
Menjelang pagi, suasana hotel dan sekitar ballroom sudah dilakukan proses sweeping oleh security, pengawal dan juga pihak polisi di wilayah hotel berada. Bahkan untuk memastikan semua perlengkapan dan persiapan sudah dilakukan pihak hotel, dan tidak ada yang menggigit sumber daya dari luar. Karena Andreas Jonathan pemilik saham terbesar hotel tersebut, semua bisa berjalan seperti yang diinginkan oleh keluarga tersebut.
"Apakah kamu sudah siap Stevie putriku, jika sudah maka akan mengantarkanmu menuju ballroom." dengan suara serak menahan isak tangis, Nyonya Sheilla melihat ke wajah putrinya. Perempuan paruh baya itu tidak bisa menahan rasa haru, karena untuk pertama kalinya terlibat dalam pernikahan putrinya. Rasa sedih karena akan ditinggalkan putrinya, seperti menghantui Nyonya Sheilla.
"Mam..., kenapa mama menangis, apa mama tidak senang melihat Stevie saat ini kami? Katakan mama, jika mama memang tidak ada keikhlasan untuk melepaskan Stevie, maka pernikahan ini bisa dibatalkan mama. Stevie bisa menunda, atau tidak menikah selamanya asalkan mama tetap tersedia dan bahagia." Stevie terpengaruh suasana hati mamanya, dengan sedih gadis muda yang sudah akan melepas masa lajangnya itu bertanggung pada mamanya.
"Jangan salah paham putriku Stevie, tangisan ini adalah wujud keharuan dan kebahagiaan mama. Seorang ibu di manapun, pasti akan terharu dan menangis melihat putrinya dipinang dan akan melangsungkan perkawinan." Nyonya Sheilla memeluk erat tubuh Stevie.
"Terima kasih mama.." Stevie pun juga tidak bisa menahan rasa haru, untung MUA masih menunggu mereka sampai acara akad nikah berulang. Melihat air mata di pipi Stevie, dengan sigap perempuan itu mengambil tissue dan mengusap pelan air mata itu, kemudian merapikan lagi riasannya.
"Nona muda..., Nyonya besar.., ada baiknya segera menuju ke ballroom. Sepertinya beberapa kali, pengawal sudah mengintip di luar ruangan, untuk memastikan apakah nona muda sudah selesai bersiap." dengan hati-hati, MUA memberanikan mengingatkan pada dua perempuan, mama dan putrinya itu.
Seperti ingin menyudahi kesedihan mereka, akhirnya Nyonya Sheilla memegang kedua bahu Stevie.
"Putriku.. Ayuk kita segera ke depan, penghulu sudah datang..Saksi juga sudah siap menempatkan dirinya di ballroom." Nyonya Sheilla dengan hati-hati menggandeng tangan putrinya.
Akhirnya dua perempuan itu berjalan keluar dari dalam ruangan, dan disambut beberapa pengawal yang sudah menunggu sejak tadi. Keduanya segera berjalan meninggalkan ruang transit, dan berjalan menuju ballroom dengan beberapa pengawal yang berjalan mengelilingi mereka.
Sesampainya di depan ballroom, kedua perempuan itu tertegun dan berhenti sejenak. Keduanya saling berpandangan dan menahan perasaan dalam hati mereka masing-masing.
"Selamat menikah putriku, kebahagiaan selalu menyertaimu dengan pasanganmu. Papa Armansyah..." ternyata ada ucapan dalam bentuk hiasan bunga dari laki-laki yang selama ini membersamainya dari bayi sampai menjelang dewasa'.
"Mam.. apakah mama melihatnya?" sambil menahan sesak, Stevie berbisik pada mamanya.
Nyonya Sheilla masih terpaku, tetapi perempuan paruh baya itu tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala ke bawah.
"Jangan habiskan waktu dan pikiranmu untuk hal-hal yang tidak masuk akal putriku. Kita sudah menempuh jalan kita masing-masing, setelahnya kamu dan suamimu nanti yang akan berpikir tentang bagaimana kelanjutan hubungan kalian dengan pengirim pesan itu." dengan berbisik pula, Nyonya Sheilla kembali membawa putrinya masuk ke dalam.
Stevie tidak menjawab, dan tidak berani lagi untuk berkomentar. Tiba-tiba saja perempuan itu terbawa perasaan, dan teringat akan sisi baik dari mantan papa tirinya, yang baru diketahuinya belum lama ini. Tetapi melihat keceriaan orang-orang yang melihatnya, akhirnya kedua perempuan itu segera masuk ke dalam ballroom.
********
"Putriku sangat cantik..." mulut tuan Wijaya tanpa sadar bergumam mengagumi kecantikan putrinya.
Laki-laki itu kemudian berdiri dan berjalan menyambut putri dan mantan istrinya itu. Senyuman berkembang menyambut kedua perempuan tampak sangat cantik itu
"Putriku Stevie.. kamu sudah siap sayang, jika sudah, acara pernikahan sudah akan dimulai." tuan Wijaya berbicara pada putrinya.
Stevie dengan malu-malu menganggukkan kepalanya ke bawah.
"Ikutlah dengan papa sayang," bisik tuan Wijaya.
Tuan Wijaya menempatkan posisi di samping Stevie, dan gadis itu berjalan dengan diapit oleh kedua orang tuanya. Ada rasa kebahagiaan dalam diri gadis itu, karena tidak menyangka akan didampingi oleh kedua orang tuanya dalam formasi yang lengkap. Andreas Jonathan tersenyum melihat pemandangan di depan matanya itu, melihat betapa bahagianya jika semua anggota keluarga bis berkumpul dan menjadi satu kembali. Tidak lama kemudian...
"Calon pengantin putrinya juga sudah siap..?" tiba-tiba penghulu bertanya pada Stevie.
Alexander mengulum senyum, seakan tidak percaya juga dengan apa yang dia lihat di depannya. Bahkan beberapa yang hadir di tempat itu, saling berbisik membicarakan kecantikan calon pengantin yang tampak serasi dengan Alexander yang juga terlihat sangat tampan. Pasangan itu mengenakan pakaian yang tampak serasi dan senada, dengan garapan butik langganan Andreas Jonathan dan juga Alexander.
"Aku tidak menyangka, ternyata Stevie secantik ini." dalam hati, Alexander berbicara mengagumi keindahan calon istrinya. Gadis tomboy yang perlahan duduk disampingnya, dan didampingin tuan Wijaya sebagai orang tua laki-laki yang akan sekaligus akan menjadi wali nikahnya, saat ini menjelma menjadi seorang putri kerajaan.
"Alex... apa yang terjadi denganmu, tidak bisakah kamu melihat ke depan.." sindiran kata sarkasme dilontarkan Andreas Jonathan melihat reaksi dari asisten pribadinya itu.
"Tidak lama lagi nona Stevie akan menjadi milikmu mas Alex, tinggal sabar sedikit saja.. Biar para saksi, dan juga wali nikah menempatkan diri dulu.." penghulu ikut menyahut, karena sejak tadi seperti melihat tatap kekaguman dari Alexander pada calon istrinya.
"Hmm... shock dan suprise sekali hari ini tuan muda, pak penghulu, saya akan bersanding dengan bidadari tercantik yang baru kali ini saya temui.." sambil kembali menghadapkan wajah ke depan, Alexander tersipu malu. Stevie malah tidak mampu mengeluarkan suara, sejak tadi gadis itu sudah menundukkan wajah ke bawah, begitu papanya memintanya duduk berdampingan dengan Alexander, kemudian papanya duduk di tengahnya,
Terlihat Herlambang yang juga tampak mengagumi kecantikan calon istri dari pimpinannya itu, segera maju ke depan. Dengan ketiga manajer divisi yang ada di PT. Indotrex. Tbk, ternyata anak muda itu diminta Alexander untuk menjadi saksi nikahnya. Sejak tadi anak muda sudah mengedarkan pandangan ke sekeliling ballroom, berharap bisa menemukan Cassandra, tetapi rupanya gadis itu tidak ada.
******