
Ketika Cassandra beserta rombongan mulai menikmati istirahat sambil menikmati menu yang dihidangkan waiters, tiba-tiba Nyonya Sheilla ijin untuk keluar dari meja makan untuk menuju ke rest room. Perempuan paruh baya itu keluar sendiri, dan Cassandra segera memberi isyarat pada pengawal untuk memberinya pengawalan. Cassandra dan Stevie segera melanjutkan aktivitas mereka menikmati salad.
Melihat tulisan rest room, di pojok mall Nyonya Sheilla segera melangkahkan kaki menuju ke ruangan itu, Tanpa diketahuinya, dua pengawal berjalan di belakangnya untuk memberi pengawalan. Untungnya di dalam rest room tidak ada antrian, sehingga Nyonya Sheilla bisa langsung masuk ke dalam. Beberapa saat di dalam, akhirnya perempuan paruh baya itu segera keluar. Namun ketika Nyonya Sheilla keluar dari dalam rest room, seorang laki-laki paruh baya sedang menatapnya tanpa berkedip.
"Sheilla.. kamu tidak berubah, masih saja sama dengan Sheilla yang aku kenal dulu.." seorang laki-laki yaitu tuan Wijaya tampak menatap perempuan paruh baya itu dengan penuh perasaan,
Jantung Nyonya Sheilla berdegup kencang, dan kemarahan tampak muncul menyeruak di wajah anggunnya. Tatapan kecewa, dan rasa amarah kembali terungkit kembali, ketika perempuan itu teringat bagaimana laki-laki itu sudah mengusirnya pergi, dan menggantikan posisinya dengan Sandrina. Tanpa ada sedikitpun pembelaan laki-laki yang sudah menikahinya, malah mengusirnya dengan cara kasar.
"Heh... Wijaya.. untuk apa kamu berdiri di depanku saat ini. Aku muak melihat wajahmu, dan dimana perempuan menjijikkan yang kamu puja, dan akhirnya kamu jadikan ratu dalam keluargamu.. Bagaimana kamu menggunakan perempuan itu sebagai pengganti kata dan figur mama untuk putraku..?? Dimana dia Wijaya.." tanpa menyebut kata Tuan, mas, atau bapak, Nyonya Sheilla menumpahkan kemarahan pada laki-laki itu,
Terlihat dua pengawal yang memberikan pengawalan pada Nyonya Sheilla merasa segan untuk bertindak, ketika melihat dengan siapa perempuan paruh baya itu melakukan perselisihan. Mereka dengan jelas mengenal dan mengetahui tentang tuan Besar Wijaya, sehingga tidak mungkin akan menegur atau memberikan tindakan pada laki-laki itu. Keduanya hanya saling berpandangan.., tidak tahu apa yang harus mereka lakukan,
"Sheilla kita butuh waktu untuk bicara Sheilla... Aku menyesal telah berprasangka buruk padamu kala itu Sheilla, aku sudah dikuasai emosi, dan tidak menggunakan akal sehat untuk mengusirmu kala itu." terlihat tuan Wijaya terus berusaha mengajak perempuan itu bicara. Orang-orang yang lalu lalang di tempat itu, melihat pertengkaran mereka sekilas, namun kemudian meninggalkan mereka.
"Aku tidak butuh penjelasanmu Wijaya.. menyingkirlah dari hadapanku, dan jika perlu dari hidupku.." dengan ekspresi marah, Nyonya Sheilla berjalan meninggalkan laki-laki paruh baya itu.
Tetapi Tuan besar Wijaya bukanlah anak kemarin sore yang mudah digertak, nama besarnya sudah menguasai dunia bisnis di beberapa negara. Laki-laki itu terus mengikuti di belakang perempuan paruh baya itu, dan ketika Nyonya Sheilla memasuki ruang makan, laki-laki itupun menyertainya.
"Selamat siang tuan besar.. " di pintu masuk, beberapa pengawal malah memberikan salam pada laki-laki paruh baya itu.
Tuan Wijaya hanya mengangkat tangan kanannya ke atas, sebagai isyarat jika laki-laki itu menanggapi ucapan salam untuk para pengawal. Tidak lama kemudian, laki-laki paruh baya itu sudah berada di sisi meja. Cassandra terkejut melihat keberadaan papa mertuanya di tempat itu, dan merasa bingung bagaimana dia harus bersikap.
"Pap.. papa.., bagaimana papa bisa sampai kesini pa..?" dengan suara tercekat, Cassandra menyapa laki-laki itu, sedangkan tampak kemarahan terlihat di wajah mama mertuanya.
Menyaksikan hal itu, hati Cassandra merasa sakit, tetapi gadis itu juga bingung, dan merasa bukan saatnya untuk turut campur dalam masalah kedua mertuanya itu. Cassandra tidak mampu lagi mengeluarkan kata-kata untuk menengahi perselisihan itu. Di sudut meja, terlihat Stevie yang masih cukup cuek, mengabaikan kedatangan laki-laki itu. Tumbuh tanpa figur seorang papa kandung, mungkin sudah membentuknya untuk bersikap apatis dan masa bodoh.
"Tutup mulut besarmu Wijaya.. apakah aku melupakan bagaimana mulut besarmu itu, yang akhirnya mengusirku dan Stevie dari keluargamu.." dengan satu sudut melengkung ke atas, Nyonya Sheilla tanpa sadar seperti sudah menyebut Stevie sebagai putri dari laki-laki itu.
Mendengar kata-kata Sheilla, tatapan tuan Wijaya berpindah ke arah Stevie, namun gadis itu sedikitpun tidak memperhatikannya, gadis itu malah terkesan mengacuhkannya. Tiba-tiba saja, Tuan besar Wijaya mendatangi meja tempat Stevie berada, dan langsung memeluk gadis itu dari belakang.
*"Fu*ck.., who are you..??? Tidak adakah rasa sopan dan tata krama hey laki-laki tua.." mendapat perlakuan yang mengejutkan itu, Stevie menjadi bereaksi. Gadis muda itu berteriak, dan berusaha melepaskan diri dari pelukan tuan besar WIjaya.
Cassandra menyadari jika kesehatan papa mertuanya belum begitu stabil, dan dia juga ingat jika Stevie memiliki tenaga kuat seperti laki-laki. Mommy ALtezza itu segera berdiri, dan berusaha memisahkan papa dan putrinya itu dengan baik-baik.
"Papa.. ingat kesehatan papa. Kendalikan diri papa... dan juga kamu Stevie.. kita bisa bicarakan hal ini dengan baik-baik. Papa memiliki masalah pada jantung, jangan sampai pertengkaran ini akan berpengaruh pada kesehatan papa.." Cassandra mengajak kedua orang itu berkomunikasi.
Untungnya keduanya segera menyadari tindakan mereka masing-masing, dan di bawah tatapan Cassandra, tuan Wijaya mencari tempat duduk kosong, kemudian laki-laki itu duduk di kursi tersebut. Terlihat dengan tatapan masih penuh kekesalan, Stevie terus menatap Tuan besar Wijaya, demikian juga dengan Nyonya Sheilla.
"Baiklah.. papa.., mama.., Stevie.. Sandra tidak mau ada keributan di meja makan ini. Tujuan kita tadi ke ruang makan ini adalah untuk LUNCH, maka kita harus menikmatinya. Jika papa, mama, dan Stevie akan melanjutkan perselisihan, jangan di tempat ini, karena Cassandra tidak mau terlibat." selesai bicara, Cassandra memanggil waiters untuk memberikan pelayanan pada papa mertuanya.
Anehnya tidak ada yang menyela atau memprotes kata-kata yang diucapkan oleh Cassandra. Mereka kembali melanjutkan makan siang mereka, meskipun dengan bersungut-sungut. Cassandra berpikir, harus ada suaminya Andreas Jonathan yang bisa menengahi dan menyelesaikan pertengkaran dalam keluarga papa dan mamanya. Dia memang belum banyak tahu tentang bagaimana kisah keluarga Andreas Jonathan di masa lalu, meskipun saat ini sudah menjadi bagian dari keluarga inti.
*********