
Untung papanya Chakram.. Tuan Akash dengan ramah menerima kedatangan Armansyah di pondoknya. Laki-laki tua itu merupakan warga asli dari India, yang menikah dengan orang Swiss dan terlahirlah Chakram. Melihat niat baik dan keseriusan Armansyah, Akash bisa menerima laki-laki itu untuk tinggal dan memulai kehidupan damai di lereng pegunungan Alpen itu. Wajah Armansyah tampak cerah mendengar penerimaan dari Tuan Akash, meskipun juga paham bagaimana kehidupan mereka di depan nantinya.
"Armansyah.. tidak mungkin jika selamanya kamu akan bertempat tinggal di pondokku, kamu bisa membangun pondok sendiri di sebelah sana, Aku akan membantumu untuk membangun pondok tersebut, dan teman-temanku pasti akan berbagi kebutuhan material untuk itu. Tetapi setelah satu minggu pondok itu berdiri, kamu harus mampu untuk berdiri sendiri, dan sudah tidak tergantung denganku lagi.." Akash menyampaikan pesan pada Armansyah,
"Terima kasih sekali bantuannya Akash.., aku sangat terbantu sekali dengan bantuan darimu. Keberuntunganku bisa bertemu dengan putramu Chakram, dan mengantarkan serta menemukanku denganmu.." dengan berkaca-kaca, Armansyah berterima kasih pada laki-laki seusianya itu.
"Dan kamu putraku.. akan berapa lama keberadaanmu di hutan ini. Apakah kamu akan mengikuti jejak papa, tapi aku tidak akan mengijinkanmu. Pilihlah seorang gadis, menikahlah, dan bawakan cucu-cucu untuk papa secepatnya. Tempatmu bukan disini.." Akash beralih bertanya pada Chakram,
Anak muda itu gugup, dan menatap ke mata Akash dengan pandangan malu. beberapa kali, jika Chakram bertemu dengan Akash, selalu ditanyakan masalah perempuan untuk memberinya keturunan. Tetapi sampai sekarang, belum juga ada gadis yang dipilih untuk dinikahinya.
"Minta doanya pa.., sampai sekarang Chakram belum ketemu perempuan untuk dinikahi. Semoga ketika kita dipertemukan lagi, aku sudah memiliki seorang istri dan putra.." sambil tersenyum kecut, Chakram menjawab pernyataan papanya.
"Baiklah.. sekarang kita akan ke lokasi tempat akan didirikannya pondok Armansyah. Kenakan sepatu laras panjang, ambil di dapur. Karena masih banyak pacet dan lintah di wilayah tersebut.." tidak mau membuang-buang waktu, Akash segera mengajak mereka untuk bergeser pergi,
Tanpa menunggu ulangan perintah, Chakram segera berdiri dan diikuti oleh Armansyah di belakangnya. Kedua laki-laki itu berjalan menuju ke arah dapur.
*********
Tidak lama kemudian, ketiga laki-laki menyusuri semak belukar. Sebenarnya tempat yang akan mereka tuju tidak begitu jauh, tetapi karena masih tinggi dan banyaknya semak belukar, mengurangi waktu tempuh mereka ke tempat yang akan digunakan untuk membangun pondok Armansyah. Samurai panjang Akash membabat semak belukar yang merintangi perjalanan mereka. Sedangkan Armansyah dan Chakram yang hanya membawa pisau besar tajam, hanya membersihkan semak belukar yang masih tersisa.
"Akhirnya sampai juga kita di tempat ini.. lihatlah sebelum kita putuskan untuk membangun pondok Armansyah. Alasan aku memilihkan tempat ini, karena tidak jauh dari sumber mata air. Juga kamu bisa melihat pemandangan lembah di bawah untuk mengisi waktumu, karena aku yakin tidak akan mudah untuk orang baru beradaptasi dengan tempat sepi seperti ini." ternyata ada maksud Akash membawa Armansyah ke tempat itu.
"Semua sangat memuaskan Akash, terima kasih sudah menganggapku sebagai saudara, dan memberikan fasilitas padaku untuk berlatih bertahan hidup di rimba belantara ini." Armansyah mengucapkan terima kasih. Tetapi Akash hanya diam saja, dan malah mengarahkan senjata di tangannya untuk membersihkan semak-semak.
Armansyah berjalan lurus mengikuti jalan setapak, dan Chakram mengikuti di belakangnya. Tidak lama dari tempat mereka berjalan, terdengar suara gemericik air, dan Armansyah mengarahkan langkah kakinya menuju ke arah sumber suara itu. Di depan mata mereka, terlihat sebuah air terjun kecil dengan bebatuan di kali yang airnya sangat jernih. Tampak beberapa ikan berenang di kali tersebut,
"Rupanya ini kali yang tadi dimaksud oleh papa Armansyah.. kamu bisa menggunakan air ini untuk kebutuhan dasarmu nanti. Tetapi ingat, kamu harus selalu mengambil air dan menyimpannya di dalam rumah, karena ketika pagi hari sering air terkadang membeku, apalagi ketika mendekati musim dingin." Chakram memberi tahu Armansyah.
"Betul-betul sangat menyegarkan Chakram.., aku sangat menyukainya," Armansyah berkomentar tentang air yang sudah diminumnya. kedua anak muda itu turun ke kali kecil, dan mengambil air untuk minum dan membasuh wajah mereka.
*********
Inter Laken
Karena masukan dari istrinya, lama kelamaan Andreas Jonathan bisa menerima alasan yang dibuat oleh adik kandungnya Stevie. Perlahan laki-laki itu bisa menerima, dan memahami bagaimana eratnya perasaan Stevie dengan Armansyah yang sejak kecil dipanggilnya dengan sebutan papa. Tetapi meskipun demikian, pencarian jejak laki-laki bernama Armansyah tetap dilakukannya.
"Bagaimana pencarian awalmu.. apakah sudah menemukan tanda-tanda..?" di ruang kerja yang ada di mansion tersebut, Andreas Jonathan bertanya pada dua laki-laki yang ditugaskan untuk melakukan penyelidikan pada Armansyah.
"Penyelidikan sudah kita lakukan tuan muda, dan kami berhasil menemukan mobil yang digunakan oleh Armansyah. Tetapi mobil itu ditinggalkan di desa terakhir, batas akhir kendaraan bermesin untuk naik ke pegunungan Alpen. Dan kami hentikan penyelidikan sementara tuan muda, karena dari informasi penitipan mobil, melihat ada dua orang, yang mungkin salah satunya adalah Armansyah, naik ke atas lereng pegunungan." salah satu dari laki-laki itu menyampaikan laporan.
"Hmm.. apakah kamu menganggap perintahku itu hal yang remeh, hingga kamu menghentikan penyelidikan.." dengan suara ketus, ANdreas Jonathan memberikan tanggapan.
"Tidak berani tuan muda.., meskipun kami berdua kembali ke Inter Laken. Ada dua orang rekan kami, yang masih berada di batas desa terakhir, untuk melihat dan menunggu mobil itu diambil oleh seseorang. Dari hal itu, kita akan bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan target operasi." kembali laki-laki itu menyampaikan penjelasan.
Andreas Jonathan terdiam, laki-laki muda itu terlihat seperti berpikir serius. Beberapa saat kemudian, akhirnya laki-laki muda itu kembali melihat ke arah dua laki-laki di depannya itu.
"Baiklah.. aku tidak mau mendengarkan hasil gagal, karena aku sudah membayar kalian mahal. Nyawa kalian bisa menjadi taruhannya, jika sampai keluargaku terkena masalah, hanya karena ketidak becusan kalian dalam bekerja. Ingat itu..." suara tegas Andreas Jonathan kembali memenuhi ruang kerja itu.
"Baik tuan muda, dengan sekuat tenaga, kami akan selalu berusaha. Mungkin sudah cukup laporan kami tuan muda, kami mohon pamit untuk kembali keluar.." Andreas Jonathan mengangkat tangannya ke atas, memberikan isyarat agar kedua laki-laki itu segera keluar dari ruangan itu.
*********