang..., apakah kamu menyesalkan kepergianmu dari Singapura.." Alexander yang sudah mengatur tempat duduknya, dan mereka kali ini sudah duduk di belakang sendiri berdua, bertanya pada gadis itu.


Sebenarnya Stevie merasa sebal melihat laki-laki yang selalu menempel kepadanya seperti perangko itu, namun keluarga kakaknya seperti memberi dukungan penuh pada laki-laki itu untuk mendekatinya, Namun akhirnya dengan mengingat semua kebaikan, dan pertolongan Alexander yang sudah dilakukan untuknya, Stevie hanya bisa mengambil nafas dan menerima sikap laki-laki itu.


"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku, apakah kamu masih memiliki keraguan, jika aku akan dapat membahagiakanmu. Jika kamu mau, sesampainya di kota Jakarta, aku akan segera menikahimu. Bagaimana sayang, apakah kamu setuju..?" kembali Alexander terus mengajaknya bicara.


"Bisa tidak kak Alex tidak menggangguku. Aku sedang meresapi hati, bagaimana aku harus meninggalkan kota tempat aku dibesarkan, bergaul dengan komunitasku, dan menantang kerasnya kehidupan di negara ini. Tiba-tiba saja kedatangan kalian, merenggutku, menarikku keluar dari negara SIngapura. Tidak bisakah kalian semua menghargai kesedihanku.." Alexander kaget mendengar kata-kata yang diucapkan oleh gadis itu.


Ternyata tanpa dia tahu, Stevie merasa sedih diajak keluar dari negara itu dengan segala hingar bingarnya. Padahal melihat kehidupannya terdahulu, di negara itu, Stevie dan Nyonya Sheilla juga tidak merasakan hidup bahagia, dan hidup tenang seperti kehidupan yang dijalani oleh tuan mudanya. Ternyata semua pikirannya keliru, dan Alexander merasa tidak bisa berbuat banyak atas kesedihan yang dialami oleh Stevie saat ini.


"Baiklah.. maafkan aku Stevie.." hanya kata maaf yang bisa diucapkan oleh Alexander pada gadis itu.


Anak muda itu merengkuh bahu Stevie, kemudian menyandarkan kepala Stevie di dadanya. Degup jantung Alexander terdengar di telinga Stevie, namun sepertinya gadis itu memang sedang membutuhkan suatu dukungan. Sehingga tanpa disadarinya, Stevie terlihat duduk sambil menyadarkan kepala di dada Alexander. Mereka seperti pasangan kekasih, atau pasangan suami istri yang tengah saling merasakan degup jantung mereka.


Tanpa sengaja, tidak mendengar suara putrinya sejak masuk ke dalam pesawat, Nyonya Sheilla mencari-cari tempat duduk Stevie. Namun karena, Alexander memilih tempat duduk di belakang dan paling pojok, yang didesain untuk berdua, perempuan paruh baya itu tidak bisa melihat posisi tempat duduk istrinya. Perempuan yang duduk sendiri itu, kemudian melepaskan sabuk pengaman kemudian berdiri untuk mencari tahu dimana putri bungsunya duduk. Namun ketika melihat gadis itu. sedang memejamkan mata di dada Alexander, perempuan itu hanya bisa mengambil nafas.


"Mama.. apa yang mama butuhkan, biar Sandra yang ambilkan.." rupanya Cassandra melihat apa yang dilakukan mama mertuanya,. dan bertanya untuk memberikan bantuan kepadanya.


"Tidak Sandra menantuku.. mama hanya mencari tahu dimana Stevie berada, karena sejak tadi mama tidak mendengar suaranya. Ternyata Stevie duduk di belakang dengan nak Alex..." nyonya Sheilla kembali duduk di kursi dan memasang sabuk pengamannya.


Cassandra tersenyum mendengarnya, dalam hati perempuan muda itu juga berpikir jika Stevie memang cocok untuk Alexander. Hanya saja, laki-laki muda itu masih harus berjuang dan berpikir keras untuk merubah Stevie.


"Honey.. istirahatlah.. masih sekitar 30 menit lagi, kita baru akan landing." tiba-tiba terdengar suaranya Andreas Jonathan yang memintanya untuk beristirahat.


Tidak mau membantah perkataan suaminya, akhirnya Cassandra mengikuti ajakan suaminya. Karena Altezza juga masih tertidur lelap, Andreas Jonathan membuka kedua tangannya, kemudian membawa istrinya ke dalam pelukannya.


**********


Setelah hampir dua jam perjalanan, akhirnya private jet mendarat di bandara Halim Perdana kusumah. Alexander segera memberi pengaturan pada para pengawal untuk mengurus bawaan bagasi mereka. Keluarga besar itu segera menuju ke Pent House dengan menggunakan mobil SUV yang sudah menjemput mereka.


"Andre.. akan kamu bawa kemana mama hari ini nak..?" dalam perjalanan, nyonya Sheilla bertanya pada putra sulungnya. Perempuan itu berpikir untuk mengetahui dengan jelas tujuannya, dan jika merasa ada yang tidak beres, maka Nyonya Sheilla akan membatalkannya.


"Pent House mam... atau jika mama menghendaki kita pulang ke mansion, kita bisa berbalik arah ke mansion, Tetapi kami akan pulang ke Pent house.." Andreas Jonathan menjawab pertanyaan mamanya.


"Kemanapun mama tidak masalah Andre.. tetapi untuk saat ini mama tidak mau bertemu dengan papamu.Mama sangat benci pada laki-laki itu, bagaimana dia sudah merendahkan mama, danlebih memilih pelacur itu.." tidak diduga, ternyata Nyonya Sheilla tidak mau bertemu dengan tuan Wijaya,.


"Jika begitu, mama dan Stevie bisa tinggal di suites, yang ada di hotel tempat kami tinggal. Jika ada apa-apa mama bisa datang ke Pent House, kami tinggal di tempat itu. Papa terkadang akan datang ke Pent House.., jadi mama dan Stevie. Andre tempatkan di suites room." besar harapan Andreas Jonathan untuk mempersatukan mamanya kembali dengan papanya. Namun ternyata, mamanya saat ini masih terluka dan mengingat kepedihan ketika mereka harus dipaksa berpisah.


Hanya dengan menempatkan mereka dalam satu tempat yang sama, dan membiarkan waktu dan tempat yang akan mempertemukan, Andreas Jonathan hanya bisa berpikir seperti itu.


"Mama ikut aturanmu saja Andre..., maafkan mama. Sampai saat ini, mama belum bisa memaafkan kesalahan papamu nak.." ucap Nyonya Sheilla lirih.


Andreas Jonathan hanya tersenyum kecut, karena anak muda itu belum mengetahui dengan jelas, apa yang sebenarnya terjadi antara mama dengan papanya. Sejak anak muda itu sudah mengenal dunia, selama ini yang diketahuinya,  mamanya adalah Sandrina. Baru di akhir-akhir ini, karena konflik antara perempuan itu yang ingin memisahkan hubungannya dengan Cassandra, semuanya akhirnya terbuka dengan jelas.


Tidak lama kemudian, mobil yang membawa mereka sudah memasuki sebuah hotel termegah dan termewah di kota Jakarta, dan Andreas Jonathan memiliki saham terbesar di hotel tersebut. Dengan arsiteknya, laki-laki muda itu mendesain, roof top untuk digunakan sebagai Pent House, yang akan digunakannya sebagai tempat tinggal,


"Apakah mama dan Stevie akan tinggal di hotel ini Andre..?" sebelum mobil berhenti, Nyonya Sheilla bertanya pada anak muda itu.


"Iya mam.. hanya saja mama dan Stevie akan kita tempatkan di suites room, Untuk mencegah mama bertemu dengan papa, makanya mama tidak Andre tempatkan di Pent house bersamaan dengan kami. Namun.. Andre punya satu permintaan ma..." Andreas Jonathan tidak meneruskan kalimatnya.


"Permintaan.. mmm..., maksudmu.." Nyonya Sheilla menatap putra sulungnya itu.


"Bagaimanapu mam... Stevie adalah putra dari papa Wijaya. Gadis itu memiliki hak mam.., untuk mengenal atau paling tidak bertemu dengan papa." Andreas Jonathan berbicara lirih sambil menatap ke mata mamanya.


**********