CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 115 Rasa Cinta



Cassandra tersentak mendengar perkataan suaminya, dalam hati gadis itu merasa bersalah karena merasa tidak memiliki empati pada suaminya. Dirinya yang sejak kecil sudah ditinggalkan papanya, namun masih bisa merasakan bagaimana digendong, disanjung, dan menghabiskan hari-hari dengan papanya sebelum papanya dipanggil Yang Kuasa. Tetapi laki-laki berkuasa ini, bahkan belum lama tahu jika mama yang dikenal dan dipanggilnya selama ini ternyata bukan mamanya. Menyadari akan hal itu, Cassandra merasa prihatin dan tiba-tiba saja gadis itu memeluk Andreas Jonathan kemudian memberi laki-laki itu ciuman.


"Maafkan Sandra kak.. Sandra telah melupakan urusan hal penting yang kak Andre miliki. Kapan kita mau berangkat kak.., Altezz dan Sandra akan membersamai kak Andre dalam pencarian itu. Kita akan hadapi bersama semua masalah yang ada di hadapan kita kak, jangan pernah merasa sendiri." ucap Cassandra dengan penuh keharuan. Andreas Jonathan kaget karena mendapatkan perlakuan mesra yang diinisiasi oleh istrinya. Laki-laki muda itu menatap tidak percaya, dengan keberanian istrinya. Karena tidak bisa menguasai dirinya, laki-laki itu kemudian memeluk Cassandra dan menghujani gadis itu dengan ciuman.


Pasangan suami istri itu tanpa sadar sudah melakukan ciuman yang dalam dan lama, dan tidak menyadari jika saat ini mereka berada di luar ruangan. Suster perawat dan ART yang tanpa sengaja melihat perbuatan intim itu, memerah pipinya dan kemudian menyelinap pergi, pura-pura tidak melihat adegan itu.


"Dua anak itu apakah tidak tahu atau tidak sadar jika mereka sedang berada di luar ruangan, dan menganggap seakan-akan dunia ini hanya milik mereka saja.." tuan Wijaya yang tanpa sengaja berjalan keluar, geleng-geleng kepala melihat kelakuan putra laki-laki dan menantunya itu. Altezza mereka biarkan sendiri dalam stroller, sementara mereka berciuman dan berpelukan hangat dengan sinar matahari pagi menerpa tubuh mereka berdua.


Perlahan laki-laki paruh baya itu mendatangi ke tempat pasangan muda itu beradu kemesraan, dan ketika sudah berdiri di belakangnya..


"Uhuk.. uhuk... kalian ini memang sengaja mau memamerkan pada dunia, tentang keintiman kalian berdua." tuan Wijaya pura-pura terbatuk. Mendengar suara itu, secara reflek Cassandra mendorong dada suaminya agar menjauh dari tubunya. Dengan wajah merah padam menahan malu, gadis itu menatap wajah papa mertuanya dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan,


"Papa.. maaf.." ucap Cassandra lirih yang langsung menutup wajah dengan menggunakan kedua tangannya.


Melihat sikap istrinya, Andreas Jonathan tersenyum smirk, perlahan tangan laki-laki itu menyingkirkan telapak tangan yang menutupi wajah perempuan itu. Dan setelah terbuka, di depan tatapan papanya, Andreas Jonathan malah memberikan ciuman dalam di bibir istrinya.


"Kak Andre..." Cassandra berteriak menolak perlakuan suaminya.


"Jangan menolakku honey.. ingat tertulis dalam kitab suci, seorang istri dilarang untuk menolak ajakan suaminya. Dosa besar hukumnya.." dengan senyum smirk, kembali Andreas Jonathan malah menggoda Cassandra.


"Itu akal bulusmu saja Andre.. Jika kalian mau berbuat intim,, jangan pernah melakukan di depan umum. Apakah kalian berdua ini tidak tahu, atau bahkan tidak sadar jika di sekeliling kalian ini banyak para gadis dan laki-laki yang masih lajang. Kalian malah memameri mereka dengan adegan seperti itu. Jika mau melanjutkan kelakuan intim kalian, masuk kamar dan kunci dari dalam. Tinggalkan Altezza sendiri, biar anak ini dengan papa.." dengan nada bicara keras, Tuan Wijaya memberi teguran pada pasangan suami istri itu.


"Halah pa.., papa juga pernah muda kan.." Andreas Jonathan tidak merasa bersalah, laki-laki muda itu malah tertawa nyengir.


***********


Begitu Andreas Jonathan memasuki ruang tengah, para ART dan pengawal langsung menyelinap menghindarkan diri agar tidak berpapasan langsung dengan pasangan suami istri itu. Cassandra merasa malu, karena dengan tidak tahu malu, Andreas Jonathan langsung membawanya masuk ke dalam ruang tengah. Kedua tangan gadis itu dikalungkan di leher suaminya, dengan wajah bersembunyi di dada laki-laki itu.


Dengan menggunakan kaki, Andreas Jonathan mendorong pintu kamar untuk membukanya, dan masih dengan tubuh Cassandra dalam pelukannya, perlahan laki-laki itu membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang. Beberapa saat, Andreas Jonathan tidak melakukan apa-apa, hanya memandangi wajah istrinya yang masih merah padam menahan rasa malu. Perlahan Andreas Jonathan mulai menundukkan wajahnya ke bawah, dan ciuman mesra langsung menghujani wajah Cassandra.


"Aku selalu menginginkanmu honey.. kapanpun dan dimanapun. Layani aku honey.. jangan menolakku.." suara serak Andreas Jonathan bercampur dengan nafas hangat terasa menerpa daun telinga Cassandra.


Seketika tubuh gadis itu seperti tersengat aliran listrik, dan darahnya seakan membeku sesaat. Nafasnya mulai memburu, dan tatapan matanya menjadi redup. Melihat perubahan di wajah dan ekpresi Cassandra, Andreas Jonathan menjadi lebih bernaf**su lagi. Laki-laki itu mulai mengekplorasi wajah istrinya, dengan memberi kecupan di seluruh wajahnya, dan perlahan satu tangan laki-laki itu mulai melepaskan kancing baju atasan istrinya.


"Kak.. ughh.." lenguhan tanpa sadar terlepas dari bibir gadis itu, dan suara itu semakin memacu hasrat Andreas Jonathan untuk meminta hal yang lebih pada istrinya.


Bibir Andreas Jonathan sudah menuruni leher Cassandra, dan beberapa saat berhenti dan menghirup aroma manis tulang selangka istrinya. Mata Cassandra tertutup seakan meresapi perlakuan suaminya, yang di setiap gerakan, hembusan nafasnya seakan membawanya terbang. Pagi yang cerah dan indah itu, secerah dan seindah dengan apa yang dilakukan oleh pasangan suami istri itu. Mereka saling mengagumi, saling terpana dengan keindahan yang tersaji di depan mata mereka masing-masing.


"I love you honey..., Do not ever leave me." Andreas Jonathan kembali berbisik di telinga Cassandra, dan bibirnya menghisap manis setiap inchi dari bagian tubuh istrinya.


Mata Cassandra terlihat sayu, dan gadis itu membuka matanya. Pasangan suami istri itu beradu pandang, dan mencoba meresapi setiap makna dari tatapan itu. Banyak hal yang bisa mereka ambil, dengan saling bertatapan. Keindahan sebuah pernikahan tanpa pacaran, mereka bisa merasakan dan meresapi masa pernikahan seindah masa mereka berpacaran.


Andreas Jonathan seperti sudah tidak dapat menahan hasrat dan gejolak perasaannya. Laki-laki itu dengan tidak sabar, kembali mencium dan menghisap setiap jengkal bagian tubuh Cassandra. Dengan suara de**sahan dan lenguhan panjang, kamar itu terdengar erotis. Untungnya alat penyerap atau kedap suara dalam ruangan itu terbuat dari glasswool dengan bahan dasar fiberglass yang berbentuk wool atau bulu domba. Kedua tubuh pasangan suami istri itu saling menyatu, dengan peluh yang tidak mereka rasakan.


**********