CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 108 Kekurangan dan Kelebihan



Jennifer dan Nyonya Sandrina bergegas keluar dari dalam apartemen dan langsung menuju ke arah basement untuk mengambil mobil Jennifer. Beberapa langkah sebelum sampai ke mobilnya, Jennifer sudah menekan remote mobil, dan menimbulkan bunyi jika central lock terbuka. Sambil menyeret trolly bag, kedua perempuan itu tampak tergesa-gesa berjalan menuju ke mobil, kemudian langsung membuka pintu mobil bagian tengah.


"Tante.. biar cepat masukkan trolly ke kursi tengah saja, lagian di bagasi tidak akan cukup tante, Kita harus segera bergegas.." Jennifer segera mempercepat gerak mereka. Berhadapan dengan keluarga Wijaya, dan jika Andreas Jonathan sudah turut campur tangan, maka ruang gerak mereka akan semakin terbatas. Untuk itu, saat ini pergi jauh meninggalkan Jakarta merupakan cara praktis untuk menjauh dari laki-laki itu.


"Sebentar lagi Jenni.. kamu nyalakan dan panaskan mobil dulu saja, tante baru memasukkan ke dalam mobil." sambil mengatur dan mendorong trolly, Nyonya Sandrina menjawab perkataan Jennifer. Setelah merasa jika trolly bagnya sudah bisa terdorong ke belakang, Nyonya Sandrina segera menutup pintu, dan dengan cepat segera menuju ke kursi depan.


Begitu Nyonya Sandrina sudah masuk ke dalam mobil, Jennifer segera menginjak pedal gas, dan mobil itu langsung melesat turun menyusuri basement parkir yang berliku-liku. Setelah beberapa saat mengemudi, Jennifer melihat palang pintu penghalang parkir dalam keadaan menutupi jalannya. Dalam kondisi tergesa-gesa. Jennifer lupa dimana menyimpan acces parkirnya.


"Tante.. Jenni lupa menyimpan acces parkir, sepertinya tertinggal di kamar Jenni tante.." Jennifer terlihat panik, dan melihat ke arah perempuan yang duduk di sampingnya.


"Kita tidak mungkin akan berputar lagi Jenni.. karena kita dikejar oleh waktu. Bagaimana jika kamu terjang saja penghalang itu dengan mobilmu, paling tidak akan begitu parah efeknya." menghitung kemungkinan waktu untuk mencari kembali acces parkir tidak akan sampai waktunya, Nyonya Sandrina mengusulkan sebuah ide gila.


"Good ide tante.. terima kasih masukannya." Jennifer bersiap-siap menginjak pedal gas, dan setelah menyiapkan hati dengan menghirup nafas panjang, gadis itu menjadi seperti orang gila, Pedal rem diinjak sedalam mungkin, dan mobil melaju dengan cepat ke depan,


"Duarr... brakk.." suara keras papan yang patah terdengar, namun tidak dihiraukan oleh kedua perempuan itu. Terlihat di depan mereka, petugas parkir dan petugas keamanan berlarian keluar melihat keadaan, namun karena kedua perempuan itu menggunakan mobil, sehingga orang-orang itu tidak mampu untuk mengejarnya,


Seperti orang kesetanan, Jennifer dengan gesit mengemudikan mobil di jalanan. Begitu ada akses kosong, dengan cepat gadis itu menyelinap. Duduk di samping gadis itu, Nyonya Sandrina terombang ambing badannya mengikuti arah mobil bergerak, namun perempuan itu sudah tidak mempedulikannya lagi.


"Kenapa kita tidak masuk toll di sisi sana saja Jenn.. kita akan lebih cepat melaju melarikan diri dari kota ini," Nyonya Sandrina membuat arahan.


"Di depan tante, karena kita harus putar balik dulu jika kita masuk dari arah sini." sambil fokus mengemudi, Jennifer menanggapi perkataan perempuan paruh baya di sampingnya itu.


Tanpa berbicara lagi, Jennifer mengarahkan mobilnya lurus, namun ketika mau masuk ke gerbang toll gadis itu merasa ragu-ragu. Tampak beberapa petugas polisi berseragam terlihat sedang menghentikan mobil yang akan memasuki gerbang. Namun karena sudah tidak memungkinkan untuk putar balik, Jennifer tetap lanjut mengemudi.


"Pritt... stop, dan silakan minggir.." tiba-tiba polisi membunyikan peluit dan berdiri menghadang mobil yang dikemudikan Jennifer. Tidak ada pilihan lain bagi gadis itu, selain menghentikan mobil dan mengikuti arahan polisi.


********


Cassandra dan Andreas Jonathan terlihat berjalan dengan raut wajah gembira, karena tuan besar Wijaya sudah diijinkan untuk kembali ke rumah. Dan karena suster pengasuh dan beberapa ART sudah datang ke Pent House, kali ini pasangan suami istri itu meninggalkan Altezza bersama dengan mereka. Terlihat Alexander sudah menghadang pasangan suami istri itu, dan tersenyum dengan sikap hormat menyambut kedatangan mereka.


"Tuan muda.. administrasi keuangan sudah dibereskan, kita tinggal membawa tuan Wijaya untuk pulang ke mansion PIK II." Alexander melaporkan.


"Bawa ke Pent house, aku tidak mau ada resiko dengan mansion. Jual pada pihak lain mansion tersebut, aku tidak ingin ada aura negatif yang masih tertinggal dan akan mengikuti kita. Jual semua asset beserta isinya dengan harga berapapun." dengan tegas. Andreas Jonathan memerintahkan untuk menjual mansionnya.


Andreas Jonathan memang selalu berpikir praktis, dan tidak mau mengambil resiko sedikitpun. Begitu mengetahui ada sesuatu yang cacat, laki-laki itu tidak segan untuk menghancurkan bahkan menjual semua asset dengan harga murah, jauh di bawah harga pasar.


"Siap tuan muda.., dan sekalian melaporkan jika.nyonya besar Sandrina dan nona muda Jennifer sudah kami tangkap. Saat i i sudah kami serahkan semua urusan pada pihak kepolisian di area Jakarta Utara. Rupanya kedua perempuan itu akan keluar kota untuk melarikan diri." Alexander melanjutkan laporannya.


"Urus semuanya dengan cepat dan silence.. aku tidak mau lagi mendengar dua cecurut itu menghantui hidup keluargaku. Jika perlu habisi mereka.." tanpa ekspresi, Andreas Jonathan membuat perintah. Setelah selesai berbicara, laki-laki itu kemudian berjalan meninggalkan Alexander dengan merangkul Cassandra.


Berjalan di samping laki-laki arogan itu, Cassandra hanya diam tidak memberikan komentar sedikitpun. Hidup bersama dengan Andreas Jonathan beberapa waktu dan lingkungannya, ternyata turut berpengaruh membentuk karakternya. Jika itu terjadi di masa lalu, Cassandra pasti akan merengek memintakan pengampunan untuk ibu mertuanya. Namun kali ini.. karena sudah melampau garis batas kesabarannya, Cassandra malah berpura-pura tidak mendengarnya.


"Honey.. are you okay..?" sejak tadi tidak mendengar suara istrinya, sambil berjalan, Andreas Jonathan bertanya pada gadis yang berjalan di sampingnya.


"Fine.. memang ada yang aneh kak, sampai kakak bertanya tentang hal itu pada Sandra." melihat tatapan suaminya yang tidak seperti biasanya, Cassandra malah balik bertanya.


"Seperti ada sesuatu yang lain saja, kali ini aku tidak mendengar rengekanmu untuk minta ampun atas kesalahan seseorang.." ucap Andreas Jonathan tiba-tiba sambil tersenyum,


"Hal yang aneh saja kak.. ketika keluarga Sandra akan disakiti, tetapi malah Sandra memintakan pengampunan untuk pelakunya. Mungkin jika dalam hal ini, hanya Sandra yang dijadikan target kak, Sandra akan diam dan akan merayu pada kakak untuk kebebasan dua perempuan itu. Tapi kali ini sudah ada Altezz, ada kak Andre, dan ada papa Wijaya yang juga harus menjadi prioritas Cassandra kak.." panjang lebar, Cassandra menanggapi perkataan suaminya.


Mendengar perkataan Cassandra, muncul rasa haru pada diri Andreas Jonathan. Laki-laki baru merasa yakin dan mantap, jika gadis di sampingnya itu sudah menerimanya secara utuh. Semua kelebihan, maupun kekurangan sudah bisa diterima oleh gadis itu.


*********