
Stevie dan Alexander ternyata membawa kedua putra Andreas Jonathan dan Cassandra, ke play ground yang ada di roof top. Pasangan suami istri itu membiarkan kedua ponakannya bermain, dan mereka melihat serta mengawasinya dari tempat duduk mereka. Pasangan itu meminta mama Dhini untuk duduk bersama dengan mereka, namun perempuan paruh baya itu memilih untuk dekat dengan kedua cucunya.
"Kak Alex... mengenai rencana Stevie untuk melahirkan di pulau Bali, apakah kak Alex masih menyetujuinya.." tiba-tiba Stevie bertanya pada suaminya. Laki-laki muda itu kemudian mengalihkan tatapan matanya, dan melihat ke arah istrinya.
"Sayang... yang akan melahirkan adalah kamu, disini peranku hanya membuatmu tetap merasa nyaman. Jika memang Stevie merasa yakin dan nyaman untuk melahirkan di pulau Bali, aku pasti akan mendukungmu. Namun.. jika Stevie ingin melahirkan di negara Swiss, ataupun di negara lainnya, akupun akan mengikutimu sayang." sambil menatap mata istrinya, ALexander berbicara.
Stevie terdiam, dan terlihat jika gadis muda itu merasa bingung, dan hal itu terlihat jelas dari tatapan matanya. Alexander yang sangat mengenali bagaimana perangai istrinya, bisa mengenalinya saat itu juga..
"Apakah kamu merasa bingung saat ini Stevie.., dan apakah kamu merindukan kehadiran mama Sheilla. Jika kamu ingin berada di pulau ini, saat ini juga aku akan memanggil mama Sheilla dan papa Wijaya untuk datang ke pulau ini. Jadi.. tenangkanlah hatimu, jangan bertindak resah.." dengan lembut, Alexander melanjutkan kata-katanya.
"Bukan hanya mama dan papa.. kak. Stevie juga ingin, ada kak Sandra di samping Stevie ketika nantinya Stevie melahirkan putra kita. Dengan adanya kak Sandra, tidak tahu kenapa.. hati Stevie menjadi lebih tenang kak.. Apakah kak Alex mengijinkannya..?" dengan penuh harap, Alexander dapat melihat dari tatapan mata istrinya.
Laki-laki muda itu mengambil nafas dalam, karena mengingat hubungan istrinya dengan Andreas Jonathan, meskipun mereka kakak beradik kandung, namun hubungan mereka tidak begitu akrab. Dan untuk bisa menahan keberadaan Cassandra di pulau ini, harus dengan sepersetujuan dari suaminya, Alexander terdiam untuk beberapa saat.., sampai akhirnya..
"Kak Alex,.. apakah permintaan Stevie ini terlalu merepotkan.. Jika iya, Stevie ikut saja dengan kemauan kak Alex. Dimanapun Stevie siap untuk melahirkan putra kita.." melihat suaminya terdiam untuk beberapa saat, Stevie merasa khawatir. perempuan muda itu akan membatalkan kata-kata yang baru saja diucapkannya itu.
"Janganlah pesimis seperti itu sayang... apapun yang kamu inginkan, akan aku turuti. Aku akan membicarakan hal ini dengan Cassandra, karena khawatir dengan berakhirnya acara family gathering perusahaan, kak Andre dan Cassandra sudah berpikir untuk kembali ke Swiss.." akhirnya Alexander menyatakan kesanggupannya.
Wajah Stevie berubah menjadi cerah mendengar kesanggupan yang diucapkan oleh suaminya. Tiba-tiba tanpa mereka sadari, Cassandra sudah berdiri di belakang pasangan suami istri itu. Cassandra sudah mendengar semuanya, dan hanya tersenyum mendengar permintaan dan keinginan dari adik iparnya itu. Tapi baru saja Cassandra akan menyapa pasangan suami istri itu, tiba-tiba...
"Kak Alex... kenapa tiba-tiba perut Stevie merasa mulas kak.. Kenapa ini.." Stevie berbicara panik pada suaminya, dan gadis muda itu terlihat memegang perutnya. Melihat reaksi yang ditunjukkan oleh adik iparnya, Cassandra mencoba bersikap tenang, kemudian...
"Jangan panik Stevie.., kak Alex.. saat ini juga, kita harus membawa Stevie ke rumah sakit kak. Sepertinya putra kalian berdua sudah akan terlahir ke dunia ini, bergegaslah.." Cassandra segera membuat pengaturan.
Laki-laki muda itu segera mengangkat ponsel, meminta agar helikopter bersiap di hanggar hotel Bulgari. Cassandra segera memberi isyarat pada mama Dhini dan Armand untuk mengamankan kedua putranya.
***********
"Atur nafasmu Stevie.., ambil nafas dalam kemudian hembuskan. Akan bisa mengurangi rasa nyeri yang ditimbulkan dari proses kontraksi dalam rahimmu.." Cassandra memberikan arahan pada Stevie, dan perempuan itu segera mengikuti intruksi yang diberikan oleh kakak iparnya.
"Kita ke UGD dulu ataukah langsung ke ruang proses persalinan.." petugas rumah sakit bertanya pada ALexander yang terlihat bingung sambil mendorong kursi roda, dengan Stevie di atasnya.
"Ruang proses persalinan saja, dan aku harap dokter terbaik sudah siap berada di rumah sakit ini. Aku tidak mau mendengar alasan yang lain.." Alexander berpikir, karena rumah sakit ini sudah sekaliber rumah sakit maju dengan standar internasional, tidak ada lagi alasan dokter sedang tidak berada di tempat.
"Jangan khawatir tuan, Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi selalu ready 24 jam di rumah sakit ini, begitu juga dengan spesialis yang lainnya." jawaban petugas rumah sakit itu, sedikit membuat lega hati Cassandra dan Alexander. Mereka terus mengikuti langkah petugas rumah sakit tersebut, dan di sebuah ruangan yang terlihat mewah, petugas rumah sakit membawa mereka masuk.
Begitu tiba di dalam ruangan, dengan sigap dan cekatan, petugas rumah sakit segera meminta Alexander untuk membaringkan Stevie di ranjang yang ada di dalam. Tanpa membantah, Alexander melakukannya. Satu petugas rumah sakit terlihat sedang melakukan panggilan pada dokter yang bertugas, dan tidak lama kemudian dokter spesialis Obgyn segera datang.
"Hi... selamat siang, mohon untuk menyingkir dulu ya semuanya. Hanya suaminya saja yang bisa berada disamping istrinya yang akan melahirkan. Saya mohon, yang lainnya untuk keluar dulu.." mendengar perkataan dokter tersebut, Cassandra segera tahu diri. perempuan itu segera mundur, kemudian masuk ke dalam ruang transit yang ada di samping ruang tindakan itu,
Beberapa saat Cassandra menunggu, dan sesekali terdengar rintihan Stevie, dan terkadang jeritan dari dalam kamar tindakan. Perempuan muda itu ikut menggigit bibirnya, ketika mendengar Stevie merintih kesakitan. Cassandra seperti teringat pada saat pertama kali melahirkan Altezza, ketika Andreas Jonathan datang dan menyatakan jika bayi dalam kandungannya itu adalah janin darinya, barulah anak itu mau keluar dari dalam rahimnya.
"Honey... kenapa datang ke rumah sakit tanpa minta ijin atau memberi tahuku..?" tiba-tiba terdengar suara suaminya Andreas Jonathan bertanya padanya.
Cassandra yang terlihat pucat karena seperti ikut merasakan seperti yang dirasakan Stevie, mengangkat wajahnya ke atas. Melihat wajah pucat istrinya, Andreas Jonathan langsung mendekat dan dengan sigap memeluk istrinya.
"Tidak perlu kamu khawatirkan Stevie sampai seperti ini honey.., ayo kita keluar dari tempat ini.." berpikir jika istrinya merasa khawatir dengan adik kandungnya, Andreas Jonathan mengajak Cassandra untuk berpindah tempat.
"Tidak kak, kasihan Stevie.. tadi gadis itu meminta Sandra untuk menemaninya. Tapi ketika dokter datang, hanya kak Alex yang dibolehkan bersama dengan Stevie di dalam, akhirnya Sandra menunggu di kamar itu. Bukan karena Stevie kak, tiba-tiba jeritan Stevie seperti mengingatkan Sandra kala melahirkan ALtezza." mendengar ucapan istrinya, Andreas Jonathan memeluk istrinya lebih erat,
**********