
Tuan Wijaya terlihat duduk termenung di dalam kamarnya, seperti ada beban berat yang dipikirkan oleh laki-laki itu. Tampak ada penyesalan yang muncul di raut wajahnya, seperti menyesali kejadian di masa lampau. Beberapa kali tuan Wijaya menghela nafas, kemudian mengusap air mata yang menggenangi kelopak matanya. Laki-laki itu teringat ketika Andreas Jonathan berusia lima tahun, dengan kejam mengusir istrinya Sheilla yang tidak diketahuinya ternyata sedang hamil putrinya Stevie. Kala itu, melihat kemolekan Sandrina, dan perhatian yang selalu ditunjukkan oleh perempuan itu, Tuan Wijaya memang mempercayai apa yang diucapkan oleh perempuan itu. Dan baru akhir-akhir ini baru diketahui akal bulus perempuan itu, yang ternyata bekerja sama dengan laki-laki yang menikahi mantan istrinya Sheilla.
"Hmm.. sepertinya Sheilla memang sudah menutup pintu maaf buatku, meskipun masih tampak senyuman di bibirnya ketika bertemu denganku. Aku memang bersalah, dan mungkin kesalahanku tidak bisa lagi untuk dimaafkan. Sandrina.. karena perempuan itu, hidupku jadi kacau balau seperti sekarang ini.." tuan Wijaya bergumam sendiri.
"Harapanku untuk dapat menikah lagi dengan Sheilla, semoga tidak menjadi isapan jempol belaka. Aku akan menjaga perempuan itu, bahkan dengan segenap nyawaku. Aku benar-benar menyesal telah membuatnya terlantar, dan sendiri merawat putriku Stevie.. Ijinkan aku Tuhan.., untuk menebus kesalahanku pada perempuan itu. Jadikanlah Sheilla untuk menjadi istriku lagi.." tiba-tiba saja Tuan Wijaya kembali teringat Tuhan.
Laki-laki itu tiba-tiba saja merasa malu, dengan permohonannya kepada Tuhan. Seperti hanya ketika memiliki masalah saja, laki-laki itu kembali teringat akan keberadaan dan kekuasaan Tuhan. tetapi begitu sedang berada dalam kesenangan, laki-laki tua itu seperti melupakan keberadaanya.
"Ya Tuhan.. meskipun kecil sekali kemungkinan Engkau mengabulkan permohonanku ya Tuhan.. tapi aku masih berharap besar. Jadikan Sheilla kembali menjadi istriku ya Tuhan, aku akan membahagiakannya selalu. Aamiin." tanpa sadar, Tuan Wijaya kembali berdoa.
Beberapa saat laki-laki itu terpekur dalam doa, kemudian berdiri dan membuka pintu kamar. Tuan Wijaya berjalan menuju ke arah taman yang berada di lantai itu. Melihat bunga anggrek bulan berbagai variasi, laki-laki itu mengamati bunga yang sedang mekar itu. Matanya tidak beralih kemanapun, dan tidak tahu jika ada Stevie yang tersenyum melihatnya dari belakang.
"Papa... ternyata papa Stevie pecinta tanaman anggrek juga ya.." tuan Wijaya menoleh ke belakang, dan melihat keberadaan putrinya, laki-laki itu tersenyum,
"Apa yang kamu katakan tadi Stevie.., papa tidak begitu mendengarnya." tuan Wijaya segera berjalan menghampirinya putrinya. Stevie mengulurkan tangan, dan gadis itu mencium tangan papanya setelah mereka selesai berjabat tangan. Tuan Wijaya mengusap pelan kepala gadis itu.
"Heran saja pa.., ternyata papa Stevie yang keras juga mencintai tanaman anggrek seperti mama juga Stevie pa.. Setiap pagi, Stevie sering ke tempat ini untuk melihat bunga-bunga anggrek yang tidak pernah membosankan untuk dinikmati keindahannya.." Stevie menanggapi pertanyaan papanya.
"Hmm, karena mamamu Stevie.. papa juga jadi mencintai semua tanaman bunga. Andreas Jonathan juga demikian, makanya pihak hotel memenuhi taman ini dengan berbagai varian tanaman anggrek, karena ingin menyenangkan hati kakak kandungmu. By the way... menurut kabar sih, saat ini Alexander calon suamimu sedang di bandara untuk menjemput kakakmu Andreas. Jadi besok pagi, akad nikah kalian akan bisa terlaksana karena tidak ada lagi yang ditunggu.." ucap tuan Wijaya sambil menatap ke arah putrinya.
Sebenarnya dalam hati laki-laki tua itu, ada sedikit penyesalan karena belum bisa menyelenggarakan pesta untuk pernikahan putrinya. Padahal ketika putra sulungnya Andreas Jonathan menikah dengan Cassandra, tuan Wijaya juga tidak bisa menyelenggarakan pesta untuk merayakannya. Kali ini, karena Sandrina, perempuan yang sudah merusak dan mengacaukan rumah tangganya dengan Sheilla, mereka juga harus menunda perayaan pesta perkawinan Stevie dan Alexander.
******
Malam Harinya
Karena kedatangan Andreas Jonathan, dan juga keberadaan Alexander di Pant House, tuan besar Wijaya akhirnya mengadakan dinner di restaurant hotel. Semua anggota keluarga duduk di meja makan, dimana Alexander duduk berdampingan dengan Andreas Jonathan. Sedangkan Stevie dan nyonya Sheilla, serta di samping mereka berdua adalah tuan Wijaya, duduk berhadapan dengan kedua laki-laki muda itu. Sejak awal mereka duduk, Alexander dan Stevie sering mencuri pandang, dan tanpa sengaja beberapa kali tatapan mata mereka saling bertabrakan. Namun dengan cepat, Stevie mengalihkan pandangan ke tempat lain.
"Bagaimana untuk persiapan besok pagi, apakah akad nikah masih tepat waktu akan diadakan sebelum sholat Jum.at berlangsung..?" sambil memotong steak wagyu di depannya, Andreas Jonathan bertanya.
"Persiapan sudah bisa dikatakan 100% selesai tuan muda. Bahkan di ball room hotel, tempat akad nikah besok berlangsung, saat ini juga sedang dihias oleh mitra. Untuk pakaian akad, kami juga sudah melakukan fitting, meskipun karena kesibukan masing-masing, kami melakukannya sendiri-sendiri." karena Alexander sendiri yang melakukan pengaturan semuanya, laki-laki itu dengan lancar menjawab pertanyaan dari tuan mudanya.
"Hmm.. baguslah kalau begitu.. Tetapi jangan lupa Alex.. kerahkan tim keamanan, jika perlu datangkan pihak kepolisian untuk melakukan sweeping para tamu yang hadir. Aku khawatir ada penyusup yang masuk, dan bisa membuat kekacauan pada acara itu nantinya. Kita belum bisa duduk berpangku tangan, bersantai, karena musuh masih mengintai dan menyusun strategi untuk menyerang kita.." Andreas Jonathan melakukan pengecekan.
"Siap tuan muda.. semua sudah dikondisikan. Lagian juga tidak ada orang luar yang kita datangkan tuan muda, para tamu undangan adalah orang-orang kita, dan para pengawal saja. Tuan muda dan tuan besar juga tahu sendiri bukan, jika selama ini Alex tidak memiliki keluarga. tuan muda dan tuan besarlah keluarga yang selalu membersamai dan memberikan pertolongan pada Alex, sejak Alex masih kecil.." wajah Alexander tiba-tiba terlihat pias. Laki-laki itu seperti teringat akan masa lalunya, dimana pada saat dibully di jalanan, Andreas Jonathan datang dan menolongnya saat itu.
"Hentikan omong kosongmu itu Alex, akulah keluargamu, juga papa. Tidak akan ada orang yang berani bicara kepadamu, dan mengatakan jika kamu tidak memiliki keluarga, karena kamilah yang akan berada di depan untuk membelamu." dengan nada tinggi, Andreas Jonathan memberikan teguran pada Alexander.
Tuan Wijaya tersenyum, dan laki-laki tua itu tahu bagaimana persahabatan antara putra sulungnya dengan Alexander, dan sejak kecil mereka selalu bersama. Bahkan sekolah, kuliahpun juga selalu dilakukan secara bersama-sama.
*********