
Senin malam, akhirnya Andreas Jonathan mengajak istri dan putranya untuk kembali ke Jakarta. Rupanya Stevie masih ingin memperpanjang waktu untuk berlibur di kota itu. Alexander sebenarnya bermaksud untuk menemani gadis itu, namun Andreas Jonathan melarang. Dan ketika nyonya Sheilla ingin bersama dengan putrinya Stevie, namun gadis itu malah tidak mau untuk ditemani. Stevie mengatakan ingin mengenal adat istiadat dan budaya di kota itu, yang banyak mengajarkan tentang nilai-nilai kearifan lokal.
"Biarkan Stevie tinggal kak Andre.., namun dengan satu syarat jika gadis itu harus dalam pengawasan dari keluarga. Karena kak Andre sudah melarang kak Alex untuk menemani Stevie.. bagaimana kalau Stevie kita ijinkan dengan syarat, harus tinggal di rumah mama Dhini. Kira-kira bagaimana usul Sandra kak...?" mendengar pernyataan dari istrinya, Andreas Jonathan malah menangkup wajah gadis itu kemudian memberinya ciuman.
"Terima kasih honey.. ternyata honey juga memperhatikan keluargaku. Sebuah usul yang bagus, aku akan menyampaikan pada Stevie.. tapi apakah kira-kira mama Dhini tidak keberatan jika Stevie tinggal disitu.." Andreas Jonathan malah mengkhawatirkan perasaan mama mertuanya.
"Tidaklah, mama pasti akan merasa senang. Mama akan memiliki teman untuk berbincang, seakan Cassandra yang berada di rumah itu, dan akan membalikkan kenangan indah mama denganku ketika masih kecil. Kita akan tanyakan pada Stevie dan sekaligus pada mama Dhini sekalian.." Cassandra menarik tangan suaminya, untuk menemui Stevie dan mama Dhini yang tengah mengobrol.
Mama Dhini, Stevie, Alexander, mama Sheilla dan papa Wijaya sedang berbincang di ruang tamu. Suguhan makanan khas Yogyakarta tampak ada di atas meja, dan Stevie serta mama Sheilla tanpa bosan menikmatinya sejak tadi.
"Stevie.. kakakmu Sandra mengatakan jika kamu akan tinggal di kota ini sementara waktu, apakah benar..?" dengan suara tegas, Andreas Jonathan bertanya pada adik kandungnya.
Mendengar nada bicara keras dari kakaknya, Stevie merasa khawatir jika tidak akan diijinkan untuk tinggal di kota ini. Gadis itu menatap ke wajah kakaknya dengan penuh tanda tanya, kemudian mengalihkan pandangan ke kakak iparnya seakan minta perlindungan kepadanya.
"Iya kak.. boleh kan..?" dengan suara lirih, Stevie menjawab.
"Hmm... boleh tetapi kamu tidak boleh tinggal sendiri di kota ini Stevie.. Kamu boleh tinggal, dengan catatan kamu tinggal di rumah ini, menemani mama Dhini. Jadi kamu tidak boleh tinggal di hotel, ada mama Dhini dan Armand yang akan mengawasimu. Bagaimana, apakah kamu bersedia..?" dengan nada tegas, Andreas Jonathan memberikan persyaratan yang harus dipenuhi oleh adik kandungnya.
"Benarkah nak Andre.. mama dan Armand akan merasa sangat senang sekali, seakan-akan ada Sandra yang tinggal disini. Bagaimana nak Stevie.. mau ya tinggal disini sementara untuk menemani mama Dhini.." Nyonya Dhini menanggapi perkataan menantunya.
Tidak diduga, aura cerah muncul di wajah Stevie, mendengar persyaratan itu, dan juga mendengarkan persetujuan dari mama Dhini untuk menerimanya.
"Stevie mau menerimanya kakak.. bersama Armand, Stevie akan banyak belajar tentang budaya dan adat istiadat kota ini. Mama Dhini juga mau menemani Stevie bukan.." Stevie menyambut dengan girang tawaran itu.
Akhirnya Andreas Jonathan dan Cassandra bernafas lega, karena ada yang bertanggung jawab melakukan pengawasan pada adik perempuannya. Namun sebaliknya, wajah Alexander terlihat sedih, karena akan kehilangan moment untuk terus mendekati Stevie.
"Bagaimana jika Alex sekalian tinggal di kota ini tuan muda.., untuk cuti tahunan. Tuan muda tahu sendiri bukan, jika Alex jarang mengajukan cuti kerja..?" tiba-tiba Alexander ingin juga tinggal di kota Yogyakarta.
Stevie dan Cassandra tersenyum sambil menutup mulut mereka, merasa geli dengan permintaan ijin cuti yang diajukan Alexander.
**********
Malam harinya, dengan memangku Altezz yang tidak mau berpisah dengannya sejak tadi, Andreas Jonathan memejamkan mata di private jet. Duduk di sampingnya Cassandra yang sejak tadi berbincang dengan mama Sheilla dan papa Wijaya. Sedangkan suster pengasuh duduk di belakang sendiri, dan di depannya Alexander yang juga tampak tertidur di pesawat.
"Bagaimana pendapatmu Sandra... tentang perusahaan papa di luar negeri. Sebenarnya papa ingin kembali ke luar negeri, tetapi akan terasa sepi jika papa hanya tinggal sendiri di negara itu. Papa akan merasa sangat kesepian.." tiba-tiba tuan Wijaya membuka pembicaraan dengan menantunya.
"Papa bisa membawa Stevie ikut serta ke luar negeri khan papa, pasti gadis itu akan mau dan menyambut baik rencana papa. Seusia Stevie masih membutuhkan bagaimana indahnya menikmati travelling, dan belajar bermacam-macam budaya, dan adat istiadat di masing-masing negara yang berbeda.." tanpa berpikir, Cassandra menawarkan usulan.
"Jika Stevie pergi, aku yang tidak akan mengijinkan. Hanya untuk mencegah agar Wijaya tidak kesepian, apakah kalian tidak sadar, jika sudah menjerumuskanku dalam kesepian pula. Aku tidak setuju.. titik.." tiba-tiba Nyonya Sheilla berceletuk, dan Cassandra kaget dengan pernyataan mama mertuanya itu. Tadi pada saat menawarkan solusi pada papa mertuanya, Cassandra seperti terlupakan jika papa dan mama mertuanya itu sudah bercerai, bukan lagi pasangan suami istri.
"Kamu tidak boleh egois seperti itu Sheilla.. Bukannya kamu sudah bersama dengan Stevie, dari gadis itu masih dalam kandunganmu, dan sengaja menyembunyikan keberadaannya dariku. Saatnya kali ini kamu harus merelakan putrimu kembali kepadaku.." tidak disangka, Tuan Wijaya terpancing dengan pernyataan mantan istrinya.
"Eits enak saja bicara dengan menyalahkanku.. Kamu saja enak-enakan bersembunyi di balik ketiak Sandrina, tanpa mau menjelaskan pendapat dan mendengarkan apa yang terjadi sebenarnya denganku. Saat ini kamu malah menyalahkanku.. dasar laki-laki tidak bertanggung jawab." dengan sengit nyonya Sheilla mengeluarkan emosinya.
Cassandra merasa bingung, gadis itu memijat-mijat pelipisnya. Karena kata-katanya, ternyata menjadi trigger pertengkaran kedua mertuanya. Gadis itu melirik ke arah suaminya, tetapi Andreas Jonathan pura-pura tertidur dan malah memasangkan head phone di kedua telinga Altezza. Cassandra tersenyum kecut, karena hanya dia sendiri yang harus kembali mendamaikan kedua mertuanya itu.
"Hmm... papa, mama... bagaimana jika kalian berdua kembali bersatu, menyatukan diri dalam pernikahan. Bukankah kali ini, status papa dan mama masing-masing sudah jelas, dan juga tidak memiliki kedekatan dengan laki-laki atau dengan perempuan manapun." merasa bingung, akhirnya keluar juga pendapat dari Cassandra.
Mendengar perkataan Cassandra, papa dan mama mertua gadis itu menjadi terdiam. Mereka mengarahkan pandangan ke jendela pesawat yang ada di samping mereka. Dari belakang terlihat Alexander tersenyum, dan mengacungkan kedua ibu jari pada Cassandra. Suaminya Andreas Jonathan yang sejak tadi pura-pura tertidur juga menyunggingkan senyuman di bibirnya.
*******