CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 247 Pingin Steak



Mata Stevie berlinang melihat mobil yang dikemudikan Chakram kembali meluncur pergi dengan membawa Armansyah. Perempuan muda itu betul-betul tidak bisa menahan kepedihannya, dan tidak berapa lama mobil yang dibawa Max meluncur masuk ke halaman parkir A & W grill restaurant. Untungnya, dengan otoritas khusus, Max bisa melacak arah Uber Taxi membawa nona mudanya. Melihat keberadaan Stevie yang sedang menangis di halaman parkir mobil, Max terlihat tidak tega. Laki-laki muda itu segera memarkir mobil, kemudian mendatangi Stevie yang masih menangis terisak.


"Nona Stevie.. apapun masalah yang sedang nona Stevie hadapi, tidak baik menangis terisak di halaman parkir nona. Ada baiknya nona muda menenangkan diri dulu di dalam restaurant, dan setelah bisa mengendalikan perasaan kembali, baru kita kembali pulang. Akan menjadi mudah untuk membuat alasan bagi saya pada tuan Alexander.." suara pelan dengan hati-hati diucapkan oleh Max.


Stevie terdiam, kemudian memandang sopir yang disiapkan suaminya untuk mengantarnya kemana-mana itu. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Stevie mengiyakan laki-laki itu. Tanpa bicara., Stevie berjalan masuk ke dalam restaurant, dan Max hanya memandang punggung perempuan muda itu. Ada rasa syukur dalam hati laki-laki itu karena berhasil menemukan keberadaan nona mudanya. Max tidak tahu bagaimana nasib dirinya dan para penjaga, jika tidak berhasil menemukan perempuan muda itu,


Di dalam restaurant, Stevie memilih tempat duduk di pojok ruangan yang memiliki akses pandangan ke luar restaurant. Perempuan muda itu hanya memesan kopi hitam panas, dan french fries untuk teman duduknya. Tidak lama duduk, makanan dan minuman yang dipesannya sudah diantarkan oleh waiters ke tempat duduknya.


"Aku tidak boleh bersedih lagi, papa sudah menemukan jalan kebenaran. Papa Armansyah tidak akan lagi menjadi ancaman bagi kebahagiaan kak Andre dan kak Sandra, begitu juga dengan pernikahan papa dan mama kembali. Bagaimanapun papa Wijaya adalah papa kandungku, jadi akupun harus memikirkan kebahagiaan papa Wijaya.." setelah beberapa saat merenung, Stevie seperti menemukan pemecahan masalahnya sendiri.


Perempuan muda itu kemudian menyeruput kopi langsung dari cangkirnya, dan setelah meminum dua teguk, kembali Stevie meletakkan cangkir pada tempatnya semula. Tiba-tiba ponsel yang diletakkan di samping nampan berisi minuman dan makanan berdering, dan terlihat suaminya Alexander yang sedang melakukan panggilan.


"Ada apa kak Alex...?" agar tidak menimbulkan pertanyaan untuk suaminya, Stevie segera menerima panggilan tersebut.


"Syukurlah.. kamu ada dimana sayang. Aku mencarimu di kamar tidak ada, taman, dan semua tempat di rumah juga tidak ada, Maid mengatakan kamu dengan tergesa-gesa berjalan keluar dari dalam gerbang rumah, sedang dimana kamu..?" tanpa menghakimi, Alexander bertanya pada perempuan muda itu,


"Tadi mau pamit kak Alex takut mengganggu kak.. Mendadak Stevie ingin makan french fries di A & W Grill, juga steak disini. Akhirnya dengan ditemani Max, Stevie menuju ke restaurant ini tanpa mengajak kak Alex.." untuk tidak mengurangi kecurigaan suaminya, Stevie segera melakukan swa foto, kemudian dikirimkan ke nomor suaminya.


"Hmm... menarik sekali honey.. tunggu di restaurant itu, jangan kemana-mana. Aku akan segera menyusulmu ke restaurant, aku pikir kamu pergi ke mansion kak Andre untuk bertemu Altezza.." tanpa berpikir panjang, Alexander mengatakan akan menyusul istrinya, dan langsung mengakhiri panggilan. Stevie tersenyum kecut, dan sangat bersyukur karena Max tadi mengikuti dan menyusulnya ke restaurant ini. Jika tidak, maka akan terjadi kegegeran lagi dalam keluarganya, dan pastilah dirinya dan Alex akan diminta keluar dari negara ini oleh Andreas Jonathan.


**********


Di mansion Andreas Jonathan


Cassandra yang sedang hamil kedua, berjalan ke arah ruang kerja untuk mencari suaminya. Tiba-tiba saja, perempuan muda itu mengidam ingin menikmati steak, sehingga sekarang mencari suaminya agar diantarkan ke restaurant yang menjual steak tersebut.


"Honey... untuk apa naik sampai ke lantai dua seperti ini. Kenapa tidak telpon saja melalui ponsel, aku bisa ke bawah untuk menemuimu.." melihat istrinya yang sedang hamil berjalan memasuki ruang kerjanya, Andreas Jonathan langsung berdiri, dan mendatangi Cassandra.


"Ehmm... jika mencariku, biasanya istriku sedang memiliki keinginan. Apakah tebakanku tidak salah honey..?" seperti sudah hafal dengan peringai istrinya, Andreas Jonathan menebak apa yang dimaui oleh istrinya.


"He.. he.. he.., ternyata kak Andre bisa dan tepat menebaknya. Jujur kak Andre.. sejak tadi tiba-tiba saja, Sandra menginginkan steak yang ada di restaurant A & W Grill. Sudah lama bukan, kita tidak makan di luar, apalagi berdua. Kemanapun kita pergi, selalu ada Altezza di sisi kita.." Cassandra mulai merayu suaminya.


Andreas Jonathan tersenyum, dan menjentik pucuk hidung istrinya.


"Tidak usah menggunakan alasan Altezza honey.., biasanya yang selalu memaksa untuk mengajak Altezz bukan aku deh, sepertinya yang bicara tadi. Kemanapun selalu ingin ada Altezz ikut bersama kita.." sambil tersenyum, Andreas Jonathan menggoda Cassandra.


"He.. he.. he.., kak Andre bisa saja. Tapi memang sih, apa semua ibu muda akan seperti Sandra ya kak. Sangat sulit untuk dipisahkan dengan putra-putranya. Karena rasanya seperti ada yang hilang, jika putranya tidak ada di sampingnya. Tapi untuk kali ini.., tiba-tiba saja Cassandra ingin hanya kita berdua saja kak, malah inginnya sih kita pergi berdua naik motor.." gadis muda itu beralasan.


"Motor... no.., apakah honey tahu resiko apa dengan kehamilan seperti itu, pergi berboncengan motor berdua. Pakai mobil, jika pakai motor, aku tidak akan mengijinkanmu. Siapapun akan aku larang untuk mengantarkanmu bepergian  dengan mengendarai motor." Andreas Jonathan berbicara dengan nada agak tinggi.


"Ehmm... iya deh kak, kita pergi naik mobil saja. Jangan bicara keras lagi, jujur Sandra takut jika sudah melihat kak Andre marah-marah seperti itu.." mendengar kata-kata istrinya, Andreas Jonathan merubah wajah tegasnya. Laki-laki itu memeluk istrinya.


"I.m sorry honey..., ini bukannya aku tuh marah. Hanya saja, demi keamananmu juga semua anggota keluarga, tanpa sadar aku akan menunjukkan sikap seperti ini. Ayo kita berangkat siang, mumpung masih siang.. Karena semakin sore, udara di Inter Laken akan semakin dingin," sambil tersenyum, laki-laki muda itu kemudian berdiri dan mengajak istrinya untuk mengikutinya.


Tanpa berganti pakaian, pasangan suami istri itu bergandengan tangan menuju ke arah pintu keluar. Andreas Jonathan memberi isyarat pada sopir keluarga untuk menyiapkan mobil sport yang jarang digunakan laki-laki muda itu, ketika berada di Swiss. Karena hanya berdua, Andreas Jonathan ingin menggunakan mobil itu. Tidak lama kemudian...


"Tuan muda... mobil sudah siap untuk digunakan..!" sopir segera memberi tahu jika mobil yang akan digunakan, sudah siap di halaman.


Andreas Jonathan segera meraih tangan istrinya, dan membawanya menuju ke mobil yang sudah menunggu mereka.


*********