CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 143 Maafkan Aku Sheilla



Herlambang hanya tersenyum mendapat jawaban yang diberikan Cathy.., tetapi perempuan bernama Cathy itu yang selalu memberinya pertolongan ketika anak muda itu merasa bingung dengan pekerjaan dan lingkungan barunya. Akhirnya semua perkataan pedas, maupun sikap perempuan itu yang sering mendapatkan kritik dari sebagian teman di kantor itu, diabaikan oleh anak muda itu.


"Oh ya Herlam.., apakah atasanmu sudah melakukan pemetaan karyawan, untuk membuat rencana pengembangan karyawan di perusahaan. Jangan disepelekan himbauan itu, tuan muda Andreas Jonathan selalu punya komitmen penuh untuk pengembangan kita. Bahkan beberapa manajer level atas, dulu mendapatkan promosi setelah mereka diikutkan off the job training di beberapa perusahaan di Jepang. Kamu harus bersaing untuk mendapatkannya Herlam.." tiba-tiba Herlambang merasa jika Cathy menyemangatinya.


"Iya miss Cathy.. saya akan bersaing dengan karyawan yang lain. Meskipun jujur ya miss, motivasi saya yang sudah menjadi prioritasku adalah mendapatkan informasi tentang keberadaan miss Casandra. Aku ingin bertemu dan mengetahui kabarnya terakhir.." sambil tersenyum, jawaban anak muda itu mengejutkan miss Cathy.


"Herlambang... jangan gila kamu. Jaga bicaramu... dinding di kantor ini bisa diibaratkan memiliki mata dan telinga. Kamu bisa habis jika terlalu banyak bicara sembarangan.." sambil menengok ke kanan dan ke kiri, Cathy memberikan teguran pada Herlambang.


"Aku akan menunggunya miss.., aku hanya ingin tahu apa yang bisa mereka lakukan untuk mem pressure ku, hanya karena aku ingin menemukan miss Cassandra." dengan tersenyum smirk, anak muda itu menanggapi ucapan Cathy.


Cathy terkejut, namun dengan mata melotot gadis itu memberi peringatan pada Herlambang, Tetapi rupanya, Herlambang sedikitpun tidak jengah ataupun tajut, sejak tadi anak muda itu hanya senyum-senyum saja melihat reaksi yang ditunjukkan Cathy. Herlambang memang tidak menceritakan bagaimana kedekatannya dengan istri dari orang nomor satu di perusahaan itu, namun beberapa memang sudah mengetahui karena ketika Cassandra belum menjadi istri dari tuan muda Andreas Jonathan, sering diantar jemput oleh anak muda itu,


"Jujur Herlam... berbincang denganmu, membuatku seperti naik roll coaster, terlalu beresiko tinggi. Sepertinya kamu memang belum tahu, dan belum paham bagaimana sikap tuan muda, serta asisten pribadinya tuan Alexander. Kedua anak muda berpengaruh itu sangat bertekuk lutut, dan sangat menghormati miss Cassandra, jauh melebihi apa yang aku tahu. Untuk itu aku sarankan, hempas kembali rasa cinta atau perasaanmu untuk nona muda perusahaan ini." merasa bosan sejak tadi berusaha menyadarkan anak muda itu tapi tidak berhasil. akhirnya miss Cathy berjalan meninggalkan Herlambang sendirian,


"Miss Cathy... atau siapapun tidak akan dapat mendeskripsikan bagaimana perasaanku pada Cassandra. Bagaimana ada keinginan dalam hatiku untuk memberinya pertolongan, merengkuhnya, atau bahkan bisa jadi ingin membawanya pergi. Namun aku juga dilahirkan sebagai pria dari suku Jawa, yang selalu menggunakan akal pikiran yang sehat, sebelum melakukan sesuatu. Hanya aku sendiri yang tahu bagaimana perasaanku untuk Cassandra." Herlambang bergumam sendiri. Laki-laki itu kemudian melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruangan itu, untuk menuju ke ruang kerjanya sendiri.


Beberapa saat laki-laki itu berjalan, pandangan Herlambang bertatapan dengan ALexander yang berjalan masuk dan menuju ke arahnya. Sebagai karyawan yang meskipun sudah memiliki jabatan di perusahaan itu, dengan sopan Herlambang berjalan ke pinggir, kemudian memberi hormat pada Alexander yang tampak hanya berjalan sendiri itu.


"Selamat siang tuan Alex.." dengan sikap hormat, Herlambang menyapa asisten pribadi tuan muda Andreas Jonathan.


"Selamat siang mas Herlam.., bagaimana sudah bisa beradaptasi bukan dengan perusahaan di kantor pusat.." dengan ramah, ternyata ALexander menanggapi sapaan yang diberikan kepadanya.


"Alhamdulillah sudah tuan Alex.., human resources di perusahaan ini sangat luar biasa. Mereka bisa menerima saya dengan baik, dan tidak mengucilkan saya meskipun hanya sebagai orang baru di perusahaan." dengan ramah, Herlambang memuji SDM perusahaan tersebut.


Herlambang hanya senyum-senyum sambil geleng-geleng kepala, dan tidak lama kemudian anak muda itu berjalan meninggalkan tempat itu.


************


Di dalam sebuah ruangan di hotel, tampak Nyonya Sheilla sedang duduk berdua dengan tuan Wijaya. Keduanya memang sudah bisa menerima dan berusaha untuk berdamai dengan keadaan. Alexander memberikan ruangan itu kepada mereka, sebelum anak muda itu pergi kembali ke kantornya. Selain itu Alexander juga meminta Stevie untuk meninggalkan mamanya sementara dengan tuan besar Wijaya, karena banyak hal yang belum terurai dari kesalah pahaman dalam hubungan keduanya. Untungnya gadis itu tidak banyak pertanyaan, dan segera menuruti apa yang dipesankan oleh anak muda itu.


"Sheilla.. dengarkan kata-kataku..! Ada hubungan apa antara dirimu dengan Armansyah.. apakah kamu berselingkuh di belakangku, seperti yang aku temukan waktu itu?" tiba-tiba tuan Wijaya mencecar pertanyaan pada Nyonya Sheilla.


"Wijaya.. apakah tidak terlambat pertanyaanmu untukku yang baru kamu tanyakan pada hari ini. Armansyah adalah penolongku WIjaya.., meskipun banyak orang mengecam untuknya. Tanyakan pada laki-laki itu, apa yang dia dapatkan hanya demi menolongku.." dengan senyum smirk, Nyonya Sheilla balik bertanya pada Wijaya.


"Semua sudah terlambat Wijaya.. kita sudah memiliki kehidupan sendiri-sendiri saat ini. Aku dengan hidupku, demikian pula dirimu dengan kehidupanmu. Tidak perlulah kita untuk saling mengganggu.." lanjut Nyonya Sheilla sambil mengalihkan pandangan.


Wijaya terdiam, teringat dengan kesalahan-kesalahan yang dilakukannya di masa lalu. Hanya dengan selembar kertas yang diberikan Sandrina, dan hasutan tentang perilaku Sheilla, dengan kejam dirinya pergi meninggalkan Sheilla, kemudian menikahi Sandrina. Informasi terakhir, Sheilla dibawa pergi oleh Armansyah, dan diajaknya ke negara Singapura. Bahkan ketika keduanya menikah, bersama dengan Sandrina, Wijaya menghadiri pernikahan itu. Tiba-tiba laki-laki itu saat ini merasa tidak tahu apa-apa, dan teringat pada masa itu hanya dibutakan oleh hasutan dari Sandrina.


"Maafkan aku Sheilla, maafkan semua kesalahan di masa lalu dan saat sekarang. Tapi tidak bisakah aku mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dan bisakah kamu menjelaskannya padaku.." dengan tatapan sedih, tuan Wijaya meminta Sheilla untuk menjelaskannya,


Nyonya Sheilla masih terdiam, dan hanya sekilas melihat pada laki-laki itu. Rasa sakit ketika diusir dari rumah mereka kala itu, kemudian mendengar kabar jika Wijaya menikah dengan Sandrina masih terasa nyerinya sampai saat ini. Meskipun tidak bisa memberikan apa-apa pada Armansyah, hanya semua hartanya diporotin oleh laki-laki itu, tetapi laki-laki itu memberinya status baru. Sejak saat itu, Sheilla merasa jika Armansyah sebagai penyelamatnya.


"Sheilla.. tidakkah kamu mendengar perkataanku Sheilla.." sejak tadi tidak mendengarkan kata-kata nyonya Sheilla, terlihat tuan Wijaya bersikap melemah di hadapan perempuan paruh baya itu. Laki-laki itu sampai menjatuhkan kedua lututnya di atas lantai, untuk mendapatkan tanggapan dari perempuan itu.


*********