CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 107 Harus Segera Pergi



Apartemen Jennifer


Tampak Nyonya Sandrina terlihat kusut, beberapa kali perempuan paruh baya itu masuk ke berbagai aplikasi belanja online untuk memesan tiket penerbangan. Namun begitu memasukkan nama dan datanya, selalu mendapatkan penolakan dari semua maskapai yang dituju. Perempuan itu semakin bingung, dan berpikir jika aplikasinya yang mengalami banned.


"Jenni.. coba bantu tante untuk mencarikan tiket penerbangan kemanapun. Luar negeri lebih bagus, namun jika tidak ada dalam negeri juga tidak masalah. Jika kamu mau mengikuti no problem, namun jika kamu tidak mau juga tidak apa-apa," merasa tidak bisa menggunakan aplikasinya, Nyonya Sandrina meminta Jennifer untuk mencarikannya tiket penerbangan.


"Tidak masalah tante.. tetapi bisakah tante memberi tahu pada Jenni apa sebenarnya yang terjadi. Kenapa tante terlihat panik, dan kebingungan sejak tadi." Jennifer malah menanyakan apa yang mendasari perempuan paruh baya itu terlihat panik.


"Jangan banyak bertanya Jenni.. ini semua gara-gara kamu. Tante yang akan menerima akibatnya.." merasa tidak mampu menguasai emosinya, Nyonya Sandrina berteriak.


Jennifer kaget mendengar reaksi yang ditunjukkan oleh perempuan paruh baya itu, tidak biasanya Nyonya Sandrina bersikap seperti itu. Biasanya perempuan paruh baya itu selalu memiliki ide-ide licik untuk menghindar atau untuk menjerumuskan orang lain. Namun kali ini, perempuan paruh baya itu terlihat tidak memiliki kekuatan maupun kekuasaan apapun.Melihat perubahan ekspresi itu, Jennifer menjadi turut merasa takut.


Jennifer kemudian mengambil gadgetnya, dan mencoba melakukan transaksi online ke berbagai market place. Namun.. beberapa kali Jennifer mencoba, dan juga berganti-ganti platform, selalu ada penolakan dari market place tersebut. Tetapi begitu menghilangkan nama Sandrina.., aplikasi bisa merespon transaksi yang dilakukannya.


"Tante.. ternyata Jenni juga tidak bisa tante.. berkali-kali Jenni sudah mencoba, bahkan sudah berganti platform dan market place, namun tetap ada penolakan tante.. Apalagi yang harus Jenni lakukan tante.." tiba-tiba gadis itu turut merasakan gugup dan panik.


"Apakah sedang terjadi offline system.. karena tante juga sudah beberapa kali mencoba, namun tetap batal yang keluar. Tante harus segera pergi dari kota ini Jenni.. apakah kamu punya usul agar tante bisa keluar dari Jakarta.." Nyonya Sandrina yang sangat jarang berada di Indonesia, merasa bingung untuk menuju kemana. Di sampingnya, Jennifer juga mengalami hal yang sama.


"Tapi sebenarnya apa yang terjadi tante, sehingga masalah ini bisa membuat tante Sandrina merasa panik. Jennifer perlu tahu tante, sehingga kita bisa memikirkan cara untuk keluar dari kota ini secara bersama-sama." lanjut Jennifer.


Terlihat Nyonya Sandrina mengambil nafas dalam, kemudian melihat ke arah Jennifer masih dengan pandangan panik.


"Ramuan dari paranormal itu hilang Jenni.., tante curiga jika Andreas dan kak Wijaya sudah tahu mengenai ramuan itu, Ketika tante bangun tidur, sudah ada dua ustadz di dalam mansion, dan ketika tante meminta pengawal untuk mencarikan rekaman CCTV, untuk mengetahui dimana tante menyimpan ramuan tersebut, ternyata tidak ada yang mau melayani perintah tante. Untuk itu, tante segera memintamu untuk membawa tante keluar dari mansion itu Jenni.." Nyonya Sandrina menceritakan apa yang terjadi.


Jennifer tersentak mendengal hal tersebut, karena dirinya berada di balik perginya Nyonya Sandrina ke paranormal, jennifer berpikir pasti Andreas Jonathan tidak akan melepaskannya. Pasti anak muda itu juga akan mengejarnya, dan tidak akan bisa melarikan diri,


"Tante.. kenapa menjadi segawat ini masalahnya tante.., jika begitu Jenni juga harus pergi sementara dari kota ini tante.." kini, Jennifer lah yang terlihat panik. gadis itu segera menyiapkan trolly bag, dan mengisinya dengan perlengkapan-perlengkapan pribadinya,


Pent House


Renita menidurkan Altezz di kamar yang memang disetting conecting room dengan kamar pribadinya. Di belakang gadis itu, suaminya Andreas Jonathan melihatnya dengan sabar sambil tersenyum, Tanpa keberadaan suster pengasuh, hanya mereka berdua di ruangan itu cukup membuat laki-laki muda itu bahagia. Andreas Jonathan seperti menikmati quality time dengan istri dan putranya. Melihat istrinya Cassandra yang cukup lama untuk meninggalkan Alltezza, Andreas Jonathan terlihat menjadi tidak sabar untuk menunggu,


"Honey.. tinggalkan Altez.. anak itu harus sudah mulai untuk dilatih mandiri. Kemarilah temani aku.." dengan suara pelan, Andreas Jonathan meminta Cassandra mendekatinya. Laki-laki itu seperti menahan sesuatu, dan hanya Cassandra yang bisa menjadi penenangnya.


Gadis itu menoleh ke arah suaminya, dan memberi isyarat untuk menunggunya sebentar. Setelah memastikan putranya tidur dengan aman, selimut tipis diselimutkan ke tubuh Altezza karena AC di kamar itu memang terasa sangat dingin. Perlahan setelah melihat kembali ke arah Altezza, Cassandra segera mendatangi suaminya. Melihat istrinya mendekat kepadanya, dengan tidak sabar Andreas Jonathan menarik tangan Cassandra, dan gadis itu duduk di pangkuan suaminya.


"Kenapa sih kak, sabar dulu kenapa. Kan Sandra juga baru menidurkan Altezz, kasihan sejak tadi siang hanya tidur di gendongan kita.." Cassandra memprotes sikap suaminya,


"I miss you honey.." bisik Andreas di telinga Cassandra. Uap hangat yang keluar dari bibir laki-laki itu menyapu belakang telinga gadis itu, tubuh Cassandra merasa seperti tersengat listrik, Belum hilang rasa keterkejutan Cassandra, lidah Andreas Jonathan menjilat belakang telinga perempuan itu, dan mata Cassandra sampai merasa mau terbuka dan terpejam lagi.


"Mmmm.. kak.. tidak bisakah kita bicara dulu kak.. Banyak sepertinya yang harus kita perbincangkan selagi ALtezz tidur.." Cassandra mencoba untuk mengelak perlakuan intim dari suaminya.


"Tapi aku tidak bisa menahannya honey.. pesonamu sangat membiusku.." bisik lembut Andreas.


Laki-laki itu kemudian merebahkan tubuh Cassandra di atas sofa, dan tidak mau mendengarkan penolakan dari istrinya, Andreas Jonathan semakin merangsek ke depan. Dengan cepat bibir laki-laki itu memagut bibir Cassandra, dan dengan cepat lidahnya masuk ke dalam mulut perempuan itu. Mendapat perlakuan intim itu, Cassandra tidak mampu lagi untuk bertahan. Kedua tangan gadis itu dikalungkan di leher Andreas Jonathan, dan dengan bebas bibir dan lidah laki-laki itu mengembara di setiap jengkal tubuh istrinya.


"Beri aku minum untuk meredakan rasa hausku honey.. hanya kamulah peredanya." kembali suara serak ANdreas Jonathan berbisik lembut.


Mendengar suara serak itu, Cassandra juga sudah tidak dapat menguasai dirinya. Perempuan itu terengah-engah, mencoba mengimbangi perlakuan intim yang diberikan suaminya. Suara kecupan, dan decap kedua bibir yang saling menyatu, dan nafas terengah memenuhi kamar dimana mereka berdua sedang bercumbu. Tiba-tiba Cassandra teringat jika pintu kamar penghubung masih terbuka, namun ternyata Andreas Jonathan lebih tanggap. Masih dengan memagut istrinya, laki-laki itu mengangkat tubuh Cassandra kemudian berjalan , mendekati pintu, kemudian menutupnya dengan menggunakan kaki.


"Ughh  kak..." terlolos lenguhan dari bibir Cassandra, karena dengan menggunakan satu tangannya, Andreas Jonathan melepaskan baju istrinya dan membuangnya ke lantai. Kedua tubuh itu saling menyatu dan saling memagut, dan peraduan di belakang mereka menjadi akhir untuk melepaskan kerinduan mereka.


********