
Alexander hanya tersenyum mendengarkan apa yang dikatakan Andreas Jonathan, laki-laki muda itu segera mengarahkan mobil yang disetirnya menuju ke hotel tempat mereka tinggal selama ini. Tidak lama kemudian, begitu keluar dari dalam pintu lift, terlihat Stevie sudah menyambutnya di depan pintu. Tetapi tidak terlihat keberadaan nyonya Sheilla, dan hal itu menimbulkan tanda tanya di benak Alexander. Tuan Wijaya juga tidak terlihat pula di belakang Stevie.
"Kak Andre..." melihat Stevie memeluk erat Alexander, Andreas Jonathan menatap mereka dengan tatapan sewot, dan menjadikan Stevie menjadi jengah sendiri. Tidak ada kata-kata yang kelaur dari bibir laki-laki muda itu.
"Kok tatapan matanya menakutkan kak Andre... pakai senyum kenapa kak..." Stevie memprotes tatapan kakaknya kepada mereka berdua
"Bisa tidak kalian berdua jaga diri, hormati kakakmu.. Ada orang sedang ditinggal istrinya di negara lain, malah mesra-mesraan, main peluk di depanku saja. Buat mata jadi buram melihatnya, tahu tidak..." seperti ada kesempatan, Andreas Jonathan melontarkan nada protes pada adik kandungnya,
"Ha.. ha.. ha..., jangan jealous lah kak.., biasanya kak Andre juga begitu, ketika ada kak Sandra disamping kakak. Sekarang saja, karena tidak ada kak Sandra.. kak Andre jadi kayak gini. dan suka sewot jika Stevie dengan kak Alex sedang berpelukan, bahkan hanya bergandengan tangan saja. Tahu diri juga dong, jangan malah menyalahkan Stevie.." gadis muda itu seperti tidak rela disalahkan begitu saja olah kakak kandungnya.
Stevie bukannya kemudian menjauh dari Alexander, di depan kakak kandungnya, gadis muda itu malah mencium bibir suaminya di depan Andreas Jonathan. CEO PT. Indotrex. Tbk itu tanpa bicara, langsung berjalan meninggalkan pasangan suami istri itu. Merasa tidak ada manfaatnya berdebat dengan adiknya, meskipun apa yang diucapkan oleh Stevie juga benar adanya.
"Kak Andre.. tadi papa dan mama Sheilla berangkat ke Canada. Mereka tidak mau, ketika Stevie minta untuk menunggu sampai kak Andre pulang dari perusahaan..." Stevie berbicara dengan nada keras, memberi tahu papa dan mama mereka sudah pergi meninggalkan mansion.
Andreas Jonathan hanya berhenti sebentar, kemudian tanpa berkomentar berjalan meninggalkan tempat itu. Laki-laki itu menjadi lesu, ketika mulai berjalan menuju ke arah kamarnya.
"Honey... always miss you ..." gumam Andreas Jonathan sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam kamarnya.
Tidak ada Cassandra di tempat itu, membuat laki-laki muda itu menjadi malas. Selama Cassandra dan Altezza berada di Switzerland, laki-laki itu sering hanya satu kali melakukan mandi setiap harinya. Bahkan seperti saat ini, begitu pulang dari perusahaan, tanpa berganti baju langsung merebahkan tubuh di atas king size bed. Wajah yang biasanya terlihat bersih, kali ini sudah banyak tumbuh bulu-bulu cambang, kumis yang halus. Alexander dan Stevie sudah mengingatkan agar kakaknya mencukur atau membersihkannya, namun laki-laki muda itu merasa enggan,
"Ternyata begini tersiksanya aku, tidak ada istri dan anak di sampingku. Aku harus segera mengingatkan Alexander untuk menyiapkan private jet. Secepatnya aku akan menyusul Sandra dan Altezz. Kerinduan ini bisa pelan-pelan membunuhku.." bayangan wajah dan senyuman Cassandra yang lembut tiba-tiba seakan muncul dan menghantui di depannya. Bagaimana istrinya mengelap keringat yang muncul di wajahnya ketika selesai berolah raga, atau membersihkan sisa makanan atau minuman dengan menggunakan tissue, saat ini seakan menghina laki-laki tampan itu.
*********
Tengah Malam
Merasa haus, karena langsung tertidur setelah berbaring di king size bed sepulang kerja, Andreas Jonathan terbangun di tengah malam. Laki-laki muda segera beranjak dari posisi tidurnya, kemudian berjalan mengambil air mineral yang tersedia di atas lemari kecil yang ada di dalam kamar itu. Setelah membuka penutup botol air mineral, tanpa menggunakan gelas, laki-laki muda itu langsung menenggak air tersebut sekaligus. Tidak lama kemudian, Andreas Jonathan melempar botol ke tempat sampah yang masih tertutup, kemudian melenggang ke kamar mandi.
Merasa lengket, di tengah malam laki-laki itu megguyur tubuhnya dengan menggunakan air shower. Kesegaran air hangat mengurangi rasa pening di kepalanya, dan membuat pikirannya sedikit menjadi fresh. beberapa saat kemudian, laki-laki itu sudah keluar dari dalam kamar mandi dan segera berganti piyama.
"Aku akan merokok di roof top saja, sambil melihat langit malam ini.." merasa sudah hilang rasa kantuk, laki-laki muda itu kemudian mengambil tempat rokok beserta korek, serta mengambil ponsel kemudian melangkahkan kaki keluar dari dalam kamarnya,
Dengan tinggal di Pant House, mereka mendapatkan fasilitas roof top yang terpisah dengan roof top untuk pengunjung hotel. Ketika Andreas Jonathan sudah berada di atas, laki-laki itu melihat keberadaan Alexander yang ternyata juga sedang merokok di tempat itu. Andreas Jonathan segera mendatangi adik iparnya itu.
"Hem.. kamu juga disini rupanya Alex.." Andreas Jonathan menyapa terlebih dulu. Laki-laki itu kemudian duduk di samping adik iparnya.
"Iya kak... barusan mendapatkan kabar dari Haryanto, yang mendapatkan informasi tentang pergerakan Tuan Armansyah, beserta Nyonya Sandrina." dengan nada datar, Alexander menyampaikan informasi yang cukup membuat CEO PT. Inodtrex. Tbk itu kaget.
"Maksudmu.." tanya laki-laki muda itu singkat.
"Dari informasi terakhir, ternyata Nyonya Sandrina sudah menikah lagi, dengan pemimpin gerombolan kekerasan yang tinggal di Vietnam. Ternyata laki-laki itu sudah menaruh hati dengan nyonya, ketika mereka masih muda, Tetapi nyonya Sandrina lebih menyukai tuan Wijaya kala itu. Sekarang mereka sudah pergi dari negara ini kak.., hanya saja aku belum bisa menembus keberadaan mereka saat ini.." ucap Alexander lirih.
Mendengar informasi itu, ANdreas Jonathan kaget dan tiba-tiba teringat dengan keberadaan istri dan putranya yang berada di Switzerland. meskipun negara itu memiliki track record keamanan yang paling juara, di antara negara-negara lain, namun laki-laki muda itu tetap tidak bisa menghilangkan rasa kekhawatirannya.
"Alexander... aku tidak mau tahu apapun. Atur penerbangan secepatnya dengan private jet, aku merasa khawatir dengan keamanan istriku Sandra dan juga Altezz, Meskipun ada pengawal bersamanya, aku tetap tidak bisa menghilangkan rasa takutku.." dengan tegas, Andreas Jonathan membuat perintah.
"Apakah tidak bisa ditunda berangkat besok malam kak, ada schedull penanda tanganan perjanjian kerja sama pada pukul sepuluh pagi.." Alexander berusaha menahan kakak iparnya, karena posisi tertingginya di perusahaan.
"Tidak bisa.. paling lambat pukul tujuh pagi, aku harus sudah meninggalkan negara ini. Aku bisa membumi hanguskan semuanya, jika aku tahu istri dan putraku dalam bahaya." dengan nada emosi, Andreas Jonathan meluapkan amarahnya.
"Baik kak..." hanya kesiapan yang bisa diucapkan oleh Alexander.
*********