
Seperti biasa, Andreas Jonathan masuk ke kantor seperti biasanya tidak melihat siapapun. Bahkan bertemu dengan Cassandra, padahal semalam sampai jam 11-an malam, mereka masih berada di apartemen gadis itu, pagi inipun laki-laki itu terlihat cuek dan mengabaikan. Mereka seperti belum saling mengenal sebelumnya, betul-betul mencerminkan bagaimana hubungan seorang atasan dengan bawahan. Cassandra juga mengabaikan laki-laki itu, dia tampak memfokuskan dirinya melihat berkas yang ada di atas meja kerjanya.
"Morning Sandra.. bagaimana istirahatmu semalam.. tidak bangun terlalu siang bukan.." berbeda dengan CEO perusahaan, Alexander menyapa gadis itu dengan ramah.
"Morning tuan Alex.., sedikit kesiangan sih bangunnya, tapi tidak terlambat kok tuan.. sampai kantornya.." sambil tersenyum, Cassandra membalas keramahan wakil CEO perusahaan.
"Good job Sandra.. I.m trust you... Agenda penting hari ini kira-kira ada schedull bertemu client tidak, atau ada jadwal meeting terschedull.. saya agak lupa hari ini.. Semalam dari apartemenmu.., masih menemani tuan muda nongkrong di bar sampai menjelang pagi. Ngantuk aku sekarang.." Alexander mendekat ke meja gadis itu.
Cassandra mengamati Gant Chart untuk melihat schedull hari ini. Pukul sebelas siang, bertemu dengan rekan bisnis dari SIngapore yang akan berkunjung ke perusahaan. Pukul 1.30.. menghadiri undangan dari KADIN Jakarta Pusat, untuk kemungkinan membangun kemitraan dengan UMKM.
"Tuan Alex.. untuk agenda keluar perusahaan, ada di jam sebelas siang. Client tuan muda dari Singapore akan datang berkunjung ke gedung ini. Sedangkan di jam 13.30 ada undangan dari KADIN, mohon tuan Alexander mengingatkan tuan muda.." Cassandra tanpa sadar menyuruh Wakil CEO itu untuk berbicara dengan Andreas Jonathan.
Sambil tersenyum, Alexander mengerutkan dahinya kemudian berjalan lebih mendekat ke meja Cassandra. Gadis itu bingung dengan sikap yang ditunjukkan oleh bosnya itu, namun tiba-tiba..
"Sandra.. apakah kamu lupa, saat ini kamu sedang menyuruh siapa... Bukankah menjadi tugasmu untuk mengingatkan tuan muda akan schedull hari ini.." kata-kata yang diucapkan Alexander, seakan menampar wajah gadis itu. Dengan muka pias, Cassandra menatap balik mata Alexander, kemudian...
"Maaf beribu maaf tuan Alex.. Sandra suka keterusan.. Sebentar lagi, Sandra akan sampaikan pada tuan muda akan acara ini. Sekali lagi maaf tuan Alex.." Alexander tersenyum menatap kegugupan gadis itu, tanpa sadar laki-laki itu mengusap pucuk kepala Cassandra. Ternyata ada hiburan tersendiri ketika menggoda Cassandra, gadis itu tampak bertambah cantik dengan wajah pias seperti itu.
"Lupakan.. sampaikan pada tuan muda tentang schedull hari ini. Aku akan ke ruangan dulu.." ALexander kemudian berjalan meninggalkan Cassandra.
Sepeninggalan laki-laki itu, Cassandra mengambil nafas lega, karena dia masih sering terbawa sikapnya yang cenderung kekanak-kanakan, sama seperti ketika masih bergabung dalam organisasi kemahasiswaan. Tanpa menunda lagi, Cassandra mengambil buku memo kemudian berjalan menuju ke ruang kerja Andreas Jonathan.
"Tok..., tok.., tok..." ketukan pintu tiga kali dilakukan gadis itu ketika berada di depan ruang kerja CEO.
"Masuk.." terdengar suara tegas dari dalam ruangan, dan Cassandra segera menghampiri laki-laki itu yang sedang duduk di belakang meja kerjanya, Melihat kedatangan gadis itu ke dalam, Andreas Jonathan terus melihat pada Cassandra sampai gadis itu berada di depan meja kerjanya.
"Tuan muda.. mau menginformasikan dua agenda penting yang harus dihadiri tuan muda hari ini.." tanpa basa-basi, Cassandra menyampaikan agenda yang tadi juga diberitahukan pada Alexander.
Andreas Jonathan diam tidak menanggapi perkataan Cassandra, laki-laki itu malah terus menatap pada gadis itu.
"Apakah kamu melupakan janjimu Sandra.. sepertinya baru tadi malam ada yang sudah menjadi kesepakatan kita.." pertanyaan dari laki-laki itu mengejutkan Cassandra. Dia sama sekali tidak mengira, jika perkataan tadi malam itu akan menjadi sesuatu yang serius.
"Maksud tuan muda.. sandwich panggang kah..?" dengan suara pelan, Cassandra mencoba menanggapi perkataan dari CEO itu, yang masih terus menatapnya.
"Dan celakanya tuan muda.. Sandra pagi ini tidak membuat sandwich karena tadi kesiangan. Sandra hanya membuat nasi goreng saja.." lanjut gadis itu, tanpa berani menatap balik ke wajah tuan mudanya.
"Bisa-bisanya kamu melupakan dan tidak mengingat apa yang aku minta Sandra.., cepat bawa kesini nasi gorengnya. Siapkan juga black coffee dengan brown sugar..." kata-kata tegas yang keluar dari mulut Andreas Jonathan, seakan memberi perintah yang tidak bisa dibantah oleh Cassandra.
"Baik tuan muda.." Cassandra segera bergegas kembali keluar ruangan, dan menuju ke meja kerjanya.
Mengingat jika tidak ada perlengkapan untuk makan tuan mudanya, Cassandra menghubungi bagian pantry untuk menyiapkan peralatan makan di meja kerjanya. Untungnya tadi semua nasi yang ada di magic com, semuanya digoreng sehingga cukup untuk makan bertiga.
*********
Dua piring, sendok dan garpu tertata rapi di ruang kerja tuan muda. Cassandra masih sibuk dengan coffee maker, karena dia sendiri yang menyiapkan kopi untuk tuan muda dan tuan Alexander. Tidak lama kemudian, dua laki-laki itu sudah duduk di depan meja, dan siap untuk menikmati nasi goreng buatan Cassandra.
"Sandra.. kenapa hanya ada dua piring disini.., apakah kamu sendiri sudah sarapan..?" Alexander heran melihat perlengkapan makan yang hanya disediakan sejumlah dua orang.
"Nanti Sandra makan di meja kerja sendiri saja tuan.., yang di ruangan ini tuan muda dan tuan Alex saja. Ini kopinya juga sudah selesai.." Cassandra segera bergegas membawa dua cangkir kopi kemudian meletakkan di depan Andreas Jonathan dan ALexander.
"Oh begitu.. baiklah.." sahut Alexander langsung mengambil satu cangkir, kemudian mulai menyesap minuman tersebut.
"Tidak boleh begitu.., apakah kamu pikir kami berdua ini tukang palak, yang memaksamu membuat sarapan untuk kami. Namun.. kamu sendiri tidak menikmatinya.. jangan banyak bicara, minta bagian pantry untuk membawa satu piring lagi. KIta makan bertiga di ruangan ini.." tiba-tiba suara tegas Andreas terdengar di telinga Cassandra.
Tanpa banyak bicara, dan tidak menunggu Cassandra beraksi, Alexander sudah mengangkat telpon dan meminta petugas pantry untuk menyiapkan perlengkapan makan untuk gadis itu. Cassandra terdiam, dia hanya duduk di samping tuan Alexander. Tidak lama kemudian, Jarwo petugas pantry mengetuk pintu dan masuk dengan membawa seperangkat peralatan makan. Mereka kemudian mulai menuangkan nasi goreng ke piring mereka masing-masing.
"Hmmm..." Andreas berhenti mengunyah, laki-laki itu merasa takjud dengan rasa nasi goreng sederhana itu. Namun maskipun sederhana, tetapi rasa bumbunya sesuai dan cocok dengan seleranya.
"Wow.. delicious... pintar memasak kamu Sandra.." tidak seperti tuan muda, Alexander langsung memuji langsung masakan gadis itu.
"Tuan Alex bisa saja jika merendahkan Sandra.. hanya pakai bumbu dapur biasa saja tuan. Untuk pelengkap, Sandra tambahkan sausage dan telur ceplok saja.." dengan wajah malu, Cassandra menanggapi ucapan Alexander,
**********