CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 246 Perpisahan



Stevie tergugu sendiri membaca pesan yang dikirimkan oleh Armansyah. Bagaimanapun jahatnya laki-laki tua itu, Armansyah punya peran dalam membesarkannya. Sejak bayi, begitu dilahirkan mamanya Sheilla, Stevie tidak mengenal laki-laki lain untuk dipanggil dengan sebutan papa, hanya laki-laki itu yang dipanggilnya sebagai papa. Pada saat Stevie kecil, Armansyah sangat baik dan dengan telaten mengajarkannya bagaimana cara merangkak, berjalan, berbagi mainan. Namun begitu, Stevie mencapai usia Junior School, perangai Armansyah mulai berubah. Hal itu dimungkinkan karena mamanya Sheilla belum bisa menerima laki-laki itu sebagai suami seutuhnya. Untuk menyalurkan rasa jengkelnya, laki-laki itu berubah menjadi keras dan sangat diktator. Tapi kali ini, mendapat kiriman pesan perpisahan dari laki-laki itu, Stevie menjadi teringat semua kebaikan Armansyah.


"Aku harus menemui papa, meskipun hanya untuk yang terakhir kalinya. Aku tidak boleh egois, meskipun kak Andre dan kak Alex tidak akan pernah mengijinkanku, aku harus mencari cara untuk bertemu dengannya," Stevie memiliki tekad bulat.


"Papa... untuk terakhir kalinya, tolong dengarkan permohonan Stevie. Saat ini juga, Stevie akan pergi meninggalkan rumah dengan menggunakan taksi. meskipun hanya beberapa menit, Stevie bisa bertemu dengan papa Armansyah, Stevie akan merasa tertunaikan. Stevie akan menuju ke jalan lintas utama Inter Laken, tolong papa berhenti di sana. Ada restaurant A & W Grill, tunggu Stevie disana papa.." begitu selesai mengetik pesan pada ponselnya, Stevie segera bersiap.,


Tanpa bersolek, dengan mengenakan celana jeans, kaos dengan sweater sebagai cardigan di luarnya, Stevie mengambil tas selempang, dan memasukkan ponsel ke dalamnya. Melihat suaminya masih berada di dalam ruang kerja, gadis muda itu sengaja tidak berpamitan. Stevie berjalan mengendap, dan sambil memesan Uber Taxi, gadis muda bergegas berjalan keluar.


"Selamat siang nona muda.. apakah saya antarkan nona muda..." ketika Stevie akan keluar dari pintu gerbang, sopir rumah itu bertanya pada istri dari tuan mudanya,


"Tidak perlu, aku hanya ke depan sebentar,. Ada barang yang akan aku cari di toko kelontong yang ada di ujung jalan, tidak perlu ikuti aku.." dengan tegas, Stevie menolak tawaran itu. Sopir dan dua penjaga saling berpandangan, tetapi mengingat keberadaan tuan Alexander juga sedang berada di dalam rumah, akhirnya mereka menepis kekhawatiran mereka.


"Baik nona muda.., hati-hati di jalan. Jika terjadi sesuatu, segera kirim pesan ke kami nona, secepatnya kami akan meluncur untuk mengikuti nona muda.." sopir itu akhirnya mengiyakan.


Baru dua langkah keluar dari pintu gerbang, ternyata Uber Taxi yang dipesan gadis itu sudah datang dan berhenti tepat di depan gerbang. Mata Stevie berbinar, segera gadis muda itu mempercepat langkahnya menuju ke arah taksi tersebut,


"Selamat siang.. apakah dengan nona Stevie,. dengan tujuan ke jalur lintas Inter Laken.." dengan ramah, sopir taksi menyapa gadis itu.


"Iya pak, saya Stevie.. tolong percepat jalannya mobil untuk mengantarkan saya." gadis muda itu segera masuk ke dalam mobil, dan setelah penumpang naik ke dalam mobilnya, sopir taksi segera menginjak pedal gasnya.


Melihat nona muda mereka naik ke dalam Uber taksi, sopir dan para penjaga itu kaget dan saling berpandangan. Dengan cepat, sopir berlari ke arah mobil, untuk mengikuti lajunya mobil yang membawa Stevie pergi.


"Kejarlah Max... jangan sampai ketinggalan, Nyawa kami ada padamu Max, kami tidak tahu jika tuan Alexander mengetahui jika istrinya pergi dengan mengendarai Uber Taksi." dengan panik, dua penjaga itu berpesan pada sopir rumah itu.


Laki-laki yang dipanggil dengan sebutan Max itu segera menginjak pedal gas, dan berusaha mengikuti taksi yang membawa pergi nona mudanya.


*********


Beberapa saat kemudian..


"Papa Arman...." tiba-tiba terdengar suara Stevie memanggil Armansyah dari pinggir jalan. Ternyata gadis muda itu sudah sampai di tempat yang mereka janji ketemu. Armansyah langsung membuka pintu mobil, kemudian keluar dan berlari ke arah Stevie,


"Stevie putriku... ini papa Stevie.." laki-laki tua itu memeluk putrinya, dan tanpa merasa sungkan maupun takut, Stevie membalas pelukan papanya dengan erat. Setelah beberapa saat, Armansyah melepaskan pelukan dari putrinya..


"Terima kasih Stevie.., kamu tidak melupakan papa sayang. Ternyata kamu masih mengakuiku sebagai papamu, meskipun sudah ada Wijaya papa kandungmu..." dengan suara parau, Armansyah berbicara pada putrinya.


"Papa Arman tetap seorang papa bagi Stevie.. demikian juga dengan papa Wijaya. Kalian berdua sama-sama punya nilai masing-masing di hati Stevie pa.." gadis muda itu berucap lirih. Keduanya saling bertatapan..


"Ada baiknya kita berbincang di dalam restaurant papa, disini banyak yang melihat perbincangan kita.." menyadari posisi mereka saat ini, Stevie mengajak papanya untuk duduk di dalam restaurant.


"Maafkan papa Stevie.., papa harus bergegas untuk menghindari kejaran Sandrina dan suami barunya. Mumpung ada Chakram, laki-laki baik yang akan membantuku melepaskan semuanya, semua kehidupan ini. Papa akan mencoba untuk terlahir kembali sebagai Armansyah yang baru. Papa sangat bahagia, karena di detik akhir papa akan mulai mengasingkan diri, ternyata putriku Stevie masih menyayangiku." dengan mata berlinang, Armansyah terus memandang Stevie dengan tatapan tidak percaya.


"Kenapa papa harus pergi dari kehidupan Stevie pa,.. aku akan mencoba untuk merayu dan meyakinkan kak Andre.. pa. Kita bisa hidup berdampingan, rukun tanpa saling mengganggu." Stevie mencoba merayu papanya untuk membatalkan niatnya.


Laki-laki itu tersenyum, kemudian meletakkan kedua tangannya di bahu gadis muda itu.


"Stevie.. papa masih ada dan hidup di dunia ini. hanya saja, dengan petunjuk Chakram, laki-laki muda yang berada di belakang kemudi itu, papa akan menuju ke desa Maureen. Papa akan menenangkan diri disana Stevie, akan healing, dan melupakan gemerlap duniawi. Papa akan menjalani sebuah kehidupan, sebuah babak baru dalam kehidupan di masa depan. Doakan papa bisa melewatinya putriku..." kembali Armansyah menjelaskan,


Stevie terdiam, seperti tidak percaya dengan ucapan yang didengarnya. Tetapi Armansyah menepuk pelan bahu putrinya, kemudian..


"Papa tidak akan bisa behenti lama disini Stevie.., terima kasih sudah mau menemui papa untuk terakhir kalinya. Jika masih ada umur panjang, dan kita berjodoh, Tuhan pasti akan mempertemukan kita kembali.. Yakinlah Stevie.." Armansyah kembali memeluk putrinya, dan memberikan kecupan di pucuk kepala Stevie.


Perlahan laki-laki tua itu melepaskan pelukan, dan Stevie hanya menatap papanya berjalan meninggalkannya sambil berurai air mata.


********