CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 136 Rasa di Masa Lalu



Keesokan Paginya


Nyonya Sheilla mengajak Stevie untuk melakukan sarapan pagi di restaurant, Namun berkali-kali, perempuan itu menekan bel di pintu kamar putrinya, tidak ada jawaban dari dalam. Rupanya sejak pagi, Alexander sudah mengajak Stevie jalan-jalan untuk melihat pemandangan di kota Jakarta. Akhirnya dengan lesu, nyonya Sheilla berjalan sendiri menuju ke arah restoran yang ada di lantai tiga. Tanpa melihat ke kanan, kiri.. Nyonya Sheilla langusng masuk ke dalam restoran, dan tanpa dia sadari, kedatangannya menimbulkan perhatian serius dari seorang laki-laki yang sudah lebih dulu berada di dalam restoran.


"Perempuan itu seperti Sheilla.., apakah aku tidak salah melihatnya. Meskipun garis-garis tua sudah mulai muncul di wajahnya, tapi aku tidak akan bisa melupakannya. Sheilla.. gadis yang karena keegoisanku, dan kelicikan Sandrina.., akhirnya harus terpisah denganku. Sudah sangat lama, ketika Andreas Jonathan masih berusia tiga tahun, perempuan itu sudah aku usir dari hidupku." tuan Wijaya merasa sesak, ketika mengenali kedatangan Sheilla, perempuan yang sudah pernah dinikahinya itu.


Pergerakan Nyonya Sheilla di dalam restaurant, tidak terlepas dari pandangan tuan Wijaya. Laki-laki itu membatin, apakah putranya Andreas Jonathan, dan putri menantunya yang sudah mengatur semua ini. Namun, tuan Wijaya sangat yakin, jika perempuan itu akan marah besar jika berpapasan dengannya. Untuk itu, tuan Wijaya hanya berani mengawasi perempuan itu dari jauh, dan tidak berani untuk mendekatinya.


Beberapa saat, terlihat Nyonya Sheilla mengambil beberapa potong pancake, dan meminta pelayan hotel untuk menyiapkan omelet untuknya. Dalam usianya,. Nyonya Sheilla memang mengurangi asupan karbohidrat di dalam tubuhnya. Perempuan itu lebih memilih protein untuk menggantikan energinya, dengan asupan kalori yang cukup untuk menggantikan peran karbohidrat.


"Nyonya.. ini omeletnya sudah siap, apa lagi yang harus saya siapkan untuk anda..?" seorang pelayan mengantarkan telur omelet ke meja perempuan itu, kemudian menanyakan apalagi yang bisa dia bantu lagi.


"Ambilkan aku beberapa buah potong, dan antarkan kesini.." dengan suara ramah, perempuan paruh baya itu meminta pelayan untuk mengambilkan buah potong/.


Wijaya tersenyum melihat sikap Sheilla yang masih terlihat anggun. Ada kepercayaan diri yang tinggi jika perempuan itu berbicara, sehingga jasa besar Sheilla untuk perkembangan bisnisnya di masa lalu, sangat jelas terlihat. Namun kesilauan Wijaya ketika bertemu dengan Sandrina, akhirnya membuat peran dari Sheilla perlahan tergusur. Laki-laki itu lebih memilih untuk mendapatkan Sandrina, dan mengusir pergi perempuan baik itu.


"Sheilla masih saja terlihat anggun dan elegan. Meskipun apa yang dikenakannya saat ini, tidak memiliki nilai mahal, namun ternyata keanggunan dan keramahan yang memunculkan inner beauty dari dalam dirinya." Wijaya terlihat mengagumi perempuan paruh baya itu. Sejak tadi, tidak pernah bosan, laki-laki itu menatap Sheilla  dari sudut restaurant.


"Aku harus mencari cara bagaimana untuk bisa mendekatinya. Tidak mungkin aku akan menyapanya di tempat ini, malah bisa-bisa perempuan itu akan kabur, atau bahkan menamparku.." Wijaya menata hati dan perasaannya. Beberapa saat, tuan Wijaya hanya bisa memandang dan menikmati wajah ayu dari perempuan paruh baya itu, namun tidak memiliki keberanian untuk mendekati apalagi menyapanya.


Tiba-tiba ada seorang gadis cantik yang masuk ke dalam restaurant, dan langsung menyapa perempuan paruh baya itu. Nyonya Sheilla memberinya pelukan dan ciuman di pipi gadis itu. Mata Wijaya terbuka lebar, laki-laki itu berpikir siapa gadis itu.


"Apakah Sheilla sudah menikah, dan memiliki anak perempuan itu. Tetapi wajah cantik gadis itu, memiliki garis rahang tegas seperti putraku Andreas Jonathan.." melihat kedekatan Sheilla dan gadis yang baru saja datang dan memeluknya, membuat hati tuan Wijaya menjadi penasaran.


"Aku akan menyelidikinya.." tuan Wijaya berpikir tegas,


*********


"Jadi kak Alex.. akan meninggalkan Stevie di kamar hotel ini hanya dengan mama saja.." pertanyaan yang diucapkan oleh Stevie seakan mengandung kata protes, ketika Alexander berpamitan padanya.


"Hmm... ataukah Stevie akan mengikutiku ke perusahaan. Tapi harus berjanji, tidak boleh membuat ulah disana, karena aku harus bekerja. Banyak urusan perusahaan yang aku tunda, karena keberadaanku beberapa hari di Singapura kemarin. Kali ini aku harus segera membereskan dan melakukan eksekusi." Alexander membuat alasan.


"Wah .. tidak seru dong. Masak, Stevie hanya diminta untuk melihat orang bekerja saja, sedangkan kak Alex dan kak Andre sibuk mengerjakan banyak pekerjaan. Malas ah..": membayangkan kejenuhan ketika berada di dalam ruang kerja laki-laki itu, Stevie menolak tawaran Alexander.


"Ha.., ha.., ha.. tuan muda juga pasti akan memberi hukuman kepadaku Stevie., jika kamu ternyata ikut datang ke perusahaan. Karena keberadaanmu pasti akan memecah fokus perhatianku.." laki-laki itu menanggapi perkataan Stevie dengan tertawa.


Terlihat Stevie cemberut, keberadaannya di negara yang masih asing untuknya, tanpa seorangpun teman yang dia kenal, membuatnya menjadi seperti terkurung. Sedangkan orang-orang dekatnya, malah sibuk dengan urusan mereka sendiri-sendiri. Gadis itu terbiasa bebas berkeliaran di negara Singapura, bekerja sambil menyelesaikan kuliah agar mereka bisa bertahan hidup. Perubahan statusnya hanya dalam beberapa hari terakhir, ternyata menjadikan dirinya seperti hidup di dalam penjara.


"Stevie.. kenapa kamu tidak mencoba untuk main ke Pent House saja. Kamu bisa mengajak mamamu untuk berkunjung ke tempat Altezz, ada kak Sandra yang akan menemanimu dan juga Nyonya Sheilla berbincang. Perempuan muda itu juga selalu berusaha merayu tuan muda untuk diijinkan kembali bekerja, dan tuan muda masih mempertimbangkannya." tiba-tiba Alexander mengusulkan sebuah usulan yang menarik.


"Benarkah kak Alex..., apakah nanti kedatangan Stevie dan mama ke Pent house tidak akan mengusik ketenangan kak Sandra.." dengan tatapan datar, gadis itu mengkonfirmasi perkataan Alexander.


"Tidak sayang.. kak Sandra itu gadis yang sangat baik, aku sudah mengenalmnya dengan baik, jauh sebelum menjadi istri dari tuan muda.. Ayolah.. jika kamu mau, sebelum aku berangkat ke perusahaan, aku akan mengantarmu.." Alexander terus berusaha merayu Stevie.


Gadis itu kembali terdiam untuk beberapa saat, namun akhirnya..


"Tapi Stevie akan menawarkan hal ini pada mama dulu kak.., Stevie khawatir mama akan menolaknya." ucap Stevie yang tiba-tiba mengkhawatirkan mamanya.


"Kamu bisa mencobanya, namun jika Nyonya Sheilla menolak ajakanmu, kenapa kamu tidak mencoba untuk naik sendiri. Bukankan kalian masih memiliki hubungan adik dan kakak, meskipun hanya ipar. tapi Altezz adalah keponakanmu sayang, darah yang mengalir di tubuhnya, sama dan mirip dengan darahmu.." Alexander terus berusaha meyakinkan gadis itu.


Setelah beberapa saat, akhirnya Stevie menganggukkan kepalanya. Alexander tersenyum melihatnya.


***********