
Dengan langkah gontai, Cassandra memasuki ruang tunggu untuk menunggu giliran dipanggil perawat. Untungnya Dokter Ridwan sudah datang, dan sudah melayani pasien yang berkonsultasi dengannya. Tampak tiga pasang suami istri sudah menunggu di dalam, dan mereka tersenyum melihat kedatangan Cassandra. Dengan penuh rasa malu, Cassandra menganggukkan kepala dan membalas senyum orang-orang itu.
"Sendirian saja mbak, tidak ditemani suami..?" salah satu pasangan suami istri itu bertanya pada gadis itu. Suami perempuan yang bertanya pada Cassandra tampak mengusap dengan penuh kelembutan perut istrinya. Wajah Cassandra menjadi pias melihat bagaimana intimnya pasangan itu.
"Tidak mbak, kebetulan lagi pingin sendiri saja, karena juga belum yakin hamil atau belum. Jadi jika memang betul-betul hamil, bisa menjadi kejutan." Cassandra berusaha menutupi apa yang dialaminya. Bagaimanapun gadis itu tidak mau merendahkan status dan harga dirinya.
"Bagus itu.. supprise buat suami nantinya. Kebetulan kehamilanku sudah memasuki bulan ke tujuh, jadi rasa sesak di perut, rasa tegang seperti kontraksi sudah sering terjadi. Makanya ini saya mau minta obat penguat kandungan." dengan gembira perempuan itu menceritakan tentang keadaan kehamilannya.
Cassandra hanya tersenyum mendengarnya, dan bingung takut keliru untuk memberikan masukan. Tanpa sadar, melihat perempuan-perempuan hamil itu mengusap kandungan mereka, Cassandra juga melakukan hal yang sama, padahal perutnya masih terlihat rata, dan juga belum diketahui apakah dirinya betul-betul hamil atau tidak.
"Nyonya Ratna..." tiba-tiba terdengar panggilan dari perawat jaga. Dengan segera, perempuan yang sedang berbicara dengan Cassandra itu berdiri dengan dipegangi suaminya. Setelah menganggukkan kepala, sebagai tanda berpamitan pada Cassandra, Nyonya Ratna segera memasuki ruang tindakan.
Satu persatu, pasien Dokter Ridwan sudah dipanggil untuk berkonsultasi, dan terakhir giliran Cassandra. Dengan hati deg-degan, gadis itu memberanikan diri mengetuk pintu, kemudian mendorongnya perlahan. Terlihat di hadapannya, seorang dokter yang masih muda, dan sedang tersenyum menyapa Cassandra.
"Nyonya Cassandra.. duduklah." sambil melihat rekam medis yang masih kosong, dokter memerintahkan pada Cassandra untuk duduk. Dengan rasa bingung, perempuan itu mengikuti arahan dokter.
"Apa yang dikeluhkan nyonya Cassandra, dan saya tidak melihat suami mbak Sandra menemani kesini." sambil tersenyum dokter Ridwan bertanya pada Cassandra.
AKhirnya sambil tersenyum pahit, Cassandra menceritakan apa yang dialaminya saat ini, sehingga dia harus datang ke dokter kandungan.
"Baiklah.. langkah pertama saya akan meminta mbak Sandra untuk mengecek urin dengan menggunakan test pack terlebih dahulu, untuk memastikan jika saat ini mbak Sandra sedang dalam keadaan hamil atau belum. Setelah itu, nanti saya akan melakukan USG atau tindakan lain yang diperlukan." sambil mengambil alat penanda kehamilan, dokter Ridwan menjelaskan pada gadis itu.
Mendengar ucapan dokter, hati Cassandra bertambah tidak karuan, dan sejak tadi jantungnya tidak berhenti terus berdebar-debar, merasa was was dengan hasil yang nanti akan didapatkan. Setelah menerima test pack, Cassandra segera membawanya dan masuk ke kamar mandi yang ada dalam ruang periksa tersebut. Beberapa saat, Cassandra menghabiskan waktu di dalam kamar mandi. Hampir lima belas menit di dalam kamar mandi, akhirnya gadis itu keluar. Dengan wajah pucat menahan perasaan gundah, Cassandra menyerahkan test pack yang sudah diuji kepada dokter Ridwan.
"Persis dengan dugaanku, selamat mbak Sandra atas kehamilannya.." tidak tahu dengan apa yang dirasakannya, mau menangis ataukah mau bahagia, Cassandra menerima jabat tangan dari Dokter Ridwan.
*********
"Andre.. usahakan nanti tidak pulang malam ya nak.. Papa ingin bicara kepadamu.." melihat putranya sudah bersiap akan berangkat ke tempat kerja, Tuan besar Wijaya bertanya pada putranya.
.
Andreas Jonathan berhenti, kemudian menatap wajah papanya dengan berani. Setelah berpikir beberapa saat, laki-laki itu kemudian menganggukkan kepala. Namun ketika Andreas Jonathan akan berjalan meninggalkan tempat itu, tuan besar Wijaya kembali mengajaknya bicara.
"Papa tahu Andre.. bagaimana kesalahan mamamu, tetapi itu semua dilakukannya dengan tujuan baik untukmu., Hanya saja, mamamu melakukan dengan cara yang keliru. Dan sebelum mamamu kembali ke Canada, papa sudah berpesan kepadanya untuk tidak membuat masalah lagi." papa Andreas Jonathan berusaha menahan keberangkatan putranya. Laki-laki paruh baya itu memang menginginkan untuk bertahan sementara waktu di Indonesia. tuan besar Wijaya tidak mau kehilangan hubungan baik dengan putra satu-satunya.
"Apakah hanya itu yang ingin papa bicarakan nanti sore dengan Andre pa. Jika iya, sepertinya tidak ada yang perlu kita bicarakan pa, dengan hilangnya Cassandra, jujur pa.. Andre belum bisa memaafkan mama." tuan besar Wijaya kaget dengan yang diucapkan putranya.
"Cassandra.. siapa nama gadis yang kamu sebut itu Andre..?? Apakah itu Cassandra gadis unik yang menjadi sekretaris eksekutif di perusahaan, yang sudah dua bulanan lebih sudah tidak muncul lagi di perusahaan. Ada hubungan apa gadis itu dengan mamamu.." merasa bingung, laki-laki paruh baya itu meminta penjelasan.
Andreas Jonathan diam tidak menanggapi perkataan papanya, sebaliknya setelah menghela nafas, Andreas Jonathan segera berjalan meninggalkan papanya sendiri. Tuan besar Wijaya hanya terpana melihat kerasnya hati laki-laki muda itu. Tetapi laki-laki paruh baya itu tidak menahan putranya, hanya membiarkannya ketika Andreas Jonathan mulai membuka pintu dan berjalan pergi dari tempat itu.
"Mungkinkan putraku ada hubungan dengan gadis pintar itu, dan saat ini mereka sedang terpisah.." Tuan besar Wijaya bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Aku akan mencari tahu sendiri, dan jika memang hubungan putraku dengan Cassandra sedang ada masalah, aku sendiri yang akan mencari jalan keluarnya. Aku tidak mau putraku akan menjadi begini terus, seperti seseorang yang sudah kehilangan jati dirinya." Tuan besar Wijaya berucap perlahan.
Perlahan laki-laki paruh baya itu mengangkat tubuhnya ke atas, dengan masih tetap berpikir, Tuan besar Wijaya berjalan menuju ke arah luar. Tidak lama kemudian, laki-laki paruh baya itu sudah berdiri di teras depan, dan melihat putranya menggeber mobil, dan keluar dari pintu gerbang.
"Wijaya.. Wijaya.. orang seusiamu seharusnya hanya tinggal menikmati hidup, bercanda dengan cucu-cucumu., Namun putramu satu-satunya malah belum mau memberikan keturunan kepadamu. Masih banyak yang harus kamu lakukan, dan masih lama kamu untuk menunggunya.." sambil tersenyum kecut, Tuan besar Wijaya berbicara pada dirinya sendiri.
********