
Setelah beberapa saat, orang-orang yang dibawa Armansyah tidak berkutik, dan laki-laki tua itu menatap Alexander dan para pengawal dengan tatapan marah. Stevie berjalan mendekati laki-laki itu, dan Mrs. Sheilla tetap bertahan di lobby dengan ditemani Cassandra dan Andreas Jonathan. Tampak dari penampilannya, mungkin karena lingkungan dan keadaan yang memaksa, Stevie memiliki pembawaan persis dengan para pengacau itu.
"Pergilah papa Arman.. jangan ganggu mama Stevie lagi. Sudah cukup mama menderita, dan tertekan karena intimidasi dan siksaanmu. pergilah.." dengan nada keras, Stevie memberi peringatan pada laki-laki yang dipanggil dengan nama Armansyah itu.
"Kamu sudah berani melawanku Stevie.. apakah hanya karena beberapa cecunguk yang mengalahkan orang-orangku, kamu sudah besar kepala, dan merasa sudah bisa mengalahkanku. Ha.. ha.. ha.. mimpi kamu anak kecil. Selamanya, kamu dan mamamu akan menjadi budakku.." dengan pongah, Armansyah berbicara dengan nada yang tidak kalah kerasnya.
"Terserah papa mau bicara apa, Stevie sudah memperingatkan. Pergi dan jangan ganggu lagi kami pa.. pergi, bebaskan mama dari siksaanmu.." Stevie tetap berusaha untuk mempengaruhi papanya.
Namun, laki-laki paruh baya itu tetap terlihat keras kepala, dan tidak mau mengalah. Masih dengan pandangan mengintimidasi, Armansyah berjalan mendekati Stevie, padahal orang-orang yang dibawanya sudah diikat dan ditahan oleh pengawal yang disiapkan ALexander.
"Berani setitik saja kamu melukai Stevie calon istriku.. maka aku akan menghabisimu sekarang juga.." tiba-tiba suara Alexander mengejutkan Stevie. Tanpa meminta persetujuan, Alexander dengan mudah mengklaim jika Stevie adalah calon istrinya. Mata gadis itu melotot pada Alexander, namun laki-laki mengabaikan dan pura-pura tidak melihat keberadaan Stevie.
"Siapa kamu, berani-beraninya berkata seperti itu kepadaku. Apakah kamu pikir, sebagai papanya aku akan memberi restu padamu. Jangan mimpi anak muda, selamanya Stevie akan menjadi sapi perahku, yang akan menghasilkan pundi-pundi dollar untukku. Ha.. ha.. ha.." masih dengan pongah, Armansyah malah tertawa terbahak-bahak. dan malah berjalan semakin mendekat pada gadis itu.
Melihat kekerasan laki-laki tua itu, membuat amarah Alexander meningkat. Laki-laki itu segera mencegat Armansyah yang sudah hampir dekat dengan Stevie. Dan tidak diduga tangan ALexander sudah berada di leher Armansyah, dan mengangkat tubuh laki-laki itu ke atas.
"Lepaskan.. berani sekali kamu anak muda.. Anak buahku akan merajammu.." Armansyah meronta-ronta, dan mencoba untuk melepaskan diri dari laki-laki muda itu. Tetapi selain kalah usia, Armansyah juga kalah tenaga dibandingkan dengan Alexander,
"Aku akan memasukkanmu ke dalam penjara Armansyah.. jadi kamu tidak akan pernah bisa menindas dan mengintimidasi Mrs. Sheilla dan Stevie.." Alexander berbicara dengan nada ancaman.
Ketika Armansyah akan menjawab, dengan cepat Alexander menutup mulut laki-laki itu, kemudian mendorong tubuh laki-laki tua itu ke belakang. Tidak tahu kapan mereka datang, tubuh Armansyah sudah dipegang oleh polisi Singapura. Laki-laki tua itu kaget dengan kedatangan polisi, namun tidak ada yang bisa dilakukannya.
"Bagaimana kamu bisa mendatangkan polisi kemari kak..?" Stevie tiba-tiba bertanya pada Alexander. Karena jika para penghuni apartemen tahu, kalau ada polisi yang masuk ke lingkungan apartemen, mereka akan panik dan berlarian untuk bersembunyi.
"Kamu belum tahu bagaimana kekuatanku sebenarnya cantik.. menikahlah denganku, maka kamu akan dapat mengenaliku dengan baik.." dengan ge er, Alexander malah menggoda Stevie. Laki-laki muda itu tiba-tiba saja menjadi lebih usil, sejak tadi mengganggu Stevie.
"Dalam mimpimu.." ucap Stevie yang kembali masuk ke dalam lobby. Alexander tersenyum, kemudian mengikuti langkah gadis itu.
*********
"Nak Sandra.., apakah mama bisa diijinkan untuk menggendong cucuku Altezz.." sambil berjalan menuju ke arah mobil, Mrs.Sheilla bertanya pada menantunya. Sedangkan Andreas Jonathan, yang mungkin dikarenakan baru mengenali mamanya saat ini, memang belum bisa bersikap akrab pada perempuan paruh baya. Laki-laki muda itu terlihat masih menjaga jarak pada Mrs. Sheilla. sejak tadi malah Cassandra yang berusaha mendekati perempuan paruh baya itu.
"Boleh sekali mam.. tapi hati-hati ya.." dengan hati-hati, Cassandra menyerahkan Altezza pada mama mertuanya, dan dengan mata bersinar, Mrs. Sheilla menggendong Altezza. Mata tuanya tampak bersinar, karena mungkin tidak pernah menyangka jika dapat melihat cucunya dalam waktu dekat.
Melihat keponakannya sudah berada dalam gendongan mamanya, tiba-tiba Stevie akan berjalan mendekati mamanya, dan akan menggoda Altezza. Namun belum sampai langkah gadis muda itu sampai di dekat mamanya, tangan ALexander sudah terulur dan menahan tangannya.
"Lepaskan kak.. aku mau bermain dengan keponakanku. Lepaskan tanganku kak.." tatap mata Stevie melotot, dan marah pada Alexander,
"Apakah kamu sadar, jika tanganmu dalam keadaan bersih Stevie. Ingat, Altezz itu masih tergolong bayi, sangat riskan jika terkena bakteri dari tanganmu yang halus tapi kotor itu." ucap Alexander sambil melihat ke telapak tangan gadis itu.
Mendengar peringatan yang diberikan oleh Alexander, akhirnya Stevie menyadari jika tangannya sudah kotor. Karena sejak tadi, dia memang bermain tangan dengan orang-orang yang sudah dibawa polisi SIngapura itu. Sambil melihat dengan pandangan iri, Stevie akhirnya berjalan di samping Alexander. Mereka berjalan dalam diam, meskipun sejak tadi Alexander senyum-senyum sendiri.
"Mama bisa gabung dengan mobil kita kak.. sekalian menemani Altezza." Cassandra meminta ijin pada suaminya, dan tanpa menjawab laki-laki muda itu menganggukkan kepala.
Namun ketika Mrs. Sheilla akan duduk di kursi tengah, tiba-tiba Andreas Jonathan menghalangi perempuan itu. Cassandra terkejut, dan menatap suaminya dengan penuh tanda tanya.
"Mama duduk di depan saja, samping driver. Andre dan Sandra yang akan duduk di belakang.." tanpa menjelaskan rasa ingin tahu dari istrinya, Andreas langsung menjelaskan pada mamanya.
Mrs. Sheilla tersenyum, dan perempuan itu segera berjalan memutar depan mobil, dan akhirnya masuk ke kursi depan. Sambil tersenyum, Andreas Jonathan membantu istrinya masuk ke dalam mobil, kemudian laki-laki itu mengikutinya. Ketika Stevie akan mengikuti masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Alexander kembali menarik tangan gadis itu..
"Stevie.. kamu mau kemana sayang. Tempatmu bukan di mobil tuan muda, kali ini kamu bergabung menjadi satu dengan mobilku.." Alexander langsung membawa Stevir dan membawanya masuk ke dalam mobil. Gadis itu tidak melawan, karena merasa sudah capai dengan aktivitasnya sejak tadi.
**********