CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 226 Beradu pandang dengan Seseorang



Untuk mengurangi rasa dingin di pagi hari, tuan Wijaya dan nyonya Sheilla malah menemani cucunya Altezz bermain butiran salju di halaman depan mansion. Salju yang tidak begitu tebal ternyata menjadi pusat perhatian bocah kecil itu. Cassandra sebenarnya sudah melarang putranya untuk bermain di halaman, tetapi malah opanya bersedia menemaninya, Kali ini selain bermain salju, sesekali laki-laki tua itu melempar bola plastik ke arah cucunya, dan Altezza berlari sambil tertawa kegirangan. Nyonya Sheilla sesekali ikut berlari membantu cucunya untuk menghadang bolan,.


"Altezz berhenti saja disitu, oma yang akan ambil bolanya.." melihat Altezza dengan kaki kecilnya berusaha berlari, untuk mengambil bola yang menggelinding ke arah pintu gerbang, Nyonya Sheilla berteriak melarang anak kecil itu,


"Baik oma..." akhirnya Altezza berhenti sambil beristirahat. Nafas anak kecil itu terengah-engah, dan asap keluar dari dalam mulutnya ketika Altezza bernafas.


"Cucu opa... gerakkan tangan dan kaki ke kanan kiri. Ikuti opa, pasti rasa dinginnya akan menghilang dari tubuh kita.." Tuan Wijaya mengajari anak kecil itu gerakan-gerakan sederhana, Dari balkon di kamarnya, Cassandra melihat permainan mertua dan putranya itu sambil tersenyum.,


Ketika Nyonya Sheilla menunduk untuk mengambil bola, kebetulan pintu gerbang sedang terbuka karena Stevie dan Alexander baru saja keluar dengan menggunakan mobil. Mereka akan mencari beberapa kebutuhan di mall yang ada di Inter laken, terutama kebutuhan kosmetik. Tiba-tiba tatapan nyonya Sheilla tanpa sadar bertumbukan dengan seorang petugas yang berpakaian seperti seorang teknisi, dan terlihat sedang membetulkan jaringan listrik yang mengarah ke komplek mansion-mansion di tempat ini,


"Petugas listrik... apakah pemerintah terlalu ceroboh, sampai membiarkan listrik warga masyarakat mati.. Komplek pemukiman ini merupakan pemukiman elite, tetapi kenapa sampai ada petugas yang datang." melihat orang tersebut yang langsung mengalihkan pandangan ketika beradu pandang dengannya, Nyonya Sheilla menjadi bingung. Berbagai pertanyaan berseliweran di dalam benaknya,


"Dan tatapan petugas teknisi itu, seakan mengingatkanku pada tatapan seseorang. Tetapi tidak mungkin, paling hanya kebetulan saja. Orang itu terakhir melarikan diri ke luar negeri, tetapi masih di negara Asia. Tidak mungkin secepat ini, dan mereka memiliki dukungan sumber daya untuk datang ke Eropa. Bahkan sampai tahu tempat ini, impossible." kembali pikiran perempuan paruh baya itu berpikir sendiri.


"Sayang... apa yang membuatmu berhenti dan seakan melamun berpikir sendiri..." tiba-tiba teriakan Tuan Wijaya membuyarkan lamunan perempuan paruh baya itu. Perempuan itu segera mengangkat wajahnya sambil tersenyum, kemudian membawa bola plastik itu ke arah cucunya.


Altezza berlari menyambut bola yang sudah dibawakan oleh omanya, dan bocah kecil itu kembali menendang bola ke arah opanya. Tetapi pikiran nyonya Sheilla tidak berhenti memikirkan petugas teknisi, yang tatapan matanya sama persis dengan tatap mata Armansyah. Keberadaan Tuan Wijaya di sekitarnya, membuat perempuan itu ragu untuk mencari tahu lebih lanjut.


"Altezz..., oma akan beristirahat dulu sayang, lama-lama merasa dingin juga di luar mansion sejak tadi. Altezza masih mau bermain di tempat ini, dengan ditemani opa, atau ikut oma masuk ke dalam. Kita bisa minum air hangat, dan berendam air hangat sayang.." merasa tidak tenang, nyonya Sheilla mengajak cucunya untuk beristirahat.


"Iya Altezz.. opa ternyata juga sudah lelah. Kita istirahat dulu yukk, besok siang kita akan lanjutkan lagi bermainnya.." tuan Wijaya ikut mengajak bocah kecil itu.


"Baik opa, oma.. kita beristirahat dulu. Karena jika Altezz banyak berada di luar ketika salju turun, mommy juga akan memberi teguran pada Altezz.." akhirnya bocah kecil itu segera mengikuti oma dan opanya masuk ke dalam mansion.


***********


"Pergilah dulu Altezz, ikuti suster pengasuh. Oma dan opa juga akan membersihkan diri dulu di bath room. Sebentar lagi kita akan berjumpa di meja makan, bukannya Altezz juga sudah merasa lapar seperti opa.." Tuan Wijaya segera menanggapi tatapan cucunya.


"Mmmm baik opa..., oma, Altezz ikut suster dulu.." bocah kecil itu segera menerima uluran tangan dari suster pengasuh, dan keduanya segera masuk ke dalam kamar Altezza. Sebuah kamar yang sangat luas, dengan interior kamar yang tidak membosankan. Rasa hangat menerpa tubuh Altezza ketika bocah kecil itu masuk ke dalam kamarnya, karena heater yang terus menyala selama 24 jam ketika musim dingin.


"Suster.. Altezz mandi sendiri saja. Altezz sudah besar, suster menyiapkan pakaian saja untuk Altezz kenakan.." suster pengasuh yang akan mengikuti bocah kecil itu masuk ke dalam kamar mandi, ternyata dihentikan oleh Altezza. Sejenak perempuan muda itu ragu, dan menatap bocah kecil itu dengan pandangan ingin tahu.


"Benar suster... ALtezz sudah besar. lihat nih lengan Altezz, sudah mulai membesar kan, seperti yang sering terlihat di gym yang ada di layar televisi." dengan lucunya, Altezza menunjukkan lengan atas pada suster pengasuh.,


"Ha.. ha.. ha.., iya Altezz sayang... suster akan menyiapkan perlengkapan untuk Altezz. Ingat jangan lama-lama di dalam kamar mandi ya, meskipun terasa hangat karena ada heater dan air hangat, namun ALtezz bisa mengalami tremor jika berendam terlalu lama.." meskipun ada rasa khawatir, namun suster pengasuh membiarkan bocah kecil itu untuk masuk sendiri ke dalam bath room.


Dengan senyum senang, Altezza segera masuk kamar mandi kemudian menutup pintu dari dalam. Suster pengasuh segera melangkah ke Wardrobe, tempat penyimpanan pakaian bocah kecil itu. Meskipun masih kecil, tetapi di dalam wardobe banyak dipenuhi dengan pakaian branded dari banyak desainer terkemuka di berbagai negara. Ketika papanya Altezza, Andreas Jonathan sudah memutuskan untuk membawa keluarga kecilnya ke Swiss, semua perlengkapan putra dan istrinya sudah terisi penuh semua. Jadi, mereka datang ke Swiss hanya membawa pakaian beberapa potong saja.


Sebuah celana panjang, kaos panjang dengan sweater disiapkan oleh suster pengasuh. Tidak lupa, kaos kaki, tutup kepala atau kupluk juga ikut disiapkan. Karena Altezza masih berada di dalam kamar mandi, suster pengasuh duduk di sofa sambil menunggu bocah kecil itu keluar. Tiba-tiba pintu kamar Altezza dibuka dari luar, dan terlihat nona muda Cassandra masuk ke dalam kamar bocah kecil itu. Melihat kedatangan nona mudanya, suster pengasuh langsung berdiri dan merasa takut karena membiarkan Altezza berada di dalam kamar mandi sendiri.


"Nona muda... tuan kecil ALtezza sedang berendam sendiri di kamar mandi. Tadi saya akan menyertainya, tetapi tuan kecil menolak nona muda.." dengan rasa takut, suster pengasuh menjelaskan pada perempuan muda itu.


"Tidak apa suster.. Altezz juga semakin tumbuh dan berkembang. Merupakan hal yang bagus jika anak itu sudah memiliki rasa malu. Aku saja yang akan menunggu Altezza di sini, suster keluarlah untuk menyiapkan yang lainnya." dengan bijak, Cassandra menanggapi ketakutan suster pengasuh. Mendengar kata-kata nona mudanya, suster pengasuh menjadi merasa lega.


"Baik nona muda.. saya akan ke pantry untuk menyiapkan makanan untuk tuan kecil.." suster pengasuh segera keluar dari dalam kamar putra Cassandra dan Andreas Jonathan.


************