
Tuan Wijaya mengikuti Nyonya Sheila ke kamarnya, namun dengan cepat perempuan itu menghentikan laki-laki paruh baya itu. Kedua tangan nyonya Sheila direntangkan ke kanan dan ke kiri, seperti memberi batasan agar tuan Wijaya tidak mengikutinya.
"Sheila... jangan salah paham denganku. Aku tidak rela membiarkanmu berada di suites room sendiri, sedangkan kita semua tinggal di Pant house. Aku hanya ingin menemanimu disini, atau paling tidak kamu yang ikut aku ke atas." tuan Wijaya berusaha menenangkan mantan istrinya.
"Halah itu hanya akal-akalan saja,. aku sudah tidak mau mendengarkan modus yang kamu umbar Wijaya. Cukup sudah.. pengalaman sebagai guru bagiku." Nyonya Wijaya tetap menolak.
Tuan Wijaya bingung memikirkan bagaimana akan menundukkan perempuan yang pernah disakitinya itu.. Sheila yang dulu menurutnya sudah tidak sama dengan Sheila yang dulu. Perempuan itu sudah banyak berubah, lebih mandiri dan tidak mudah dengan janji-janji yang diberikannya. Merupakan keberuntungan baginya, ketika di hotel Yogakarta bisa satu kamar dengan perempuan itu, meskipun tidak terjadi apa-apa antara keduanya.
"Sheila.. menurutlah denganku, Stevie juga tidak ada di kamar. Hari ini bukan weekend esok harinya, sehingga hunian banyak yang kosong. Aku tidak tega membiarkanmu sendiri di tempat ini. Ikutlah denganku Sheila.., aku yang akan mengalah nantinya."
Nyonya Sheila berpikir beberapa saat, kemudian dilihatnya area sekitar. Memang benar yang dikatakan mantan suaminya, tempat itu ternyata sepi. Tidak ada satupun orang yang lewat apalagi lalu lalang.
"Baiklah.. kali ini aku akan mengikutimu Wijaya, tapi hanya untuk kali ini saja. Selebihnya setelah Stevie kembali, aku akan kembali ke suites room." akhirnya Nyonya Sheila mengalah karena takut melihat suasana di sekitar tempat itu sangat sepi.
Tuan Wijaya tersenyum, akhirnya dua orang dewasa itu berjalan menuju pintu lift untuk mengantarkan mereka ke roof top. Dalam perjalanan keduanya diam, tidak ada pembicaraan di antara mereka . Nyonya Sheila berjalan lebih dahulu dan Tuan Wijaya di belakangnya.
"Selamat malam tuan besar, nyonya besar..." pengawal yang berjaga di lantai suites room memberi salam pada dua orang itu.
"Ya.. tekankan tombol untuk menuju ke lantai atas.." tuan Wijaya memberi perintah pada pengawal itu.
"Baik tuan besar.."
Tidak lama kemudian pintu lift terbuka, dan dua orang itu segera masuk ke dalam lift. Tuan Wijaya segera menekankan lantai yang akan mereka tuju. Nyonya Sheilla menjaga jarak, seakan memberi jeda antara dirinya dengan tuan Wijaya. Tidak sampai lima menit lift berhenti dan pintu terbuka perlahan.
"Langsung menuju kamar saja,agar tidak mengganggu Sandra dan Andre istirahat. Sekarang sudah malam, saatnya orang harus istirahat." tuan Wijaya segera menggandeng tangan nyonya Sheila dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Sebenarnya nyonya Sheila akan menghalangi tuan Wijaya masuk ke dalam, tetapi laki-laki paruh baya itu sudah terlanjur masuk ke dalam kamar. Tetapi begitu masuk ke dalam kamar, nyonya Sheila melihat jika ada dua kamar di dalam ruangan itu, akhirnya perempuan itu membiarkan mantan suaminya berada di dalam.
"Aku akan langsung istirahat, tidak punya waktu untuk mengajakmu berbincang." sambil melangkahkan kaki menuju kamar, nyonya Sheila memberikan peringatan pada tuan Wijaya.
"Mmmm.. baik istirahatlah.. Good night and sweet dream.." dengan tersenyum kecut, tuan Wijaya menanggapi pernyataan mantan istrinya.
*******
"Kamu sudah siap honey.., jika sudah kita bisa berangkat sekarang." melihat istrinya yang sudah siap, Andreas Jonathan segera menggandeng tangan istrinya, dan berjalan menuju ke lift untuk mengantarkan mereka ke lobby hotel.
Tidak sampai lima menit, pasangan suami istri itu sudah sampai di lobby. Pengawal membukakan pintu mobil untuk keduanya. Tuan muda Andreas Jonathan membangun istrinya Cassandra untuk masuk ke dalam mobil. Setelah istrinya masuk, laki-laki itu menutup pintu sendiri, kemudian berjalan memutari mobil untuk masuk di pintu sebelah kanan.
"Honey... jika sudah sampai di perusahaan, tidak perlu pergi kemana-mana. Cukup di ruanganku saja." sambil menggenggam tangan Cassandra, Andreas Jonathan berpesan pada gadis itu.
" Iya kak..., lagian kakak tahu sendiri bukan, selama Sandra bekerja dulu sepertinya tidak pernah ngerumpi. Malah banyak dimusuhi dan dikerjain sama karyawan pad divisi lain. Sampai sekarang, Sandra juga tidak habis pikir, kenapa karyawan di lantai satu pad julid sama Sandra." tanpa sadar, Cassandra malah curhat sama suaminya.
Andreas Jonathan tersenyum kemudian mengangkat tangan istrinya ke atas, dan memberikan ciuman di jari-jari tangannya.
"Honey sendiri yang tidak menyadari jika kedatangan honey di perusahaan, telah memupus harapan mereka. Baru sekali datang ke perusahaan, tiba-tiba langsung mendapatkan posisi disampingku. Dimana hal itu menjadi impian semua karyawan di perusahaan." Andreas Jonathan mencoba menjelaskan.
"Mereka terlalu berekspektasi terlalu tinggi. Memang apa sih keuntungannya, bekerja dekat kak Andre juga kak Alex, malah seakan tidak punya jam kerja. Sewaktu -waktu harus ready memberikan pelayanan pada kakak." tanpa sadar, Cassandra baru mengutarakan keberatannya kali ini.
"Hmmm... iya deh, sekarang permintaan maafnya saat ini ya honey.." Andreas Jonathan merengkuh leher gadis itu, kemudian memberikan ciuman di kening dan pucuk kepala Cassandra.
Dari kaca depan, driver tidak berani memberikan komentar ataupun bersuara. Laki-laki itu malah pura-pura tidak melihat apa yang dilakukan tuan muda dan nona mudanya. Beberapa saat kemudian, mobil yang dibawa sudah masuk di lobby perusahaan. Dengan cekatan, security membukakan pintu mobil. Cassandra dan Andreas Jonathan segera keluar dari dalam mobil.
"Kita langsung ke lantai atas, tidak perlu untuk sapa kanan kiri. " seakan memahami kebiasaan istrinya yang selalu menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya, Andreas Jonathan langsung menarik istrinya menuju pintu lift.
Gadis itu merasa tidak berdaya akhirnya mengikuti anjuran suaminya. Tetapi kehebohan terjadi di belakang Cassandra dan Andreas Jonathan. Semula mereka hanya menganggap kabar angin ketika melihat lukisan Andreas Jonathan dan Cassandra berada dalam satu frame. Mereka tidak percaya jika mereka akhirnya bersatu. Namun kenyataan yang mereka lihat di pagi ini, betul-betul mengejutkan para karyawan di PT. Indotrex Tbk.
"Apakah mataku yang mulai rabun ataukah memang benar pandangan mataku. Benarkah si gadis tengil itu berjalan dan diperlakukan dengan mesra oleh tuan muda..?" dengan tidak percaya, seorang karyawan yang dulu sering memancing keributan dengan Cassandra bertanya pada karyawan yang lain.
"Hush.. jaga bicaramu.., kita boleh tidak percaya, namun itulah kenyataannya." sahut temannya yang lain.
********