
Semua yang berada di dalam ruangan itu menatap wajah Jennifer dengan secercah senyum, mereka menyetujui apa yang diusulkan oleh gadis itu. Apalagi Jennifer sudah tidak banyak lagi berkeluh kesah, ketika mereka tinggal di pegunungan itu. Dan tampaknya Arron sudah bisa menjinakkan perempuan muda itu, sehingga sudah bisa banyak berinteraksi dengan mereka semua.
"Good idea.., sekarang Arron.., kamu cari orang-orangmu. Urus visa kedatangan kita ke negara itu, jika aku sepertinya visa tinggal di Eropa masih ada, jadi kamu lihat yang lainnya." dengan tegas, Thanom memberi perintah pada keponakannya itu.
"Punyaku juga masih ada visa tinggal di Canada, bahkan aku masih punya kartu identitas sebagai warga negara yang tinggal di negara itu. Jadi abaikan aku Arron.." Sandrina yang lama berada di Canada dengan Wijaya, tidak begitu memusingkan masalah pengurusan visa.
"Baik Uncle.., secepatnya Thanom akan urus semuanya. Sekalian aku akan mengatur penerbangan kita untuk menuju ke negara itu, karena berbeda dengan di Asia, kita masih bisa berkeliling menggunakan pesawat apa adanya. Tapi negara Swiss, sangat ketat melakukan screening dan pemeriksaan pada semua yang akan masuk ke negara tersebut." Arron segera menyanggupi perintah itu.
Orang-orang itu segera kembali serius, mereka menyusun strategi keberangkatan mereka ke negara Swiss. Juga beberapa plan mereka susun, sampai mereka bisa menemukan keberadaan keluarga Andreas Jonathan. Tampak dendam dan kebencian di wajah Sandrina, begitu mereka kembali membahas tentang keluarga dari mantan suaminya itu. Dengan kejam, Wijaya dan keluarganya sudah mencampakkan mereka ke penjara, dan berhasil mengirimkan akta cerai tanpa ada pembagian kekayaan semestinya.
"Aku lihat, kamu seperti sangat serius Sandrina ketika kita membahas masalah keluarga itu. Kamu pasti masih teringat bagaimana mencintai Wijaya bukan.." tiba-tiba dengan sinis, Thanom bertanya pada perempuan paruh baya itu. Bagaimanapun laki-laki itu saat ini sudah menjadi suami perempuan paruh baya itu, pasti tidak menginginkan jika istrinya masih mengingat laki-laki yang lain.
"Thanom... kita ini sudah tua, tidak perlu kita bicara apa itu cinta. Yang pasti Thanom, rasa hatiku sudah muak mendengar sejak tadi kalian menyebut nama-nama anggota keluarga itu. Aku ingin mengambil kembali sebagai asset keluarga Wijaya untukku, aku tidak akan merelakan jika mantan istri kak Armansyah kembali menguasai semua harta Wijaya.." dengan tatap kemarahan, Sandrina menanggapi perkataan Thanom.
"Sudah.., sudah.., apakah kita tidak bisa kembali fokus ke pokok permasalahan..? Hal yang lalu biarlah semua berlalu Thanom, yang penting saat ini Sandrina sudah menjadi milikmu seutuhnya, kalian ini sudah menikah. Tidakkah kita perlu mengabaikan permasalahan yang tidak jelas seperti tadi, kita kembali susun strategi kita. Bagaimana kita bisa melemahkan pertahanan mereka, dengan tujuan akhir Sandrina juga bisa mendapatkan kembali haknya sebagai mantan istri Wijaya.." Armansyah mencoba menengahi perdebatan antara Sandrina dan Thanom.
Sandrina dan Thanom akhirnya terdiam, seakan-akan mereka mengiyakan apa yang dikatakan oleh Armansyah. Akhirnya orang-orang itu kembali serius berdiskusi, menyusun beberapa perencanaan untuk dapat mencari tahu keberadaan keluarga Andreas Jonathan di negara yang akan mereka tuju. Tampak pula kebencian di wajah Jennifer, rasa dendamnya pada Cassandra kembali muncul dalam ingatannya. Arron yang berada di sebelah perempuan itu, hanya melirik wajah Jennifer tapi tidak menegur perempuan muda itu.
********
Di Jakarta
Stevie yang merasa kesepian berada di Pant House, menyampaikan apa yang dirasakannya itu pada suaminya Alexander. Perempuan muda itu ingin mengajak suaminya untuk mencari tahu keberadaan kakak iparnya, dan ingin bergabung dengannya kembali, sekaligus mengajak Alexander untuk berbulan madu. Saat ini, Stevie dan Alexander sedang melakukan makan malam di meja makan Pant House.
Alexander meletakkan sendok, kemudian mengambil tissue untuk mengelap tangannya. Kemudian laki-laki itu menatap ke wajah istrinya, mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang diinginkan oleh perempuan muda itu.
"Apa maksudmu sayang.., aku tidak begitu bisa menangkap apa yang ingin kamu sampaikan. Jika sayang merasa sepi, tidak ada aktivitas, bukankan sayang bisa bergabung dengan klub-klub sosialita yang ditawarkan oleh hotel ini. Atau mengasah pengembangan diri, dengan mengikuti kajian, atau short course..." Alexander menawarkan banyak pilihan untuk menjawab permasalahan yang dialami istrinya.
"Bukan itu kak Alex yang Stevie inginkan.. Stevie sangat susah untuk mengenal orang baru kak, tidak mungkin bukan dengan bergabung dengan apa yang kak Alex tawarkan, dalam waktu cepat Stevie akan mudah berbaur dengan mereka. Begini kak.., kenapa sih kita tidak mengikuti keluarga kak Andre, kita kan belum memiliki waktu fokus untuk honey moon. Sejak kita menikah, kak Alex masih disibukkan dengan banyak mengurus perusahaan, kepergian kak Sandra, dan malah juga kepergian kak Andre terakhir kali." Stevie mempertegas apa yang diinginkannya.
Alexander tersenyum, dan laki-laki itu kemudian berdiri dan berhenti di kursi istrinya. Tangan Alexander mengajak istrinya untuk berdiri dan mengikutinya.
"Kemana sih kak, tangan Stevie masih kotor ini lho. Mana kata-kata Stevie belum ditanggapi lagi, malah mengajak Stevie pergi sekarang.." Gadis muda itu sewot, kemudian melepaskan diri dari pegangan suaminya. Stevie menuju ke arah wastafel. kemudian mencuci kedua tangannya menggunakan hand soap. Beberapa saat kemudian, Stevie menghampiri suaminya yang masih menunggunya.
"Jangan khawatir sayang, meja makan itu untuk menikmati makanan. Bukan untuk berbicara hal-hal penting.., kita pindah ke ruang tengah dulu. Baru nanti kita akan banyak berbicara disana." Alexander mencium kepala Stevie, kemudian merangkul pundaknya dan membawanya pergi menuju ke ruang tengah.
Stevie hanya diam, gadis muda itu berjalan mengikuti suaminya menuju ke kursi tengah. Alexander membawanya duduk ke sofa besar yang banyak berjejer di ruangan itu, dan tangan Alexander menyalakan televisi dengan menekan remote control di satu tangannya. Beberapa saat kemudian..
"Sayang.. aku juga baru tahu beberapa hari lalu, ternyata kak Andre membawa kak Sandra dan Altezz ke Switzerland. Jujur sayang.., bukannya aku menolak untuk menyusul kakak iparmu ke negara itu, tetapi aku sendiri tidak tahu ada dimana rumah mereka berada. Tempat itu sudah lama sekali dibeli oleh kak Andre, dan sering menjadi tempat untuknya ketika ingin melakukan me time selama ini. Jadi aku betul-betul juga tidak tahu keberadaannya.." Alexander menjelaskan.
"Terus.. apa dong yang harus kita lakukan kak ALex. Stevie benar-benar ingin bertemu dengan kak Sandra kak.., juga Altezz, please. Cari tahulah kak, dan antarkan Stevie ke tempat mereka berada,.." dengan mata puppy eyes, Stevie merayu suaminya.
**********