CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 135 Kabur



Nyonya Sheilla menatap mata putra sulungnya, ada permohonan dalam tatapan mata anak muda itu. Namun.. melihat tajamnya mata putra sulungnya, Nyonya Sheilla kemudian mengalihkan pandangannya ke lain tempat. Beberapa saat kemudian, setelah perempuan paruh baya itu menghela nafas, akhirnya Nyonya Sheilla kembali menatap putranya.


"Benar apa yang kamu katakan putraku.. apalagi Stevie adalah anak perempuan, Dimana pada saat nanti gadis itu menikah, Stevie akan membutuhkan kamu atau papanya yang akan menikahkan gadis itu dengan laki-laki yang menjadi idamannya.." akhirnya Nyonya Sheilla menyepakati perkataan Andreas Jonathan,


Andreas Jonathan terdiam, laki-laki itu mencoba untuk sabar berusaha memahami seorang perempuan. Apalagi dirinya saat ini, juga sudah memiliki seorang istri yang sangat dicintainya, sehingga begitu mendengar penderitaan, dan apa yang dialami oleh mamanya, laki-laki muda itu teringat pada istrinya. Tidak lama kemudian, mobil sudah berhenti, dan driver membukakan pintu mobil untuk mereka.


"Tuan muda.. kita sudah sampai.." dengan sikap hormat, driver mempersilakan tuan mudanya untuk turun terlebih dahulu.


Andreas Jonathan segera membantu mamanya turun, dan kemudian mengambil Altezza dari gendongan istrinya. Laki-laki muda itu menunggu, sampai istrinya turun, kemudian merangkul pinggang Cassandra kemudian membawanya pergi dari tempat parkir. Sedangkan Alexander dan Stevie yang berada di mobil belakang, segera mengikuti pasangan suami istri itu, dan kemudian mempercepat langkah kaki mereka agar bisa sejajar dengan Nyonya Sheilla.


"Alexander... atur mama dan Stevie di suites room. Aku akan langsung ke atas untuk menuju Presidential Suites, karena Altezz harus segera berbaring di atas ranjang. Sudah sejak tadi, anak ini harus meringkuk dalam gendongan Sandra.." sebelum mereka memasuki pintu lift, Andreas Jonathan membuat sebuah perintah.


"Siap tuan muda.. semua sudah diatur dan disiapkan oleh para pengawal. Sebelum kita masuk private jet ketika masih di Changi, saya sudah membuat perintah.." Alexander memang sangat bisa diandalkan untuk mengurus segalanya. Dengan perencanaan dan perhitungan yang mapan, laki-laki muda itu mempersiapkan segalanya.


Di depan anak muda itu, Cassandra tersenyum, dan seakan menyimpulkan bagaimana Alexander berusaha untuk mempengaruhi Stevie. Gadis muda itu, yang juga merupakan adik iparnya itu masih tetap diam seribu bahasa. Namun seiring berjalannya waktu., Cassandra sangat yakin, jika pada saatnya Stevie akan menjadi milik Alexander selamanya.


"Tuan muda.. kita harus berpisah lift, karena arah Suites Room dan Presidential Suites berbeda arah.." baru beberapa langkah, tiba-tiba Alexander memberi tahu tuan mudanya,


"Hmm.. pergilah Alex. Pastikan mama dan adik kandungku, tetap dalam keadaan aman dan terjaga keselamatannya." sebelum mereka berpisah, Andreas Jonathan menyampaikan beberapa kata pesanannya untuk anak muda itu.


"Siap tuan muda.. Alex pastikan, semua akan bisa berjalan dengan lancar. Miss Stevie dan Mrs. Sheilla pasti akan dalam keadaan aman dan sehat.." Alexander segera mengajak dua perempuan itu untuk belol ke arah kanan, Mereka memang berpisah building, sehingga akan lebih memutar jika menggunakan lift yang sama dengan rombongan Andreas Jonathan.


Di dalam lift, Andreas Jonathan. merengkuh erat bahu istrinya, dan beberapa kali mencium pucuk kepala Cassandra. Karena sudah bosan selalu membilangi suaminya, gadis muda itu hanya diam saja, meskipun dalam hati juga merasa risih dengan sikap dan perlakuan yang diberikan suaminya. Tidak lama kemudian, lift yang membawa mereka sudah sampai di roof top, dan keluarga kecil itu segera keluar dari dalam lift. Tampak beberapa pengawal, menyambut kedatangan mereka, dan membungkukkan badan ketika melihat tuan muda dan nona mudanya sudah berada di depan mereka.


*******


"Wow.. cucu opa sudah datang, cucu opa sudah semakin bertambah besar." sambil menggendong cucunya, Tuan Wijaya mengajak anak kecil itu bercandra.


Melihat putranya yang sedang bermain dengan papanya, Andreas Jonathan langsung menarik tangan Cassandra, kemudian membawa perempuan muda itu masuk ke dalam kamar. Dengan tidak berdaya, Cassandra hanya mengikuti kemauan suaminya. Dari luar ruangan, tuan Wijaya sepertinya sudah memahami apa yang diinginkan oleh putranya, laki-laki itu hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Kak Andre.. apakah kakak tidak malu dengan papa sih.. Di saat papa masih menggendong Altezz, kakak langsung membawa Sandra masuk ke dalam kamar. Sandra malu kak.." keberatan dengan tingkah suaminya, Cassandra memberi teguran pada suaminya,


"Mmm.. tidak ada yang salah atau keliruku menurutku. Papapun juga pernah memiliki masa muda, pernah memiliki seorang eh.. bahkan dua kali menikah dengan orang yang berbeda. Pasti papa tahu dan paham dong honey.. ayolah.." Andreas Jonathan tidak mau tahu. Akhir-akhir di Singapura, karena banyak kesibukan yang harus diurus dan diselesaikannya, laki-laki itu merasa kurang mendapatkan kemesraan dari istrinya. Makanya, begitu mereka sampai di Indonesia, Andreas Jonathan merasa sudah saatnya untuk menuntaskan keinginannya.


Cassandra tidak berdaya, gadis itu hanya menurut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Ketika anak muda itu mengangkat tubuh Cassandra, dengan cepat gadis itu seperti biasanya akan mengalungkan tangan di leher suaminya. Sambil menatap mesra mata istrinya, Andreas Jonathan menurunkan bibirnya ke bawah, dan dengan cepat memagut bibir gadis itu untuk memberinya kehangatan,


Tetapi baru saja laki-laki muda itu akan membaringkan istrinya di atas ranjang, tiba-tiba ponsel yang masih ada di saku bajunya berdering. Dengan mata marah, laki-laki itu kemudian membaringkan istrinya dengan lembut dan pelan di atas ranjang. Setelah Cassandra berbaring di atas bed, gadis itu tersenyum melihat wajah sebal suaminya yang mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.


"Yap.. aku sudah ada di Indonesia.. ada informasi penting apa..?" sebenarnya Andreas Jonathan akan mematikan ponsel tersebut, namun ketika melihat siapa yang melakukan panggilan kepadanya, dengan cepat laki-laki itu menerima panggilan masuk tersebut.


Beberapa saat, seseorang yang melakukan panggilan di seberang telpon itu memberikan informasi pada laki-laki itu. Namun begitu mendengarnya, emosi dan kemarahan tambah merebak di wajah Andreas Jonathan.


"Apa maksud perkataanmu, Sandrina dan Jennifer kabur..? Bagaimana bisa.. aku tidak mau tahu, jika kalian tidak segera membereskan kekacauan ini, maka aku akan bisa membuat perhitungan dengan kalian.." dengan suara marah, Andreas Jonathan berbicara marah dengan penelpon.


Cassandra merasa ngeri mendengar nada bicara suaminya, perempuan itu kemudian berdiri dan memeluk laki-laki itu, untuk membantu menenangkannya. Hanya belaian dari perempuan muda itu, yang bisa menjadi obat untuk kekacauan di hati Andreas Jonathan.


*******