
Bandara Halim Perdana kusumah
Alexander segera masuk ke dalam melewati pintu akses private, dan langsung berjalan menuju tempat kedatangan private jet. Terlihat dari arah lapangan udara, Andreas Jonathan sedang berjalan dengan menenteng tas kecil tempat gadgetnya ditempatkan. Senyum lebar muncul di bibir suami dari Cassandra itu, dan ketika sudah berhadapan dengan Alexander, keduanya melakukan toss dan saling berpelukan.
"Hmm... punya nyali juga ternyata kamu Alex, untuk melamar adikku pada papa dan mama.. Aku sampai kaget, ketika papa memberitahukan padaku, juga Cassandra.." sambil menonjok lengan atas Alexander, Andreas Jonathan meledek laki-laki itu. Mereka berjalan berdampingan menuju ke pintu keluar.
"Takut keburu diambil laki-laki lain tuan muda.., juga karena dorongan dan semangat dari tuan muda yang selalu memotivasiku untuk menunjukkan tekad dan jiwa laki-laki Alex. Syukurlah tuan muda, tidak ada hambatan seperti yang semula Alex khawatirnya. Ternyata meskipun hanya sebagai asisten dari tuan muda, tuan besar Wijaya, dan juga Nyonya besar Sheilla menerima Alex dengan tangan terbuka. Alex betul-betul harus bersyukur dengan anugerah ini.." dengan rasa bangga, Alexander bercerita.
"Kamu pikir, keluargaku itu close minded, yang melihat orang dari pangkat, golongan, atau kekayaannya. Jika begitu, papa pasti sudah menolak kedatangan Cassandra dalam keluargaku. Kamu juga jangan rendah diri, meskipun hanya sebagai wakil CEO, asset dan juga hartamu melebihi kekayaan para pengusaha di negeri ini. Jangan bersembunyi di balik sifat tidak percaya dirimu.." Andreas Jonathan malah memberi teguran pada laki-laki itu.
"Siap tuan muda.., kita ambil pintu di sisi barat saja tuan muda. tadi di depan pintu kedatangan untuk customer umum, Alex lihat sangat ramai. petugas bandara berpesan padaku untuk ambil jalan di sisi kanan saja." Alexander memimpin jalan, laki-laki segera belok ke kiri begitu keluar dari area lapangan terbang. DI belakangnya, Andreas Jonathan mengikuti anak muda itu.
Tidak berapa lama, sampailah kedua anak muda itu di mobil yang diparkir Alexander tidak jauh dari pintu keluar mereka. Alexander menekan remote mobil, dan tidak lama kemudian kedua anak muda itu segera masuk mobil. Tanpa banyak bicara, mobil yang disetiri oleh Alexander langsung itu melesat di perjalanan menuju ke hotel tempat Andreas Jonathan dan keluarganya tinggal.
Begitu masuk ke dalam mobil, Andreas Jonathan segera memundurkan kursi mobilnya, dan laki-laki itu langsung duduk sambil merebahkan tubuhnya. Tidak lama kemudian CEO PT. Indotrex. Tbk itu sudah terlelap tidur. Alexander hanya dapat melihat sambil geleng-geleng kepala,
"Melakukan perjalanan maraton tanpa istirahat, memang sangat melelahkan. Aku sangat bersyukur, hanya karena rencana pernikahanku, tuan muda langsung terbang kembali menuju Indonesia, dan meninggalkan nona muda Cassandra dan Altezza." dengan tatapan prihatin, karena merasa kasihan ALexander berpikir sendiri.
"Aku akan selalu mengingat hal ini sampai kapanpun, ternyata tuan muda tidak hanya menganggapku sebagai asisten pribadinya saja, melainkan juga menganggapku sebagai anggota keluarganya. Bahkan sedikitpun tidak keberatan ketika aku akan menikahi Stevie, dan malah memberikan dukungan yang sangat besar."
Alexander dalam diam, terus menekan pedal gas melintasi jalanan ibukota. Untung saja, mereka saat ini sudah melewati jam kepulangan kerja, sehingga keramaian jalan sudah mulai berkurang. Laki-laki itu terus menginjak pedal gas, tetapi tetap menggunakan insting yang kuat untuk menerobos jalanan.
*******
Di Hotel
"Stevie.. apakah kamu tidak mau mendengarkan perkataan papa dan mama.. Mau kemana kamu, membaca gelagatmu, sepertinya kamu akan keluar meninggalkan hotel ini" dengan nada penuh peringatan, Nyonya Sheilla memberikan teguran pada putrinya.
"Hanya ke depan saja mam.., please.. Stevie janji deh, tidak akan lebih dari dua jam, ijin Stevie keluar untuk mengurus sesuatu. Berdasarkan informasi di reels Instagram, ada make up artist mom.., Stevie berencana akan menggunakan, dan akan mengatur janji ketemu dengan owner nya.." Stevie membuat alasan.
"Alasan saja kamu.. semua urusan pernikahanmu besok, dari fitting baju, KUA, catering dan semuanya sudah diurus semuanya oleh nak Alexander. termasuk juga MUA di dalamnya. Ingat kata-kata orang dulu Stevie.. darah calon pengantin itu manis, jadi tidak boleh pergi kemana-mana sebelum akad nikah itu berlangsung." Nyonya Sheilla membuat peringatan.
"Hanya beberapa saat saja masak tidak boleh sih mam.., jujur Stevie bored mam.. Di dalam hotel terus dari tiga haru yang lalu.." Stevie menyampaikan perkataan protes pada mamanya.
"Stevie.. dengan mama! Tinggal satu hari lagi, akad pernikahanmu akan terlaksana. Menurut informasi, kakak kandungmu Andreas Jonathan sudah dalam perjalanan pulang ke Indonesia. Nak Alexander yang akan menjemput kakakmu ke bandara.. bersabarlah." dengan nada tinggi, Nyonya Sheilla menegur putrinya.
Stevie hanya diam cengar-cengir, dan pelan-pelan gadis itu meletakkan kembali tas selempang pada tempatnya karena tidak mau membuat mamanya. Gadis itu sudah sangat hafal dengan tabiat mamanya, jika sudah marah tidak akan berhenti mengomel. Untuk itu, Stevie memutuskan untuk mengalah, dan memilih untuk menunggu kedatangan kakak kandungnya, dan bisa mengintip calon suaminya yang sedang menjemput kakaknya itu.
"Oh ya Stevie.. ngomong-ngomong apakah kamu bertemu papamu hari ini. Sejak tadi pagi, mama belum bertemu dengan papamu, tidak apa-apa kan. Sehat maksud mama.." tiba-tiba tidak diduga, Nyonya Sheilla bertanya tentang kabar papanya Stevie.
"Cie.. cie.. ada yang kangen nih, sudah mulai bertanya-tanya. Tenang mam... bentar lagi akan Stevie tengokkan papa di kamarnya, siapa tahu papa sengaja berada di kamar saja, hanya untuk membuat mama khawatir.. He.. he.. he.." seperti mendapatkan kesempatan, Stevie malah meledek mamanya.
"Hush.. apa yang kamu katakan, tidak baik meledek orang tua. Wajar bukan, jika setiap hari bertemu, tiba-tiba saja sejak pagi tidak melihat batang hidungnya. Sudah sana keluar.. cari papamu di kamarnya, tawarkan kita dinner di restaurant hotel saja." Nyonya Sheilla malah mengelak, dan meminta Stevie untuk mencari tahu keberadaan papanya.
"Okay... siap mama Sheilla sayang.. sekarang ya, ijin Stevie untuk mencari papa di kamarnya." dengan hati gembira, Stevie menyambut baik perintah dari mamanya.
Anak muda itu tidak menunggu lagi, segera mengambil ponsel yang sudah beberapa hari diminta mamanya untuk dimatikan, kemudian menyimpannya di saku sweater yang dikenakannya. Melihat putrinya yang terlalu bersemangat, Nyonya Sheilla hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya. Setelah putrinya keluar dari dalam kamar, perempuan paruh baya itu tersipu malu kemudian membereskan pakaian dan memasukkannya ke dalamĀ wardrobe. Untuk mengisi kesibukannya, nyonya Sheilla memang lebih suka menyusun sendiri pakaian itu.
*********