CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 243 Kepolosan Altezza



Hari-hari berikutnya


Kehamilan Cassandra semakin hari semakin bertambah besar, dan untuk memastikan keamanan istri dan juga putranya Altezza, Andreas Jonathan memanggil dokter Stewart di mansion. Bahkan untuk memantau perkembangan bayi yang dikandung oleh istrinya, laki-laki itu sampai membeli seperangkat peralatan USG 4 dimensi seharga hampir satu milliar rupiah jika dirupiahkan. Peralatan apapun yang tidak dimiliki, dan itu dibutuhkan untuk pemantauan kondisi kehamilan, akan diadakan oleh Andreas Jonathan. Di dalam hati, Cassandra merasa bangga dan bahagia dengan besarnya perhatian yang diberikan oleh suaminya, namun terkadang rasa kejenuhan juga melandanya. Tetapi untungnya, setiap pagi jika ada waktu, Andreas Jonathan masih tetap menemaninya jalan-jalan pagi.


"Andre.., Sandra.., besok pagi, papa dan mama akan kembali ke Canada. Ada urusan perusahaan yang harus segera papa selesaikan. barusan manajer operasional mengirimkan kabar.." tiba-tiba tuan Wijaya  datang, dan mengajak bicara Andre dan Sandra yang sedang menikmati camilan pagi.


Andreas Jonathan dan Cassandra menoleh ke arah sumber suara, kemudian tersenyum sambil melihat ke arah papa mereka.


"Papa duduk dulu pa.., semua bisa dibicarakan." Cassandra mempersilakan papa mertuanya untuk duduk di kursi yang ada di depannya.


Laki-laki tua itu kemudian duduk di kursi depan menantunya itu, tetapi terlihat jika tuan Wijaya seperti sedang menyembunyikan sesuatu. tetapi ada keengganan dalam tatapan matanya untuk bercerita pada  Andreas Jonathan putranya.


"Kenapa mendadak sekali pa, tidak bisakah anak buah papa itu mengurus perusahaan. Orang tua masih diminta terbang kesana kemari. Jika memang mereka tidak becus, Andre ambilkan anak buah pada perusahaan Andre yang ada di Jakarta," mendengar kata-kata papanya,  Andreas Jonathan tiba-tiba naik darah.


Melihat suaminya terpancing kemarahan, Cassandra memegang lengan suaminya untuk menghentikan laki-laki itu mengungkapkan kekesalannya. Di depan mereka duduk, tuan Wijaya terdiam sambil mengalihkan pandangan ke tempat lain. Hal itu ternyata malah memancing emosi  Andreas Jonathan.


"Kak Andre.. cobalah kak, ambil nafas panjang kemudian hembuskan. Kita doakan saja agar papa segera selesai urusan di Canada, kemudian kita bisa kembali berkumpul bersama di negara ini. Bagaimanapun karena semua asset di Canada masih atas nama papa, ya pastilah kak, suatu waktu pasti papa harus unjuk muka ke Canada." akhirnya dengan kata-kata, Cassandra menenangkan suaminya.


Meskipun masih merasa jengkel, tetapi begitu mendengar istrinya sudah berbicara,  Andreas Jonathan akan berpikir seribu kali untuk membantahnya. Laki-laki itu terdiam, tetapi wajahnya tidak enak untuk dilihat.


"By the way pa.., apakah papa dan mama akan menempuh perjalanan ke Canada hanya berdua saja..? Bagaimana jika kak Alex dan Stevie ikut menyertai mama dan papa sementara. Nanti bisa gunakan private jet, toh hanya menganggur di bandara." Cassandra membuat usulan.


"Nanti bisa papa pertimbangkan usulanmu Sandra.. tetapi sepertinya cukup papa dan mama saja yang ke Canada. Toh.. juga ada beberapa pengawal yang pasti akan dikirimkan suamimu, untuk menemani dan mengamankan perjalanan kami berdua.. Jangan terlalu banyak berpikir, papa dan mama sudah sering melakukan perjalanan berdua saja." tuan Wijaya menanggapi perkataan menantunya.


"Hmm.. ya sudah pa jika begitu kemauan papa dan mama, kami akan menghormatinya, Tetapi tetap untuk penerbangannya, jangan gunakan penerbangan komersil karena akan memakan waktu lama, dan berbahaya dalam perjalanannya." kembali Cassandra menegaskan.


Laki-laki tua itu hanya tersenyum dan manganggukkan kepala, tidak mambantah usulan baik dari putri menantunya itu.  Andreas Jonathan juga terdiam, tidak menambah atau mengurangi kata-kata yang diucapkan oleh istrinya.


********


"Papa.. perjalanan private jet terschedule pukul delapan pagi dari bandara Zurich. Padahal saat ini masih pukul enam lebih lima menit. Ada baiknya kita menunggu di coffee shop dulu, sambil menunggu pesawat siap untuk diberangkatkan.." Alexander dengan hati-hati mengatur keberangkatan papa dan mama mertuanya.


"Okay.. papa dan mama juga tidak begitu tergesa-gesa Alex, masih ada waktu untuk kita sekedar mengisi perut. Mau di coffee shop mana kita.." tuan Wijaya dengan cepat merespon ajakan putra menantunya itu.


"Kita ke Starbucks saja pa, itu waiters sudah siap melayani pengunjung sepagi ini.." melihat pelayan yang sudah ready di depan pintu akses masuk menuju ke coffee shop itu,  Andreas Jonathan mengajak semuanya menuju ke tempat tersebut. Melihat putranya yang tampak kesusahan mengejar langkah kaki para orang tua, dengan sigap  Andreas Jonathan membawanya dalam gendongan. Di sebelah laki-laki itu, Cassandra dengan perut yang sudah membuncit terlihat berjalan di samping suaminya.


"Selamat datang di Starbucks Coffee, untuk berapa orang agar bisa kita siapkan tempatnya.." dengan ramah, waiters coffee shop itu menyapa mereka.


"Enam orang dewasa, dan siapkan satu kursi untuk kid.." Alexander menyebutkan jumlah mereka.


Waiters itu segera mengangkat microphone yang ada di tangannya, seperti sedang berkoordinasi dengan sesama waiters lainnya. Tidak lama kemudian...


"Tuan dan nona.., di tempat bagian dalam dengan table number zero seven, teman saya sudah menunggu disana. Silakan masuk, dan bisa memesan menu pada rekan saya.. Selamat pagi.." waiters segera mengatakan nomor meja untuk mereka berenam.


Ke enam orang dewasa itu segera masuk ke dalam coffee shop, dan segera duduk di tempat yang disiapkan untuk mereka. Seorang waiters segera mendatangi meja itu, kemudian mendata minuman dan pesanan mereka.


"Tavana Chamomile satu, Espresso dua, yang empat caramel Machiato. Untuk snack siapkan cheese bake saja.." dengan cepat, Alexander menyampaikan menu pesanan mereka agar menyingkat waktu. Laki-laki muda itu sampai hafal kesukaan dari satu persatu keluarga istrinya.


"Siap tuan.., mohon kesabaran untuk menunggunya." setelah membungkukkan badan, waiters berjalan meninggalkan keluarga Wijaya.


Sambil menunggu minuman dan snack mereka dihidangkan, Andreas Jonathan mengusap perut Cassandra perlahan, kemudian memberikan ciuman di atasnya. Altezza mengamati apa yang dilakukan oleh papanya itu.


"Papa... apakah dulu ketika mommy hamil Altezz, papa juga melakukan hal yang sama seperti itu..?" Andreas Jonathan dan Cassandra terkejut mendengar celoteh polos putranya. Keduanya saling berpandangan...


"Pasti Altez.., bahkan Uncle nih saksinya. Ketika mommy melahirkan Altezz, di rumah sakit yang ada di kota Solo, papa Andre menunggui prosesnya dari awal, sampai Altezz keluar dari perut mommy." seperti memahami kesulitan kakak iparnya untuk menjelaskan pada anak kecil itu, Alexander menjawab pertanyaan polos Altezza.


********