CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 38 Kecurigaan



Samsul tersenyum pucat melihat kedatangan Cassandra, bahkan laki-laki itu tidak percaya mendapat kunjungan dari gadis yang selalu menyapanya dengan ramah itu. Melihat kedatangan Cassandra, dokter tersenyum dan bergeser ke samping, memberi ruang agar gadis itu bisa mendekat ke sisi ranjang.


"Bagaimana dokter keadaan Samsul, sakit apa yang dideritanya.." Cassandra dengan ramah menanyakan keadaan Samsul pada dokter yang sejak tadi memeriksanya.


"Begini non.., seharusnya mas Samsul ini dirujuk ke rumah sakit, karena saya khawatir jika dia mengalami dehidrasi. Tetapi sejak tadi laki-laki ini menolak, dengan alasan tidak mau meninggalkan pekerjaan. Nona bisa melihatnya sendiri, lemas dan pucat bukan wajah Samsul..?" tidak diduga, dokter malah mengadukan sikap penolakan dari laki-laki muda itu,


"Apakah benar begitu Samsul.. kamu tidak bisa bertahan hanya dengan kemauanmu sendiri. Dokter lebih mengetahui bagaimana kondisimu Samsul.." Cassandra menoleh ke arah Samsul, dan berkata pada laki-laki itu.


Laki-laki itu tersenyum kecut, membayangkan punishment apa yang akan diterimanya, jika dia menuruti apa yang dikatakan oleh dokter. Kehilangan uang makan, potongan ketidak hadiran akan diterimanya dari yayasan yang mengirimkannya ke perusahaan ini,


"Kenapa kamu malah melamun Samsul, apakah ada yang mengganggu pikiranmu," melihat Samsul malah melamun, Cassandra kembali menegaskan pertanyaannya.


"Saya tidak apa-apa Non Sandra.., paling hanya salah makan saja. Tetapi dari kemarin saya hanya makan makanan yang sudah biasa saya makan non.., tidak ada yang lain. Hanya tadi pagi, saya makan snack yang diberikan non Sandra.. yang dikirimkan oleh karyawan yang sedang melakukan tasyakuran. Masak dari makanan itu.." Samsul berbicara sendiri.


Mendengar perkataan Samsul, Cassandra terkejut. Perempuan itu melihat ke arah dokter yang masih berdiri di sampingnya, tatapan Cassandra menunjukkan banyak pertanyaan di dalamnya.


"Dokter.., sebenarnya apa yang terjadi. Coba dokter ceritakan, apakah sakit yang dialami Samsul ini bersumber dari makanan." Cassandra segera mencari tahu.


"Iya non.., mas Samsul ini menderita penyakit perut. Hasil laboratorium menyimpulkan, faktor makanan sebagai pemicu kondisi yang dialami oleh mas Samsul. Terlalu banyak kandungan obat pencahar dalam makanannya, bahkan bisa saya katakan jika melebihi dosis. Makanya saya rekomendasikan agar mas Samsul untuk sementara istirahat di rumah sakit, agar infus membantunya untuk bertahan.." dokter segera menjelaskan apa yang dialami oleh Samsul.


Mendengar penjelasan itu, Cassandra terkejut dan melihat ke arah Samsul. Harusnya makanan yang dikonsumsi Samsul diberikan untuk dirinya, tetapi diberikannya pada laki-laki itu. Cassandra berpikir sejenak, dan membuat simpulan jika ada karyawan yang ingin bermaksud buruk kepadanya. Apesnya , makanan itu dikonsumsi oleh Samsul, bukan untuk dirinya.


"Samsul.. apakah masih ada sisa makanan tasyakuran itu yang belum kamu makan? Jika masih, kamu letakkan dimana, aku curiga ada sesuatu dalam makanan itu." otak Cassandra segera bertindak.


"Masih ada satu kue pastel non.. tadi saya tinggalkan di atas lemari nakas tempat saya bertugas." Samsul menjawab pertanyaan Cassandra, dan tidak tahu maksud dari pertanyaan itu,


"Dokter.. laboratorium mana yang tadi memeriksa darah Samsul, Aku membutuhkannya untuk memeriksa sampel makanan." Cassandra bertindak cepat.


"DI laboratorium di ruangan ini. Jika sampel makanan sudah ada, aku bisa membantu untuk melakukan pengujian." dokter ikut terpengaruh dengan respon Cassandra, sehingga tanpa sadar laki-laki itu memberi penawaran pada gadis itu.


"Baik dokter.. mohon tunggu sebentar." Cassandra segera bergegas berbalik arah, gadis itu segera keluar dari ruangan itu untuk menuju ke lobby.


********


"Ditelpon tidak diangkat, ternyata di ruangan juga tidak ada. Kemana Cassandra..?" Andreas Jonathan berbicara pada dirinya sendiri. Laki-laki itu mengedarkan pandangan ke sekeliling, namun tetap tidak menemukan perempuan yang sedang dicarinya.


"Alex.. apakah kamu tahu dimana Cassandra..?" merasa jengkel tidak menemukan gadis itu, Andreas berteriak marah memanggil Alexander,


Dari dalam ruang kerjanya, Alexander bergegas keluar untuk menemui CEO perusahaan. Laki-laki itu mengerutkan kening, melihat ekspresi tidak menyenangkan di wajah Andreas Jonathan.


"Tuan muda.. what happend?? Ini jam istirahat, pasti Cassandra sedang beristirahat, mungkin mencari makan atau kemana. Bukannya tadi jatah makan Cassandra, tuan muda ambil dan habiskan. Wajar saja, jika gadis itu memutuskan makan di tempat lain." sambil tersenyum, Alexander menjawab pertanyaan laki-laki itu.


Andreas Jonathan terdiam sebentar membenarkan apa yang dikatakan oleh Alexander. Tetapi kali ini, laki-laki itu ingin menikmati kopi panas, dan tidak mau tahu harus segera tersedia.


"Aku tidak mau tahu Alexander.. segera cari dan temukan gadis itu. Minta dia untuk membuatkan satu cangkir black coffee untukku. Cepat.." sambil berjalan masuk kembali ke dalam ruangannya, Andreas Jonathan bersuara dengan nada tinggi,


Alexander mengambil nafas panjang, dan geleng-geleng kepala melihat sikap yang ditunjukkan oleh laki-laki itu. Akhirnya dengan pikiran yang lebih panjang, Alexander mengikuti laki-laki itu masuk ke dalam ruangannya. Di dalam ruangan CEO, Alexander menyalakan screen monitor di depan ruang kerja. Tidak lama kemudian layar monitor menunjukkan rekaman CCTV seantero gedung PT. Indotrex. Tbk.


"Tuan muda.. ikuti rekaman CCTV  di ruang kerja Sandra, kita akan mencari tahu dimana keberadaan gadis itu." tanpa menunggu jawaban dari Andreas Jonathan, Alexander menggerakkan rekaman CCTV dari awal Cassandra keluar dari dalam ruang kerjanya.


Kedua laki-laki itu mengerutkan kening, ketika melihat Cassandra keluar dari lift di lantai dua, kemudian masuk di ruang kesehatan. Lebih terkejut lagi ketika mereka melihat Cassandra berbincang dengan dokter dan laki-laki yang berbaring di atas ranjang dengan sangat akrab.


"Siapa laki-laki yang tidur di ranjang itu Alex.., apakah dia pacar gadis itu. Terus yang sering mengantar jemputnya, itu juga siapa. Wajahnya berbeda dengan laki-laki yang sedang tiduran itu.." tiba-tiba Andreas Jonathan berceletuk.


"Kita sama-sama tidak tahu tuan muda.., nanti jika Sandra sudah kembali ke ruang kerjanya, kita bisa menanyainya secara langsung. Yang pasti, sepertinya gadis itu sedang membantu teman kerjanya, tetapi siapa laki-laki yang berbaring itu, aku juga tidak mengenalnya. Tetapi pasti dari perusahaan ini, karena hanya karyawan PT. Indotrex. Tbk yang diperbolehkan memanfaatkan perawatan dan fasilitas di ruang kesehatan itu." Alexander menjelaskan.


Andreas Jonathan terdiam, seakan membenarkan perkataan Alexander. Tidak ada manfaatnya mereka saling menebak, karena mereka bisa bertanya sendiri pada pelakunya.


"Ya sudah.. panggil segera Cassandra kemari secepatnya. Minta dia untuk membuatkan hot black coffee.." tanpa mau tahu, Andreas Jonathan memberi perintah pada Alexander. Wakil CEO itu hanya mengambil nafas, kemudian segera keluar dari ruang kerja atasannya itu.


********