
Kehebohan terjadi di apartemen Arron dengan perginya Armansyah. Sandrina merasa terpukul, karena dari kakak sepupunya Armansyah, dia bisa berada di apartemen itu, dan menikah dengan Thanom. Tetapi tanpa pamit, dan kata perpisahan Armansyah sudah pergi meninggalkannya. Perempuan paruh baya itu duduk termenung, mencoba berpikir dan merenungkan apa ada salah darinya, sehingga tanpa pamit dan kata Armansyah pergi meninggalkannya.
"Sudahlah Sandrina.. tidak perlu terlalu berpikir tentang Armansyah. Sudah ada aku disini, aku kan sudah menjadi suamimu, jadi tidak perlu lagi berharap lebih pada saudara sepupumu. Kita fokus kembali dengan rencana awal kita, bagaimana aku akan membantumu untuk balas dendam terhadap keluarga Wijaya." Thanom berusaha menghentikan Sandrina yang sudah menikah dengannya.
Tetapi Sandrina masih terlihat belum bisa melupakan kepergian Armansyah, keberadaan di negara Swiss sendiri tanpa dukungan sumber daya, membuat nyali perempuan paruh baya itu down. Kehidupannya di negara ini, tergantung sepenuhnya pada Thanom, yang sebenarnya sedikitpun tidak pernah disayanginya. karena campur tangan Armansyah, akhirnya Sandrina bisa menjadi istri dari Thanom.
"Bangun Sandrina.. jangan menjadi bisu dan diam seperti itu. Aku tidak memilihmu untuk menjadi patung di sampingku..:" karena sejak tadi, merasa kata-katanya tidak didengar dan tidak dianggap oleh Sandrina, Thanom berbicara dengan nada keras.
Sandrina tersentak dan menatap pada laki-laki di depannya itu. Akhirnya karena tidak mau menimbulkan masalah kericuhan dengan laki-laki itu, Sandrina akhirnya berdiri meninggalkan Thanom sendiri, Di belakangnya, Thanom hanya geleng-geleng kepala melihat istrinya berjalan meninggalkannya.
"Tante.. tante Sandrina.., apa yang harus kita lakukan ke depan tante.. Apakah kita akan tetap berada di negara ini, untuk bersama dengan Arron dan Uncle Thanom.." baru beberapa langkah, tiba-tiba muncul Jennifer dan langsung bertanya pada Sandrina.
Sandrina menghentikan langkah kakinya, perempuan paruh baya itu menatap Jennifer. Melihat wajah muda gadis cantik di depannya, yang juga tidak punya masa depan sepertinya, membuat hatinya tiba-tiba merasa sesak. Tapi kali ini, tidak ada yang bisa dilakukannya lagi, selain harus merenungi kesalahan yang telah dilakukannya di masa lalu. Sandrina tidak mengeluarkan suara, dan hanya menatap ke wajah Jennifer dalam tatapan kosong, kemudian perempuan itu masuk ke dalam kamar.
"Kenapa dengan tante Sandrina, apakah kepergian Om Armansyah membuatnya terpukul..? Jika tante Sandrina seperti itu, bagaimana diriku ke depannya. Aku seperti tidak memiliki masa depan, dan hanya melihat ke masa depan dengan tatapan bingung.." Jennifer bingung bagaimana harus bereaksi, melihat Sandrina yang diikutinya, tidak mengatakan apapun padanya.
Jennifer masih berdiri dengan bingung, sampai Thanom melihat gadis itu dengan heran. Laki-laki itu tidak melihat bagaimana istrinya Sandrina baru saja berinteraksi dengan gadis itu, sehingga hanya mengerutkan dahi melihat Jennifer berdiri terpaku.
"Apa yang kamu lakukan di tempat itu Jenni, apakah ada yang aneh..?" Thanom bertanya pada gadis yang berdiri dalam diam itu.
Jennifer terperanjat, dan menatap Thanom. Gadis muda itu mencoba untuk tersenyum, sebelum menanggapi pertanyaan laki-laki itu.
"Tidak ada apa-apa Uncle.., hanya heran saja kenapa tante Sandrina meninggalkan Jennifer sendirian. Tante masuk ke dalam kamar, tanpa memberikan sapaan pada Jenni.. Uncle.." untuk menutupi kegalauan hatinya, Jennifer membuat alasan pada laki-laki itu.
"Sandrina sedang bingung, dan sepertinya agak shock dengan kepergian Armansyah yang tanpa pamit, dan tanpa berpamitan dengannya. Perempuan itu mungkin lupa, jika disini masih ada aku suaminya.., sepertinya Sandrina terlalu over thingking, sehingga menjadikannya linglung seperti itu.." ucap Thanom berkomentar tentang istrinya.
"Mmm... baik Uncle, biar tante Sandrina fokus istirahat terlebih dulu. Jenni juga mau masuk ke kamar, tiba-tiba saja mata sepertinya mengantuk." tidak lama kemudian, Jennifer juga kembali meninggalkan Thanom. Perempuan muda itu bergegas masuk ke dalam kamarnya.
********
Andreas Jonathan memotong steak di piring yang ada dalam potongan kecil-kecil, dan setelah selesai kemudian meletakkan piring itu di depan Cassandra. Perempuan muda itu tersenyum, dan selalu merasakan kemanjaan jika sedang berdua dengan suaminya. Perlahan Cassandra mulai menusuk potongan steak dengan menggunakan garpu, kemudian memasukkan ke mulutnya.
"Bagaimana honey.. apakah empuk dagingnya..?" Andreas Jonathan menatap istrinya yang mulai menikmati steak. laki-laki itu belum mulai mencicipi makanan yang dipesannya sendiri.
"Empuk kak, tetapi di dalamnya masih juicy.., segar. tapi tidak ada bau daging mentah, tingkat kematangannya sempurna.." sambil terus meneruskan makannya, Cassandra berkomentar atas menu steaknya.
Mendengar jawaban puas istrinya, laki-laki muda itu mulai mencicipi menu makanannya sendiri. Jika Cassandra memilih daging untuk steak, Andreas Jonathan lebih memilih ikan salmon untuk steaknya. Perlahan laki-laki itu menusuk potongan salmon dengan garpu, kemudian menyuapkan satu potong fish steak ke mulut istrinya.
"Fish steak nya okay juga kak, semuanya enak disini menunya. Recommended..:" Cassandra memberikan review makanan yang dipesan suaminya.
"Iya.. bersih juga untuk ruangan, dan penyajiannya. Kita bisa memasukkan restaurant ini, sebagai salah satu restaurant rujukan jika akan menjamu tamu, suatu saat nanti. Meskipun di depan jalan lintas Inter Laken, tetapi tidak ada suara bising yang masuk ke private room. Betul-betul tebal akustik yang digunakan untuk meredam suara yang ditimbulkan." Andreas Jonathan mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Emm.. kita selesaikan dulu makan siangnya kak. Setelah itu, kita temu Stevie dan kak Alex di lantai bawah, tadi Sandra sempat melihat mereka duduk di sudut ruangan." akhirnya Cassandra membocorkan pada suaminya, jika sebenarnya sudah menemukan keberadaan adik iparnya.
Andreas Jonathan mengangkat wajahnya, dan memandang istrinya yang senyum-senyum melihatnya sejak tadi.
"Pintar sekali istriku ternyata menyembunyikan rahasia. Apakah takut, jika kedatanganku menggagalkan kencan mereka berdua, sampai honey merahasiakan tempat duduk kedua anak itu.." meskipun dengan nada bicara pelan, tapi Cassandra merasa tersindir dengan ucapan suaminya.
"Bukannya begitu kak Andre.. kan Sandra juga ingin nge date hanya berdua dengan kak Andre. Jika mereka tahu keberadaan kita disini, gak asyik dong untuk kita. Karena nanti jadinya tidak single date, tapi malah menjadi doubel date. Terlalu ramai kak, lebih enak kayak gini, kita bisa semakin lebih dekat.." dengan style nya, Cassandra memang selalu bisa melunakkan hati seorang Andreas Jonathan.,
"Hmm... terserah honey saja deh, bagaimana mengaturnya. Yang penting istriku yang cantik ini, mommy dari Altezz dan putraku yang masih berada dalam kandungan ini, selalu sehat, dan tidak pernah bersedih lagi.." akhirnya Andreas Jonathan menyerah untuk mengajak bicara istrinya.
Cassandra kembali tersenyum, kemudian keduanya segera menghabiskan menu makanan dan minuman yang mereka pesan. Beberapa saat kemudian, setelah tidak ada makanan dan minuman yang tersisa, Andreas Jonathan mengajak istrinya untuk segera turun ke bawah.
*********