CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 239 Rahasia Tersembunyi



Pesta barbeque dengan dihadiri semua pengawal, penjaga, dan seluruh anggota keluarga diadakan di halaman belakang. Semua tampak bahagia, dan Cassandra merasa jika hidupnya sudah sangat lengkap. Bisa berada dan dikelilingi semua anggota keluarganya, kecuali mama kandung dan adik tirinya, membuat rasa bahagia di hati perempuan itu sangat membuncah. Tetapi kejadian terakhir kali, ketika Stevie berangkat menuju ke arah bandara tiba-tiba kembali membuatnya gelisah. Karena sampai saat ini, gadis muda itu belum bercerita siapa yang sudah berusaha menghadangnya di jalan itu.


"Honey.. mau tambah lagi iganya sayang, sudah aku sisihkan dari lemaknya.." Andreas Jonathan mendatangi istrinya, dan membawa piring datar berisi potongan-potongan daging iga. Tampak potato wedges ikut disajikan di atas piring tersebut.


"Sandra sudah merasa kenyang kak, satu suapan saja ya.. kak Andre coba suapkan pada Altezz, sejak tadi Sandra lihat, dia menyukainya." Cassandra membuka mulutnya, dan dengan menggunakan garpu, Andreas Jonathan mengambil satu tusuk kemudian memasukkan ke mulut istrinya. Tampak di sudut, Alexander dan Stevie juga saling menyuapi.


"Mommy... Altezz mau wedges..." tiba-tiba putra Cassandra dan Andreas Jonathan datang menghampiri mereka.


"Sini sayang.. kebetulan papa ada wedges tuh, mau ya disuapi papa sayang..." sambil tersenyum, Cassandra mengajak putranya duduk di sebelahnya. Andreas Jonathan yang tidak pernah menyuapi putranya, kali ini menyuapkan wedges seperti yang diminta oleh anak kecil itu.


Cassandra tersenyum, melihat dengan lahapnya anak laki-laki itu mengunyah kentang wedges, dan tidak membutuhkan waktu lama, kentang itu akhirnya habis.


"Altezz mau nambah lagi, jika masih mau, papa akan ambilkan lagi.." Andreas Jonathan menawari putranya.


"Sudah kenyang pa..." ALtezza meletakkan kepalanya ke pangkuan mommynya, dan ketika suaminya Andreas Jonathan akan melarang anak itu, dengan menggunakan isyarat tangan, Cassandra melarang suaminya.


"Mommy.. mommy..., kata Auntie Stevie.. Altezz mau memiliki adik baru ya mommy.." dengan polosnya, tiba-tiba Altezza bertanya tentang adiknya.


"Inshaa Allah Altezz sayang, jika Tuhan berkehendak, tidak akan ada yang tidak mungkin di dunia ini.. Apakah Altezz menyukainya, jika nanti ada adik baru dalam keluarga ini.." pertanyaan itu digunakan Cassandra untuk mengukur bagaimana tingkat penerimaan putranya itu.


"Pasti suka mommy... kan bisa menjadi teman untuk Altezz bermain., Di mansion ini, Altezz tidak ada teman mommy.., sepi, Beda jika ALtezz di Kinder Garten, banyak teman disana. Makanya terkadang Altezz merasa lebih senang berada di Kinder Garten daripada di rumah, karena tidak ada teman.." dengan polos, kembali Altezz tanpa sadar menceritakan uneg-unegnya.


"Ehmm... lalu adik laki-laki atau perempuan yang dimaui Altezz..." Cassandra menanggapi kepolosan putranya.


"Apapun mommy..., kata mommy sesuai kehendak Tuhan. Kita tidak boleh mengaturnya bukan.." mendengar kata-kata putranya, Cassandra merasa bangga. Sejak kecil menekankan unsur Tuhan, dan lebih mendalami nilai-nilai agama, sepertinya sudah diresapi oleh anak kecil itu.


"Ini Altezz ngobrol hanya sama mommy..., kok papa tidak diajak ya.." tiba-tiba Andreas Jonathan duduk di sebelah Altezza, kemudian mengambil kepala anak itu, dan meletakkan di pangkuannya.


"Papa selalu sibuk, kerja.., kerja.., dan kerja terus... Tidak pernah, sangat jarang sekali menenami ALtezz bermain.. Tidak seperti mommy yang selalu ada, dan selalu menemani Altezza.." anak kecil itu menyampaikan protes pada papanya.


"Jika papa selalu hanya berada di rumah menemani Altez.., siapa yang akan mencari uang untuk keluarga kita sayang. Bisa untuk naik pesawat, berlibur.., dan lain sebagainya.." Andreas Jonathan mencoba memberikan pengertian pada Altezza. Cassandra ikut senyum-senyum di samping dua orang yang sangat disayanginya itu.


***********


Di ruang tengah


Karena desakan istrinya Cassandra yang masih sangat khawatir dengan kejadian Stevie, akhirnya Andreas Jonathan mengumpulkan Stevie dan Alexander bersama dengan keluarganya di ruang tengah. Tampak pula tuan Wijaya dan nyonya Sheilla di tempat itu.


"Stevie.. karena kehamilan Cassandra, kita belum bertanya tentang kejadian sebenarnya, ketika dalam amarahmu kamu menempuh perjalanan dari Inter laken menuju Zurich.. Siapa yang sebenarnya melakukan pengejaran kepadamu..?" dengan nada tegas, Andreas Jonathan bertanya pada adik kandungnya itu.


Stevie yang menjadi pokok pembicaraan terkejut dengan pertanyaan kakaknya itu. Gadis itu teringat, jika ada papa Armansyah dalam mobil itu, Bagaimanapun jahatnya laki-laki itu, tetapi Stevie juga masih ingat jika laki-laki itu pernah menjadi papanya, mengajari merangkak, berjalan, dan menuangkan rasa kasihnya padanya waktu kecil. Jadi.. dalam hati, Stevie tidak tega jika papanya itu menjadi pelampiasan kakak kandungnya.


"Ehmm... tidak tahu kak, karena mobil itu tiba-tiba saja sudah melakukan pengejaran, dan menghadangkan mobil yang membawa Stevie kala itu.." gadis muda itu mencoba berbohong.


"Apakah kamu tahu Stevie.. jika kamu membuat kebohongan dalam keluarga kita. Negara Swiss yang saat ini kita tinggali, memiliki tingkat keamanan tertinggi. Kasus kriminal juga sangat rendah, jadi tidak mungkin jika ada orang iseng di tengah jalan. Tanpa sebab melakukan penghadangan padamu.." Andreas Jonathan berusaha mengejar penjelasan dari Stevie.


Cassandra memegang tangan suaminya, agar laki-laki itu mengurangi intonasi kalimatnya. Siapapun yang mendengar pertanyaan dengan nada tegas seperti itu, pasti semuanya akan takut. Sedangkan melihat pada Stevie yang mendapatkan pertanyaan, tidak ada jawaban dari Stevie.., perempuan muda itu tampak takut melihat ekspresi dari kakak kandungnya. Alexander memeluk istrinya sambil mengusap punggung Stevie beberapa kali.


"Andre.. jangan terlalu keras pada adikmu Stevie... pelankan nada bicaramu!" menyadari ketakutan Stevie, tuan Wijaya memberikan teguran pada putra pertamanya itu.


"Baik pa..., kita disini menunggu kejujuran Stevie pa.., karena akan membuat kita menjadi siaga. Jauh-jauh dari Indonesia kita menetap disini, dan semua ikut bergabung. Tetapi jika ternyata ada seseorang yang mengintai keutuhan keluarga kita, percuma bukan kita berpindah ke negara Swiss.. Jika Stevie berkata jujur, kita akan bisa mengukur tingkat keseriusan pelaku kejahatan itu.." Andreas Jonathan menanggapi perkataan papanya,


"Stevie.. apakah kecurigaan kakakmu Andre beralasan nak.. Ceritakan sejujurnya pada kita nak, karena ini menyangkut juga keselamatan keluarga kita. Dari rekaman yang berhasil didapatkan suamimu, mobil yang melakukan penghadangan sebenarnya sudah mengikuti kalian, ketika keluar dari kota Inter laken. Sepanjang Luzern dan hampir memasuki bandara Zurich, mobil terus mengincar kelengahanmu.." dengan suara pelan, Nyonya Sheilla bertanya pada putrinya.


Stevie mengangkat wajah ke atas, seakan memberi isyarat pada mamanya itu. Tetapi sepertinya nyonya Sheilla tidak bisa memahami apa yang diungkapkan oleh putrinya, Melihat istrinya yang seperti merasa tertekan, dan juga yakin jika gadis muda itu menyembunyikan sesuatu, Alexander meminta semua berhenti untuk memojokkan Stevie. Sambil mengangkat tangannya, Alexander meminta semua berhenti untuk berbicara.


*******