
Cassandra dan Stevie tampak bersemangat melihat aneka masakan yang dimasak oleh suami mereka. Ada steak, sosis bakar, roti sandwich panggang, sandwich original, wedges goreng.. Terlihat juga empat gelas minuman panas, dengan penampilan seperti cocktail juga tersaji di atas meja makan. Kedua perempuan muda itu, sama sekali tidak mengira jika suami mereka bisa menyajikan makanan, dari memasak sampai menempatkan di atas meja dengan tampilan seperti di restaurant bintang lima.
"Bagaimana honey.., apakah istriku tersentuh dengan kerja keras suamimu...?" melihat tatapan kagum istrinya, Andreas Jonathan merasa bangga. Laki-laki muda itu segera mengambilkan piring berisi steak, kemudian menempatkan pisau dan garpu disampingnya,
"Jujur kak... speechless. Jika tadi, Sandra dan Stevie tidak mengintip bagaimana kak Andre dan kak Alex memasak di pantry, mungkin kami mengira jika semua ini didatangkan dari restaurant Michellin mungkin. Tetapi ternyata ada bakat terpendam pada suami Sandra.., dan ada alternatif beralih membangun bisnis kuliner nantinya ketika sampai di Indonesia.." dengan tatapan kagum, Cassandra dengan tulus memuji masakan suaminya,
Andreas Jonathan tersenyum, kemudian mengambil piring di depan istrinya. Tidak ada yang meminta, laki-laki muda itu memotong steak menjadi potongan kecil-kecil, kemudian meletakkan kembali piring di depan istrinya. Setelah itu, laki-laki muda itu mengambil kembali garpu dan menusuk satu potongan daging, kemudian menyuapkan ke mulut istrinya.
Cassandra berhenti mengunyah, berusaha menikmati rasa juicy dari daging yang ada di mulutnya, daging itu terasa empuk sekali. Tidak ada rasa alot, ketika perempuan muda itu mengunyahnya.
"Enak kak Andre.. empuk sekali. Rasa dagingnya tidak alot, tetapi masih ada rasa juicy pada daging, tidak over cook.." bukan bermaksud untuk memuji masakan suaminya, tetapi Cassandra berkomentar jujur. Andreas Jonathan tersenyum, dan melihat istrinya dengan lahap menikmati steak hasil masakannya.
Melihat lumernya interaksi keluarga kakak kandungnya, Stevie merasa penasaran. Gadis muda itu kemudian mengambil piring berisi steak, dan tanpa menunggu di layani oleh suaminya Alexander, Stevie sudah terlebih dulu memotong daging dan memasukkan ke mulutnya. Sama dengan ekspresi Cassandra, Stevie juga mengakui empuk dan enak steak yang dibuat oleh kakak kandungnya itu. Dari samping tempatnya duduk, Alexander memoting sandwich panggang, kemudian di sela-sela istrinya menikmati steak, laki-laki muda itu menyuapkan potongan sandwich ke mulut istrinya.
"Benar kak Sandra.. steak sama sandwich nya sama-sama enak. Sepertinya di musim dingin seperti ini, kita tidak perlu lagi merasa khawatir kelaparan kak Sandra.. Ada kak Andre, juga kak Alex yang akan memastikan kita terhindar dari kelaparan.." mendengar kata-kata istrinya, Alexander mengusap kepala Stevie, kemudian memberikan ciuman di pucuk kepala gadis muda itu.
"Hmm... asalkan konsekuensi dari memasak cocok, sepertinya itu usul yang menarik sayang.." sambil tersenyum smirk, Alexander tampak menggoda istrinya.
Melihat ekspresi berbeda dari senyum di wajah suaminya, dan ketika menatap ke depan, kakak kandungnya juga tersenyum mengiyakan, pikiran Stevie sudah berlayar kemana-mana. Sedangkan kakak iparnya Cassandra hanya tersenyum menanggapi, tanpa ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Perempuan muda itu, seperti benar-benar menikmati makan malam yang disiapkan oleh suaminya itu.
"Kak Sandra... bagaimana ini kak...?" merasa bingung, Stevie berteriak,
"Abaikan saja Stevie.., tanpa mereka memasak untuk kitapun, mereka tetap akan mengeksploitasi kita di atas ranjang bukan.." dengan santainya, sambil tetap mengunyah Cassandra berkomentar.
"ha.. ha.. ha.., ternyata istriku sangat smart, sudah bisa menduga hal apa yang akan bisa menyenangkan, memuaskan suaminya.." Andreas Jonathan menyeletuk, menimpali kata-kata Cassandra.
Dua pasangan suami istri itu, sampai beberapa saat saling bercanda di meja makan. Bahkan suara tawa mereka, sampai terdengar di bangunan khusus tempat istirahat maid.
**********
Terdengar suara keributan di teras mansion Andreas Jonathan, terdengar suara bersitegang dari para penjaga. Untungnya Andreas Jonathan sedang keluar dari dalam kamar, karena akan mengambil air hangat untuk menghilangkan rasa hausnya. Tanpa bertanya pada maid yang masih berjaga, laki-laki muda itu berjalan menuju ke arah teras. Tidak lama kemudian, Andreas Jonathan membuka pintu rumah dari dalam.
"Andre... ini para pengawalmu melarang papa dan mama untuk masuk ke dalam. Apakah mereka tidak tahu, dan tidak sedikitpun berbelas kasihan melihat dua orang tua kedinginan menahan guyuran salju.." Andreas Jonathan terkejut, melihat papa Wijaya dan mama Sheilla berdiri di teras, dengan dipegang oleh para pengawal.
"lepaskan mereka, dua orang tua ini adalah tuan besar dan nyonya besar kalian..!" dengan suara tegas, Andreas Jonathan meminta para pengawal itu untuk melepaskan kedua orang tuanya.
"Ampuni kami tuan muda.., kami hanya melaksanakan apa yang tuan muda perintahkan. Tidak boleh membiarkan orang asing berkeliaran disini. Kami selama ini belum pernah mengenal tuan besar dan juga nyonya besar.." para pengawal tampak ketakutan, mereka segera meminta maaf.
Andreas Jonathan tidak menjawab, laki-laki muda itu hanya mengangkat tangannya meminta para pengawal kembali berjaga. Tanpa berkata-kata lagi, laki-laki muda itu segera masuk ke dalam mansion. Tuan Wijaya dan nyonya Sheilla mengikuti putra mereka masuk ke dalam rumah.
"Siapkan minuman hangat, dan sop penghilang dingin untuk tuan besar dan nyonya besar..." melihat maid yang masih berjaga, Andreas Jonathan meminta mereka untuk melayani papa dan mamanya.
"Papa..., mama.. duduklah dulu di sofa ruang tengah. Maid biar menyiapkan dulu kamar untuk papa dan mama beristirahat." tanpa bertanya pada kedua orang tuanya, apa alasan mereka datang ke Inter Laken malam-malam, Andreas Jonathan langsung berjalan meninggalkan mereka berdua di ruang tengah,
Untungnya tuan Wijaya sudah mengenal bagaimana sikap putranya, sehingga laki-laki tua itu tidak mempermasalahkannya. Apalagi saat ini, jarum jam sudah berada di jam satu malam hari, dan saat yang sangat tepat untuk beristirahat. Hanya nyonya Sheilla, yang belum begitu lama mengenal sikap putranya, agak kaget melihat perlakuannya, namun tuan Wijaya segera menjelaskan sikap Andreas Jonathan.
"Tidak perlulah kamu ambil hati sikap putra kita Andreas Jonathan, anak itu memang bersikap acuh. Hal itu dilakukannya, agar kita segera beristirahat karena sekarang sudah lewat dari tengah malam. Lihat saja besok pagi, ketika kita makan pagi bersama dengan mereka. Kita harus menyiapkan diri untuk menjawab pertanyaan sinis dari laki-laki itu.."
"Iya pa.. aku memang belum begitu terbiasa, melihat sikap keras putraku. Waktu lama yang memisahkan kita, ternyata membutuhkan waktu untuk dapat mengenali tabiat putra kita Andreas Jonathan. Tapi mama yakin, pasti mama akan bisa mengenal putraku Andreas Jonathan.." di samping tuan Wijaya, Nyonya Sheilla mengambil nafas dalam.
Tuan Wijaya tersenyum, dan ketika melihat maid sudah membawa minuman panas, dan sup penghangat badan seperti yang diperintahkan putranya, laki-laki tua itu segera mengajak istrinya untuk menikmati makanan tersebut.
***********