CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 251 Penjelasan Stevie



Di dalam mobil, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut ANdreas Jonathan. Cassandra berusaha memahami perasaan suaminya, karena keamanan dan keselamatan keluarga, selama ini menjadi hal yang selalu diutamakan oleh laki-laki muda itu. Dan di luar pengetahuannya, adik kandungnya sendiri sudah bermain api, tanpa sadar menimbulkan celah bahaya untuk keluarganya. Apalagi mengingat kondisi istrinya saat ini sedang hamil besar, dan memiliki mobilitas terbatas.


"Kak Andre.. jangan seperti itu kak.. Bagaimanapun alasan Stevie bisa kita dengar dan kita pahami, karena kita berbicara masalah hati kak, masalah perasaan manusia. Terhubung dengan keadaan sejak Stevie lahir, mungkin tidak mudah jika kita anggap dengan kita, yang baru pada usia dewasa dipertemukan." Cassandra berusaha untuk menenangkan suaminya.


"Bukan hal itu yang aku pikirkan honey.., apakah Stevie itu tidak sadar dengan keadaanmu saat ini. Dimana hati anak itu, melihat kakak iparnya sedang hamil besar, keponakannya yang belum bisa melakukan tindakan apa-apa. Apakah sedikitpun tidak ada pikiran dalam benak gadis itu, untuk menjaga dan melindungi kalian.." seperti yang sudah diduga Cassandra, alasan keselamatan dan keamanan menjadi hal utama yang selalu menjadi prioritas utama dalam hidup Andreas Jonathan. Cassandra terdiam, mencoba untuk masuk dalam perkataan suaminya.


"Aku akan mengirimkan orang-orangku untuk melakukan penyidikan, apakah apa yang dikatakan adikku Stevie itu benar adanya. Ataukah hanya omongan bohong dari Armansyah, untuk mengelabui gadis lemah itu. Sesampainya di rumah, aku akan memerintahkan pada pengawal untuk menuju ke desa Maureen, dan menemukan keberadaan dari laki-laki tua itu.." masih dengan rasa marah, Andreas Jonathan mengatakan rencananya.


Laki-laki muda itu terus mengemudikan mobil sport dengan lihai, dan selalu menjaga kecepatan karena istrinya sedang hamil. Dalam keadaan emosi sebesar apapun, yang perlu diacungi jempol dari laki-laki muda ini adalah bisa menjaga dan melindungi istrinya dengan baik.


*********


Di belakang, Alexander mengikuti kakak iparnya mengemudikan mobil, tidak ada pembicaraan dengan Stevie di sepanjang perjalanan. Laki-laki muda itu sendiri juga merasa bingung, sudah beberapa lama menikah dengan gadis yang duduk di sampingnya, tetapi Stevie masih sering menyimpan masalahnya sendiri. Sebagai seorang laki-laki, ada rasa jengkel di dalam hati Alexander, namun dia tidak bisa mengeluarkan rasa jengkelnya.


"Kak Alex marah ya dengan sikap Stevie.., maafkan aku kak... " Stevie bertanya pada suaminya yang sejak tadi diam tidak menyapanya.


Alexander menoleh sebentar ke arah istrinya, tetapi kemudian mengalihkan lagi pandangannya dengan fokus ke depan. Kebetulan menjelang sore, jalanan  sudah mulai ramai kembali sehingga membutuhkan tingkat konsentrasi dalam mengemudi.


"Harusnya aku yang bertanya padamu Stevi.., sampai detik ini terkadang aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, Apakah kamu mau menikah denganku itu hanya karena keterpaksaan, dan sedikitpun tidak ada rasa cinta atau ketertarikan. Hal ini terpaksa aku ragukan, karena kamu selalu meninggalkanku dalam masalah-masalah penting dalam keluarga kita. Kamu lebih suka mengambil keputusan sendiri tanpa melibatkanku, dimana akhirnya hal itu menjadi masalah dalam keluarga besar kita.." setelah menghela nafas, Alexander menanggapi kata-kata istrinya.


"Bukan seperti itu kak, jujur Stevie bingung... karena papa Armansyah adalah papa Stevie di masa lalu, dan di masa kini keberadaannya menimbulkan masalah dalam keluarga kita. Bagaimana Stevie harus mengatakannya kak, sungguh Stevie bingung dan tidak tahu caranya. Tetapi untuk masalah hati kak, Stevie harap jangan pernah meragukanku.. Hanya kak Alex, satu-satunya laki-laki yang pernah dekat dan akhirnya menikah denganku.." sambil terisak, Stevie menjawab keraguan suaminya,


"Heh... waktulah yang akan menjawab semuanya Stevie.. jujur aku masih meragukanmu sampai sejauh ini. Tapi tidak perlu kamu pusingkan hal remeh ini, kita akan langsung ke rumah kak Andre. Aku akan mati-matian membelamu, karena kamu adalah istriku.. semua yang terjadi denganmu adalah tanggung jawabku. Hanya karena ketidak becusanku, sehingga aku bisa terlewatkan masalah ini.." sahut Alexander sambil tersenyum masam.


"Jangan bicara seperti itu kak Alex.., biarkan nanti Stevie yang akan menjelaskan sendiri pada kak Andre. Kak Alex tidak perlu membela atau menjawab atas nama Stevie.., karena hanya Stevie yang mengetahui apa yang Stevie rasakan sendiri.." Alexander terdiam, laki-laki itu tetap fokus mengemudi.


******


"Kak Andre.. sudahlah.. Kita semua sudah mendengarkan alasan Stevie, kenapa masih terhubung dengan Armansyah. Cobalah kita semua untuk menempatkan diri kita pada posisi Stevie.., lagian selama ini Armansyah juga belum bisa menyakiti kita bukan...?" Cassandra berusaha menenangkan suaminya yang terpancing kemarahannya karena mendengarkan penjelasan Stevie,


Alexander memeluk istrinya, berusaha untuk menghibur agar Stevie tidak semakin merasa bersalah. Sejak tadi, laki-laki itu berusaha untuk diam, karena atas pesan dari Stevie, dan juga sudah hafal dengan karakter dan sikap dari Andreas Jonathan.


"Mungkin.. saatnya kali ini, kita untuk mencoba berdamai dengan keadaan. Jangan lagi diulang-ulang kesalahan yang sama, kita coba untuk melupakan dan menjalani hari-hari dengan wajar." lanjut Cassandra,


Andreas Jonathan menatap istrinya, dan Cassandra dengan penuh perhatian fokus menatap balik ke wajah suaminya. Akhirnya laki-laki muda itu mengambil nafas dalam, dan sebenarnya rencana untuk melakukan penyelidikan di desa Maureen sudah dilakukannya. Tanpa sepengetahuan Alexander dan Stevie, Andreas Jonathan sudah memerintahkan orangnya untuk menuju ke desa Maureen. Laki-laki itu sangat protective untuk melindungi keluarganya.


"Hmm... baiklah Stevie, Alex.. aku abaikan masalah ini kali ini. Tetapi aku harap, hal ini selalu menjadi pengingat khususnya untukmu Stevie. Jangan menyepelekan posisi keluargamu, hanya karena kekhilafan kita, keluarga kita akan bisa hancur lebur dan tercerai berai. Demikian juga untukmu Alex.., awasi istrimu dengan sepenuh jiwamu.. Jangan sampai kesalahan fatal ini lagi-lagi terulang. Aku tidak mau lagi mendengarnya.." akhirnya setelah mengambil nafas panjang, Andreas Jonathan mengeluarkan pernyataan,


"Baik kak, terima kasih atas pengertiannya.." ucap Stevie lirih. gadis muda itu masih menundukkan wajahnya ke bawah. Jari-jari di kedua tangannya saling terkait satu sama lain.


Cassandra berdiri dari tempat duduknya, kemudian perempuan itu mendatangi Stevie di kursinya dan memeluk tubuh gadis itu dengan erat. Di dada Cassandra, gadis muda itu meluapkan kesedihannya, dan istri dari Andreas Jonathan itu mengusap-usap punggung perempuan muda itu.


"Sudahlah Stevie.. semua sudah berakhir.. hapuslah air matamu. Kak Andre.. bukannya marah, hanya memberikan peringatan untuk kita semua. percayalah pada kak Sandra..." Cassandra mencoba menenangkan adik iparnya itu.


Alexander dan Andreas Jonathan hanya terdiam melihat kedua perempuan itu saling berpelukan. Tidak ada kata-kata lagi yang diucapkan oleh mereka. Sepertinya mereka membiarkan keduanya melampiaskan kesedihan dengan tangisan.


********