
Sandrina dan Jennifer tidak tahu kenapa, melihat ada dua orang yang menarik tangan mereka, bukannya menolak. Tapi kedua perempuan itu segera melangkahkan kaki mereka, mengikuti dua orang yang membawanya. Dalam hati, terutama Sandrina masih merasa beruntung mengikuti dua orang tersebut, daripada harus mengikuti Thanom dan Arron yang sudah jelas-jelas akan menjual mereka pada laki-laki hidung belang, Dalam benak mereka, melarikan diri dari dua orang Thailand yang sudah lama mereka tinggal bersama, menjadi cara untuk membebaskan diri dari cengkeraman dua laki-laki itu.
"Tante.. apa yang kita lakukan tant.. kita tidak mengenal mereka? Bagaimana kita bisa dengan tanpa penolakan, mengikutinya.?" merasa terkejut dengan respon Sandrina, Jennifer bertanya pada perempuan paruh baya itu.
"Menurutlah dengan Jenni.., bagaimanapun menurutku, dan juga insting dalam hatiku, masih akan jauh lebih baik pergi mengikuti orang-orang yang menyerang Arron dan Thanom. Daripada kita harus terperosok jauh dengan manusia biadab itu.." takut ucapannya terdengar oleh orang-orang yang membawa mereka, Sandrina berbisik di telinga Jennifer.
Akhirnya gadis muda itu terdiam, ketika sudut matanya melirik ke arah mobil yang sudah ada Arron dan Thanom, terlihat dua laki-laki itu sedang beradu perkelahian dengan orang-orang yang menyerang mereka. Tiba-tiba dari arah samping apartemen, terlihat ada tiga orang anak buah Arron berlari dan bergabung untuk membantu dua laki-laki itu.
"Masuk ke dalam mobil, dan diamlah disana jika kalian berdua ingin selamat.." dua laki-laki yang membawa Sandrina dan Jennifer memasukkan dua perempuan itu ke dalam mobil, kemudian menutup pintu mobil dengan keras. Dua laki-laki itu berlari dan bergabung dalam pertarungan. Tampak security apartemen berlari keluar untuk membantu pengamanan, tetapi melihat seseorang yang menodongkan senjata ke arahnya, petugas security itu kembali berlari dan masuk ke lobby apartemen.
Terlihat seorang laki-laki memegang krah baju Thanom, kemudian mengangkatnya ke atas. Terlihat Thanom mengarahkan kaki kanannya, dan tanpa diketahui oleh laki-laki yang mengangkatnya, tendangan Thanom jatuh di punggung laki-laki itu.
"Buk.., buk..." laki-laki itu terkejut, dan melepaskan cekalannya pada leher Thanom. Setelah kembali menegakkan punggungnya, dua kali pukulan diarahkan laki-laki itu ke tubuh Thanom.
Di sisi yang lain, keadaan juga tidak jauh berbeda. Arron yang memiliki fisik lebih muda, juga sedang berhadapan dengan dua orang lainnya. meskipun tiga orang anak buah Arron sudah datang dan bergabung dalam perkelahian, tetapi mereka masih kalah dalam perkelahian. Orang-orang yang lalu lalang, hanya melihat ke arah perkelahian itu, tetapi tidak ada yang memiliki niat untuk bergabung atau memisahkan perkelahian itu.
"Tante.. apakah tante mengetahui siapa mereka tante..? Apa alasan mereka untuk menolong dan membawa pergi kita. Tetapi melihat bagaimana mereka membawa kita, dan memasukkan kita ke dalam mobil, sepertinya mereka bukan orang jahat tante.. Apakah tante mengenal siapa mereka..?" Jennifer memiliki rasa keingin tahuan yang tinggi. Perempuan muda itu terus bertanya pada Sandrina.
"Aku juga tidak mengetahuinya Jenni.. Tetapi aku seperti memiliki firasat, jika orang-orang itu pasti ada campur tangan dari Andreas Jonathan. Aku sudah menghubungi Cassandra, dan meskipun perempuan itu tidak membalas pesan yang aku kirimkan, pasti memberi tahu dan akan meminta tolong pada suaminya untuk membebaskan dan membawa kita. Cassandra itu hatinya lembut, meskipun terkadang casing nya terlihat tegas.." tanpa sadar, Nyonya Sandrina memuji Cassandra.
"Benarkah tante.. jika begitu ada harapan kita untuk bebas tante.. Dan juga sebenarnya kita bisa memanfaatkan kelembutan Cassandra, untuk menipu perempuan itu. Jenni punya ide yang menarik bukan tante.." mendengar perkataan Jennifer, tatapan mata Sandrina menjadi melotot dan melihat gadis muda itu dengan pandangan tajam.
"Tutup mulutmu Jenni.. apakah kamu tidak bosan dengan pelarian dan terlunta-luntanya kita. Hingga kamu masih punya pikiran untuk mengambil keuntungan dari kejadian ini. Aku sudah pasrah Jenni, apalagi usiaku juga sudah semakin bertambah, aku akan mengikuti alur dari kejadian ini.." dengan ekspresi marah, Sandrina menghardik Jennifer.
Jennifer hanya diam, wajahnya merah menahan malu dan akhirnya kembali mengarahkan pandangan melihat ke arah perkelahian.
********
"Kalian jangan besar kepala dengan diselamatkannya kalian, ini semua karena belas kasihan dari seseorang yang hatinya sangat baik dan lembut. Tuan muda sampai tidak bisa menolak permohonannya, dan jika sampai kalian berdua membuat ulah, aku tidak akan segan-segan membawa kalian ke kantor polisi terdekat." di sebuah rumah tua, Sandrina dan Jennifer dimasukkan ke dalam rumah itu.
"Tidak tuan.. maafkan jika ada salah sikap dari kami berdua.." Sandrina segera menanggapi kata-kata dari pengawal yang membawa mereka.
Mendengar kata-kata yang diucapkannya, menambah keyakinan pada diri perempuan paruh baya itu, jika yang sudah membawanya dan Jennifer ke tempat ini, semua adalah campur tangan dari Andreas Jonathan. Peran dan kharisma Cassandra di depan suaminya, memang seperti bisa merubah balik dunia. Saat ini, hanya patuh dan tidak membantah perkataan orang-orang yang membawa mereka, menjadi hal wajib baginya dan Jennifer.
Melihat Sandrina dan Jennifer yang terlihat patuh, dan hanya duduk diam di sofa tua yang ada di ruangan itu, akhirnya dua orang laki-laki itu meninggalkan dua perempuan itu. Begitu dua laki-laki itu keluar, Jennifer merapatkan tubuhnya mendekat ke arah Sandrina.
"Tante... mereka membiarkan kita saja tante, tidak ada tindakan apapun yang mereka lakukan pada kita. Apakah ini berarti kita sudah selamat..?" dengan bodoh, Jennifer bertanya pada Sandrina dengan suara yang pelan,
"Diamlah Jenni... jangan merusak keadaan. Aku lihat, kamu itu betul-betul belum tersadarkan, dan paham bagaimana situasi yang kita hadapi saat ini. Ini semua karena Cassandra, kita harus banyak berterima kasih pada perempuan muda itu. Jika tidak, kita sudah menjadi bulan-bulanan laki-laki hidung belang.." Sandrina berbicara dengan nada sedikit keras, seakan memberi peringatan pada Jennifer.
"Baik tante.. Jenni hanya bertanya saja. Karena hal yang aneh mereka bisa menolong dan tidak melepaskan kita, tetapi malah membawa kita ke rumah ini. Meskipun bangunan rumah ini terlihat sudah tua lengkap dengan perabotannya, tetapi semuanya dalam keadaan bersih dan terawat." Jennifer mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
"Makanya dengar kata-kataku tadi, kita harus ucapkan terima kasih pada Cassandra. Ke depan, jika aku dipertemukan dengan gadis itu, aku akan menyampaikan ucapan terima kasih kepadanya. Aku akan menghapuskan semua rasa dendamku, karena ternyata hanya malah menjerat dan menjebloskanku dalam keadaan seperti ini.." Sandrina menanggapi perkataan Jennifer.
Jennifer terdiam, dalam hati perempuan muda itu juga membenarkan apa yang diucapkan oleh Sandrina. Keberadaannya dalam kondisi yang tidak baik sampai ke negara Swiss, karena dilandasi rasa ingin balas dendan, dengan nasib buruk yang menimpanya.
*********