
Rumah Kalasan
Nyonya Dhini yang sedang membersihkan halaman dari daun-daun kering yang rontok, tampak berkali-kali melihat ke atas pohon. Suara burung prenjak dari kemarin sore terus berbunyi, seakan memberi informasi kepadanya jika akan ada tamu yang akan datang ke rumah. Armand putra kedua Nyonya Dhini dengan Hanafi, mendatangi mamanya karena merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh mamanya.
"Mam.. sejak tadi mama melihat terus ke atas pohon mangga dan rambutan. Apa ada sesuatu yang menarik disana mam, Armand bisa bantu untuk mengambilkannya.." Armand bertanya pada mamanya. Sejak kepergian Hanafi dari rumah itu, nyonya Dhini ditemani Armand tinggal berdua di rumah itu, Sebenarnya Andreas Jonathan dan Alexander berkali-kali menawarkan kepadanya untuk mengirimkan ART, namun perempuan paruh baya itu selalu menolaknya. Tinggal di desa, dengan tetangga yang saling berdekatan bisa membantu masalah yang akan dihadapinya.
"Tidak ada Armand, hanya dari kemarin kenapa burung prenjak terus berkicau di dahan pohon itu. Kata orang-orang jaman dulu, jika burung prenjak terus berkicau di tempat yang sama, katanya akan ada tamu jauh yang akan datang ke rumah ini. Makanya mama melihatinya Armand.., karena sudah dua hari mama terus mendengarnya." Nyonya Dhini menanggapi pertanyaan putranya.
"Ha.. ha..ha.., lucu dan aneh ma.. Baru kali ini ada hubungan antara suara kicauan burung prenjak, dengan tamu yang akan datang berkunjung. Coba nanti akan Armand sampaikan pada guru Armand ma.., siapa tahu pak guru akan melakukan penelitian tentang itu." sambil tertawa, Armand menanggapi mamanya.
"Wah anak sekarang.. jika bertanya, dijawab orang tua, mesti malah ngeyel saja, Bagaimana apakah nasi yang tadi mama masak sudah matang. Jika sudah, ayo kita sarapan dulu saja, kita tinggalkan dulu burung prenjaknya." perempuan paruh baya itu mengalihkan pembicaraan.
"Sudah ma.. kedatangan Armand kesini itu karena ingin memberi tahu mama. Sudah ma, kita tinggalkan saja burung prenjaknya, biar memanggil teman-temannya untuk meramaikan halaman rumah kita."
Akhirnya Nyonya Dhini dan Armand masuk ke dalam rumah, dan karena mereka akan menuju ke arah dapur, Armand menutup pintu rumah depan dan menguncinya dari dalam, Keduanya segera menuju ke meja makan, dan nyonya Dhini mencuci tangannya menggunakan air dari wastafel,
"Ini piring dan sendoknya ma.." Armand meletakkan piring dan sendok di depan meja yang diduduki mamanya.
Perempuan itu segera mengambil nasi yang sudah diletakkan di dalam mangkuk oleh Armand, kemudian mengambil sayur lodeh dan ayam goreng untuk pelengkapnya.
"Jika kita makan sayur lodeh seperti ini, mama jadi teringat kakakmu Cassandra.. Armand. Kakakmu dulu sangat menyukai sayur lodeh, dan tempe garit. Tapi kesempatan untuk melihat kakakmu makan seperti dulu, sejak papa kak Sandra masih hidup tidak bisa lagi." kembali tanpa sadar, Nyonya Dhini melakukan curcol pada anak laki-lakinya.
"Hmm..., sepertinya mama itu kangen banget ya dengan kak Sandra.. Nanti Armand coba telpon kakak ma.., siapa tahu nanti kakak mengirimkan alamat pada kita, dan nanti kita bisa menggunakan transportasi kereta api untuk berkunjung ke rumah kakak di Jakarta. Armand juga sangat kangen ingin ketemu dengan Altezz mam.. keponakan ganteng Armand.." anak laki-laki kecil itu menanggapi curcol mamanya.
"Benar apa yang kamu katakan Armand.. kita akan berkunjung ke Jakarta. Waktu kakakmu melahirkan di kota Solo, sebenarnya kakak iparmu sudah mengajak mama untuk ikut ke Jakarta. karena mempertimbangkan sekolahmu, mama tidak mau kala itu. Pasti Altezz sudah besar saat ini Armand..." Nyonya Dhini tersenyum membayangkan wajah cucunya.
**********
"Honey.. kasihan Altezz kepanasan, kita harus segera menuju teras rumah mama.." Andreas Jonathan mengingatkan istrinya, kemudian menggandeng Cassandra dan mengajaknya untuk menuju teras.
Suster pengasuh yang tengah menggendong Altezz segera mengikuti tuan dan nona mudanya. Di belakang, terlihat tuan Abraham dan nyonya Sheilla juga mengikuti mereka. tuan Abraham memegang payung, dan berusaha memayungi mantan istrinya. Cassandra tersenyum melihat hal itu, tetapi gadis itu tidak banyak bicara.
"Tok.. tok.. tok.." pengawal mengetuk pintu rumah, karena tidak mereka lihat ada bel pintu di sekitar tempat itu.
Beberapa saat mereka menunggu, namun belum terdengar ada suara orang membukakan pintu. Pengawal mengulangi kembali dengan mengetuk pintu sebanyak tiga kali.Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki menuju ke arah pintu, dan pintu dibuka dari dalam.
"Kak.. kak Sandra... mama.. ada kak Sandra.." bukannya menyambut dan mempersilakan tamu untuk masuk ke dalam, Armand langsung berlari ke arah dalam untuk memanggil mamanya.
Cassandra tersenyum, kemudian membalikkan badannya untuk mempersilakan mama dan papa mertuanya untuk masuk ke dalam. Andreas Jonathan sudah mendahului rombongannya masuk ke dalam rumahm dan langsung duduk di atas kursi yang terbuat dari anyaman rotan.
"Mama.., papa.. silakan masuk ke dalam. Ini rumah keluarga Sandra pa.., ma.., dan tadi adalah adik Cassandra, namanya Armand." sambil mengambil alih Altezz dari gendongan suster Rosana, Cassandra memerintahkan kedua orang tua suaminya itu masuk ke dalam.
Nyonya Sheilla dan tuan Wijaya segera masuk ke dalam rumah, dan keduanya duduk berdampingan. Jika ada orang yang baru melihat dan bertemu mereka, pasti akan mengira jika mereka adalah pasangan suami istri. Terlihat driver dan dua orang pengawal masuk dengan membawa banyak oleh-oleh di tangan mereka. Cassandra mengarahkan orang-orang itu untuk menempatkan oleh-oleh di atas meja. Setelah itu, sambil menggendong Altezz, Cassandra masuk ke dalam untuk mencari mamanya.
Andreas Jonathan mengikuti istri dan putranya masuk ke dalam, dan menemui Nyonya Dhini yang masih berada di dapur. Armand tampak tersenyum melihat Altezz, dan mengulurkan tangan untuk menggendong keponakannya itu. Perlahan Cassandra memberikan Altezz ke gendongan anak laki-laki itu.
"Kalian datang nak.. benar sekali firasat mama sejak kemarin, karena diingatkan oleh burung prenjak yang ada di atas pohon mangga. Ternyata kalian datang hari ini.." Nyonya Dhini langsung memeluk putrinya, dan mematikan kompor.
"Burung prenjak.. apa itu..?" Andreas Jonathan merasa bingung mendengar pernyataan dari mama mertuanya.
"he.. he.. he.., burung prenjak itu bentuknya kecil hampir mirip dengan burung pipit kak.. Orang-orang jaman dulu, sering menggunakan burung itu sebagai pertanda baik. Bahkan jika di masa kecil Cassandra, setiap pohon tempat burung itu berkicau sudah memiliki tanda, siapa yang akan datang ke rumah, dan beberapa kasus hal itu akurat kak.." Cassandra menjelaskan tentang keberadaan burung prenjak pada suaminya.
*********