
Pent House
Tuan Wijaya duduk di atas sofa sambil melihat wajah cucunya Altezza yang sedang tertidur di stroller, yang diletakkan tidak jauh dari laki-laki tua itu duduk. Dari arah pantry, terlihat Cassandra membawa nampan berisi dua minuman panas, satu teh manis panas untuk mertuanya, dan satu black coffee panas untuk suaminya.
"Terima kasih putriku.." sambil menerima cangkir, kemudian menyesapnya langsung, tuan Wijaya berterima kasih pada menantinya.
Cassandra tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kemudian perempuan itu akan duduk di samping tuan Wijaya. Namun, dengan cepat Andreas Jonathan sudah berdiri dan menarik tangan Cassandra untuk duduk di dekatnya. Tuan Wijaya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah kekanak-kanakan yang dimiliki oleh putranya. Tetapi laki-laki tua itu tidak berkomentar atas sikap putranya itu.
"Papa... jika papa mengijinkan dan ikhlas, Andre sudah memerintahkan Alex untuk mengurus perceraian papa. Tapi itupun jika papa berkenan dan berkehendak." tiba-tiba tanpa memperhatikan kesehatan papanya, dengan kata-kata tegas Andreas Jonathan mengajak papanya berbicara.
"Kakak.. kak. Andre..." Cassandra tersentak, dan menatap tajam ke mata suaminya.
"Sorry honey... keputusan itu sudah aku ambil dan pikirkan dengan matang. Hanya ada dua pilihan untuk papa, yang pertama, kita akan tinggal bersama, dimanapun tapi dengan catatan tidak ada Sandrina lagi dalam hidup papa. Pilihan yang kedua, papa tetap bertahan dengan Sandrina, tetap bertahan dalam pernikahan, namun sampai kapanpun, Andre tidak akan pernah berkunjung pada papa." kata-kata Andreas Jonathan lagi-lagi mengejutkan Cassandra. Namun.. gadis itu tidak bisa berkata apa-apa, jika suaminya sudah mengeluarkan suara.
"Papa... papa tidak harus merasa terpressure atau terintimidasi atas kata-kata kak Andre. Semua jawaban ada pada papa.., mungkin kak Andre baru emosi sehingga terlalu impulsive memberikan pilihan itu pada papa." untuk menjaga kesehatan tuan Wijaya, Cassandra berusaha menenangkan kembali hati papa mertuanya.
Tuan Wijaya tersenyum pahit, dan terdiam sebentar. Setelah itu laki-laki itu menatap putranya Andreas Jonathan, kemudian menatap putri menantunya Cassandra dengan penuh kasih. Dan terakhir tuan Wijaya mengarahkan pandangannya pada cucunya Altezza.
"Putraku Andre.., putriku Sandra.. keberadaan Altezz di sisi kalian, sudah membulatkan tekadku untuk terus bersama dengan kalian. Lebih dua puluh tahun menikah dengan Sandrina, memang bukan merupakan waktu yang pendek, banyak kenangan, dan banyak suka duka yang kami lalui berdua. Meskipun jika dipikirkan, terlalu banyak dukanya. Namun.. melihat tingkah istriku yang dengan keji membuat pengaturan untuk menyingkirkanmu menantuku, aku tidak akan diam. Kebaikan Sandrina, aku anggap sudah mati, dan papa menyetujui untuk bercerai dengan wanita itu.." tidak diduga, dengan kata-kata emosional Tuan Wijaya akhirnya menyuarakan pendapatnya.
Cassandra mengangkat wajahnya ke atas, mencoba untuk mengawasi papa mertuanya. Tapi dengan cepat Andreas Jonathan mengambil kepala gadis itu, dan menyandarkan ke sisi bahunya. Kemudian laki-laki itu menundukkan wajah dan memberikan kecupan di dahi istrinya.
"Kak Andre.. yang sopan sedikit kenapa, ada papa di depan.." Cassandra memprotes perlakuan suaminya.,
"No problem.. papa juga pernah muda. Tidak perlu, honey turut campur pada masalah papa, aku sudah membuat pengaturan, Kita tinggal tunggu Alexander, sebentar lagi anak muda itu akan kesini untuk meminta tanda tangan papa." tidak mau mendengar kata-kata istrinya, keputusan Andreas Jonathan sudah tidak bisa untuk diganggu gugat.
Akhirnya Cassandra hanya diam tidak ikut memberikan masukan, karena terlihat jika papa mertuanya juga menyetujui apa yang diinginkan oleh putranya.
Siang harinya, Alexander datang ke Pent House dengan membawa berkas di tangannya. Laki-laki muda itu tersenyum sambil menganggukkan kepala ketika berpapasan dengan Cassandra, yang sedang menggendong Altezza. Melihat kepentingan laki-laki itu untuk urusan papa mertuanya, Cassandra mengabaikannya dan bergegas menuju ke arah balkon.
"Bagaimana kerjamu hari ini Alex.. apakah semua sudah kamu urus dan selesaikan dengan baik." dengan kata-kata berat, Andreas Jonathan bertanya pada wakil CEO di perusahaannya.
"Sudah tuan muda.. untuk Jennifer dan Nyonya Sandrina juga sudah ditahan oleh pihak kepolisian. Mereka akan segera diadili dalam waktu yang tidak lama lagi. Sedangkan untuk kasus perceraian, juga sudah saya urus, dan tinggal menunggu persetujuan dari tuan Wijaya. Setelah beliau tanda tangan, karena beratnya kasus terindikasi ada rencana pembunuhan, maka akta cerai sudah dijanjikan pihak pengadilan agama akan langsung diberikan tanpa ada sidang pengadilan." Alexander segera melaporkan hasil kerjanya.
"Good job.. karena akan muncul banyak tanggung jawab pekerjaan lagi. Mencari keberadaan mamaku, juga masih menjadi prioritas dalam hidupku, dan untuk saat ini aku masih belum tega untuk mempressure papa, dimana aku akan mendapatkan informasi tentang keberadaan mama terakhir kali." Andreas Jonathan mengungkapkan isi hatinya pada Alexander.
"Siap tuan muda.. untuk saat ini saya permisi dulu, akan menemui tuan Wijaya yang meminta tanda tangan dari beliau sendiri." akhirnya setelah melihat Andreas Jonathan mengangguk, Alexander segera berjalan meninggalkan tuan mudanya sendiri. Satu buah stop map tampak dibawa oleh Alexander.
"Tok.. tok.. tok.." Alexander mengetuk pintu kamar tuan Wijaya yang tidak dikunci.
"Masuklah.." jawaban singkat, mengantarkan Alexander memasuki kamar yang digunakan oleh laki-laki tua itu beristirahat. Tampak tuan Wijaya sedang berada di balkon sambil memandang kota Jakarta dari atas kamarnya. Melihat masukkanya Alexander dan berdiri di belakangnya, laki-laki tua itu membalikkan badan dan menatap pada Alexander.
"Duduklah disini Alex.." tuan Wijaya meminta Alexander duduk di kursi yang ada di balkon. Laki-laki tua itu akhirnya mengikuti anak muda itu, dan duduk di sampingnya.
"Tuan besar.. kedatangan saya kali ini untuk memberikan berkas ini pada tuan besar. Mohon untuk mempelajarinya terlebih dulu, sebelum tuan besar membubuhkan tanda tangan. Dan mungkin juga perlu dipertimbangkan terlebih dulu, apakah tuan besar akan betul-betul menceraikan nyonya Sandrina, ataukah hanya karena ingin menyenangkan hati tuan muda Andreas Jonathan." Alexander meminta laki-laki tua itu untuk mempelajari berkas yang dibawanya.
Terlihat tuan Wijaya menghirup nafas dalam, dan menghembuskannya lagi perlahan.
"Tidak Alex.. keputusanku sudah kuat, kehidupanku akhir-akhir ini, sebelum ada kejadian ini dengan Sandrina juga sudah tidak baik-baik saja. Ketidak adaan anak dalam perkawinan ini, sering membawa konflik, dan sebagian asset keluarga, banyak yang diatas namakan Sandrina dengan atas nama keluarganya. Hal ini sudah tidak sehat, dan memang benar yang dikatakan Andre, jika aku harus menemani putraku untuk menemukan keberadaan mamanya." tuan Wijaya bicara lirih.
"Jadi.. mama tuan muda benar-benar masih hidup tuan besar?? Jika begitu.. berikan pada saya keberadaan terakhir, dan ciri-cirinya tuan besar. Saya akan menerjunkan tim untuk mencari, dan membawa Nyonya besar kembali ke rumah ini.." dengan tegas, Alexander menawarkan bantuan.
********