
Nyonya Sandrina terkejut dengan jawaban petugas keamanan itu, apalagi kedua petugas keamanan segera bergegas meninggalkannya. Perempuan marah dan berteriak, namun tidak ada yang bergegas mendatanginya. Nyonya Sandrina kemudian masuk ke dalam kamar, dan melakukan panggilan keluar untuk memanggil Tuan Besar Wijaya. Namun beberapa kali panggilan dilakukan, tetap tidak ada respon sama sekali. Karena ponsel tuan besar Wijaya berada dalam kuasa Andreas Jonathan. Merasa tidak mendapatkan dukungan, nyonya Sandrina memanggil Jennifer untuk datang ke rumah,
"Ya tante.. tapi sampai jam satu siang, Jennifer sedang ada jadwal pemotretan tante, mungkin setelah itu, Jenni langsung meluncur ke mansion PIK II." ternyata Jennifer menunda kedatangan.
"Tidak bisakah kamu cancel atau undur jadwal pemotretan itu. Bilang jika dirimu sedang tidak sedang dalam kondisi yang fit.." Jennifer berpikir dengan kata-kata yang diucapkan nyonya Sandrina. Kemudian gadis itu juga melakukan evaluasi pada dirinya.
Dengan dicabutnya dukungan sumber daya dari Andreas Jonathan, saat ini dirinya sama saja dengan artis yang sedang melakukan debut. Masih dipakai sebagai artis tanpa memasukkan permintaan, atau mengajukan dirinya pada fotographer ataupun pada sutradara, sudah merupakan hal yang bagus untuknya, Kondisi yang dialami Jennifer saat ini, memang dalam keadaan yang benar-benar sulit. Apalagi untuk mendekati CEO PT. Indotrex. Tbk juga bukan merupakan hal yang mudah,
"Mohon maaf tante.. kali ini tidak bisa tante, Karena posisi Jenni sudah berada di lokasi pemotretan. Jika boleh tahu, kira-kira apa yang dibutuhkan tante Sandrina saat ini. Akan Jenni bantu dari sini tante.." Jennifer mengusulkan hal lain.
"Aku butuh dirimu saat ini sekarang Jenni.. ya sudah jika kamu memang tidak peduli lagi pada tante.." tiba-tiba nyonya Sandrina marah pada gadis itu, dan langsung mematikan ponsel.
Jennifer mengambil nafas panjang, tetapi dirinya memang tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat ini. Pemotretan untuk artis-artis papan atas sudah dilakukan, sedangkan dirinya dan para artis debut lainnya, masih harus menunggu para artis utama itu selesai. Jika saat ini, dirinya mengutamakan nyonya Sandrina. maka dirinya juga akan kehilangan peluang untuk mengembalikan namanya secara perlahan.
********
Di rumah sakit
Mengetahui jika istrinya sedang dalam perjalanan ke rumah sakit dengan Alexander, Andreas Jonathan menunggu kedatangan Cassandra di pintu lobby rumah sakit. Hanya berpisah semalam dengan istrinya, ternyata membuat laki-laki muda itu seperti kehilangan pegangan. Beberapa saat berdiri menunggu, terlihat istrinya berjalan di samping Alexander, dan Andreas Jonathan segera mendatangi perempuan itu.
"Honey.. bagaimana keadaanmu sayang.." tidak menghiraukan situasi di lobby rumah sakit yang banyak terdapat beberapa orang di tempat itu, Andreas Jonathan memeluk Cassandra,
Alexander yang berjalan disisi Cassandra segera bergeser menyamping, dan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat betapa posesifnya tuan muda itu. Mungkin karena merasa risih, Cassandra mendorong dada suaminya agar sedikit menjauh, kemudian mengambil tangan kanan laki-laki itu dan mencium punggung tangannya. Andreas Jonathan merasa bangga diperlakukan istrinya seperti itu di muka umum, kemudian merangkul bahu Cassandra dan mengajaknya ke dalam untuk menemui tuan besar Wijaya.
"Papa.." Cassandra kaget melihat keadaan papa mertuanya. Laki-laki tua itu terbaring di atas bed rumah sakit, dengan selang infus tertancap di pergelangan tangannya, juga ada tabung oksigen yang terhubung dengan selang di hidung laki-laki itu. Wajah tuan besar Wijaya terlihat pucat..
"Kenapa papa kak..." Cassandra melihat ke arah suaminya, kemudian bertanya dengan lirih.
"Tenanglah honey.., papa sudah melewati masa kritis. Semalam sampai menjelang pagi, sempat mengalami keadaan yang harus dipantau kesehatannya oleh dokter. Tapi syukurlah.. beberapa saat lalu, masa kritis papa sudah lewat." Andreas Jonathan yang biasanya terlihat gagah meskipun usia sudah memasuki senja, saat ini terlihat lemah tidak berdaya.
Cassandra berjalan mendekat dan berdiri di samping kepala tuan besar Wijaya, dan Andreas Jonathan mendampinginya. Tiba-tiba mata laki-laki tua itu membuka, dan melihat menantunya berdiri di sisinya.
"Iya papa..., Sandra disini. Papa istirahat saja dulu.. tidak boleh banyak bergerak dulu.." melihat papanya akan mencoba duduk, Cassandra melarangnya. Akhirnya tuan Wijaya menurut, dan tampak terlihat rona kebahagiaan di mata laki-laki tua itu. Melihat ada air mata di sudut mata tuan Wijaya, Cassandra mengambil tissue dan membuatnya jadi lipatan kecil kemudian mengusap air mata itu.
Melihat istrinya yang sedang menemani papa, Andreas Jonathan mengajak Alexander keluar dari dalam kamar. laki-laki itu sudah tidak sabar ingin mendengar apa sebenarnya yang terjadi di dalam mansion PIK II.
"Apakah kamu sudah urus semuanya Alex..?" ekspresi wajah CEO PT. Indotrex. Tbk itu berubah menjadi tidak enak dilihat.
"Sementara sudah tuan muda.., tapi saya belum sempat memanggil Jennifer, dan melakukan klarifikasi sebenarnya apa yang terjadi. Para pengawal di rumah, dan para ART sudah saya minta untuk tutup mulut tidak memberi tahu pada Nyonya besar, jika tuan besar masuk ke rumah sakit." Alexander melaporkan apa yang sudah dilakukannya,
"Dimana barang yang kamu maksud sekarang.., apakah kamu sudah memastikan jika penyimpanannya aman." Alexander secara garis besar sudah mengirimkan foto apa yang ada di dalam kresek putih, dan Andreas Jonathan juga sudah mengetahui, rekaman CCTV yang menjadikan nyonya Sandrina dan Jennifer menjadi tersangka untuk kasus penyebab tuan Wijaya masuk rumah sakit.
"Aman tuan muda.. nanti siang ada ustadz yang saya datangkan untuk berdoa di rumah. Meskipun tidak percaya, namun jaga-jaga saja siapa tahu ada energi negatif yang tertinggal, dan dapat menimbulkan efek bahaya dalam rumah itu.." lanjut Alexander.
"Kenapa aku tidak memikirkannya, aku harus secepatnya membawa Altezza keluar dari mansion itu. Aku khawatir putraku akan menyerap energi negatif itu Alex.. Jika hal itu berlaku pada jaman dulu, aku hanya akan mengabaikannnya, tidak akan jauh berpikir akan hal ini, Tapi untuk saat ini, aku memiliki bayi yang harus aku pastikan keselamatannya." tiba-tiba Andreas Jonathan terlihat panik,
Laki-laki muda itu bergegas masuk kembali ke dalam kamar perawatannya papanya, dan langsung mendatangi Cassandra.
"Honey.. kita harus secepatnya kembali untuk membawa pergi Altezza. Jika honey tidak berkenan kita pulang ke apartemen, untuk sementara kita akan pulang ke pent house, sambil menunggu rumah lain disiapkan untuk kita." tanpa memandang situasi, Andreas Jonathan terlihat panik.
"Andre.. ada apa ini, apa ada hal yang gawat sampai kamu mengajak istrimu pergi dari dalam mansion..?" dengan suara pelan, tuan Wijaya bertanya pada putranya.
"Papa.. papa jangan banyak berpikir dulu ya pa.. Kak Andre sejak dulu kan memang suka berperilaku impulsive, tidak mau tahu yang lainnya, yang penting keinginannya harus dipenuhi. Papa ditemani kak Alex dulu ya pa, Sandra mau menemani kak Andre sebentar.." sambil tersenyum, cassandra mencoba menenangkan papa mertuanya.
"Iya putriku.. temani suamimu.." ucap Tuan besar Wijaya sambil tersenyum,
Cassandra menundukkan wajah kemudian mencium tangan laki-laki tua itu, kemudian meninggalkan papa untuk pergi keluar bersama suaminya.
**********