
Keesokan harinya
Bertepatan dengan passport dan visa Stevie jadi, Alexander mengajak gadis itu untuk mengambilnya di kantor imigrasi Singapura. Sebenarnya Alexander bisa saja meminta pengawal untuk mengurus pengambilannya, namun karena ingin berjalan berdua dengan Stevie, akhirnya Alexander memutuskan untuk mengambilnya sendiri. Mungkin karena terkait dengannya, Stevie menurut saja diajak pergi oleh laki-laki muda itu. Cassandra yang bisa menilai akal bulus Alexander, hanya tersenyum sambil mengedipkan mata pada Alexander, ketika mengantarkan Stevie berpamitan dengannya.
"Kak Sandra... Stevie akan ikut kak Alex untuk mengambil passport dan visa. Nanti jika kak Andre bertanya, minta tolong kak Sandra memintakan ijin ya." Stevie mencium tangan Zaskia ketika gadis itu akan berangkat.
"Pergilah Stevie.. percayalah, kak Alex tidak akan menipumu. Laki-laki muda itu bisa untuk diandalkan.." tanpa sepengetahuan Alexander dan Andreas Jonathan, Cassandra memuji Alexander.
Stevie tersipu malu, dan gadis itu tidak menanggapi. Melihat Alexander sudah menunggunya di pintu keluar, Stevie segera bergegas meninggalkan kakak iparnya. Dari belakang, Cassandra tersenyum melihat kebersamaan adik iparnya dengan wakil CEO sekaligus asisten pribadi suaminya. Gadis itu sangat bersyukur jika Stevie bisa bersatu dengan Alexander, sehingga mereka menjadi satu keluarga besar.
"Sudah siap sayang untuk melakukan perjalanan denganku.." Alexander akan menggandeng tangan Stevie, namun gadis itu menyentakkan tangan Alexander dan berjalan menjauh dari laki-laki itu.
Alexander tersenyum, dan membiarkan sementara Stevie mengabaikan dan bersikap kepadanya. Beberapa pengawal yang tanpa sengaja melihat perlakuan Stevie pada Alexander, hanya tersenyum sambil menutup mulutnya. Mereka tidak berani tertawa dan diketahui oleh Alexander, karena bisa-bisa mereka akan dihajar atau dipecat oleh laki-laki itu.
Tidak lama kemudian Stevie sudah tiba terlebih dahulu di depan pintu lift, dan Alexander tersenyum melihatnya karena gadis itu sama saja sedang menunggunya kali ini. Tetapi begitu Alexander berada di dekatnya, Stevie malah berbalik arah melihat ke belakang. Alexander hanya diam, dan segera berdiri di samping gadis itu. Beberapa saat mereka menunggu, akhirnya pintu lift terbuka dengan lebar. Alexander membiarkan Stevie untuk masuk lebih dahulu ke dalam lift, kemudian laki-laki itu mengikuti di belakang.
"Jangan bersikap seperti tidak kenal padaku sayang.. tidak bagus jika dilihat oleh orang lain.." setelah menekan tujuan mereka, Alexander mulai mengajak Stevie berbicara.
Gadis itu diam saja tidak mau menanggapi perkataan Alexander. Laki-laki muda itu tersenyum, dan berpikir bagaimana menjinakkan gadis itu.
"Ya sudah..., jika Stevie merasa keberatan jalan denganku, boleh kok jika Stevie pergi ke kantor imigrasi sendiri. Mungkin bisa ditemani para pengawal, atau malah akan berangkat sendiri." tiba-tiba tidak diduga, Alexander malah menyarankan agar Stevie pergi ke kantor imigrasi sendiri,
Mendengar kata-kata Alexander, Stevie menjadi terdiam. Meskipun dia tidak takut untuk bepergian sendiri, namun rasa khawatir akan bertemu dengan papanya Armansyah dan anak buahnya, masih membuatnya malas untuk berurusan dengan mereka.
"Bagaimana Stevie sayang dengan tawaranku.." sambil tersenyum, Alexander kembali bertanya pada gadis itu.
"Kak Alex ini memang punya niat untuk mengajak Stevie pergi atau tidak. Jika memang tidak jawabannya, ya sudah kita kembali masuk ke atas lagi. Tidak ada passport maupun visa juga tidak masalah kok buat Stevie.. Memang siapa sih yang punya niat untuk membawa mama dan aku ke Indonesia." tidak diduga, meskipun dalam hati ada rasa khawatir, namun gadis itu malas untuk mengakui kekalahan di depan Alexander. Stevie malah bersikap menantang pada laki-laki itu.
"Good answer sayang.. aku menyerah. Kemanapun kamu pergi, apapun yang kamu butuhkan, aku akan tetap melakukannya untukmu sayang." Alexanderpun juga tidak mau kalah, dengan sikap pasrah untuk mengambil hati Stevie, laki-laki itu mengalah pada gadis itu.
********
Beberapa saat kemudian, mobil yang langsung dikemudikan sendiri oleh Alexander melesat meninggalkan Raffles International Hotel. Stevie hanya duduk terdiam, dan sesekali gadis itu melirik pada laki-laki yang sedang mengemudi di sampingnya itu. Meskipun jika gadis itu terus melirik kepadanya, Alexander mencoba mengabaikan apa yang dilakukan Stevie, dia tetap fokus mengemudi. Tidak lama kemudian, mobil yang dibawa Alexander memasuki Central Business District Singapura, sebuah kawasan bisnis dan perkantoran,
"Kita mau kemana kak Alex.., tadi kamu bilang akan ke kantor imigrasi untuk ambil passport dan visaku." merasa penasaran dengan tujuan mereka, Stevie bertanya pada laki-laki itu.
Alexander tetap terdiam dan tetap fokus mengemudi, dan seperti sengaja membiarkan gadis muda itu penasaran. Melihat hal itu, Stevie kembali terpancing kemarahan, dan sambil melotot Stevie kembali melihat pada Alexander.,
"Apakah kak Alex tidak mendengarku, sejak tadi aku bertanya kepadamu? Atau kamu memang sengaja untuk mempermainkanku.." tanya Stevie dengan nada marah.
Alexander tersenyum dan melihat ke arah Stevie sekilas, kemudian tidak lama kemudian laki-laki itu sudah menempatkan mobil di depan parkir. Tanpa bicara, laki-laki itu kemudian mematikan mesin mobil, kemudian melesat turun tanpa berpamitan pada gadis yang datang bersamanya, Melihat sikap keras Alexander, Stevie menjadi semakin marah, tetapi tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Gadis itu kemudian keluar untuk mengikuti laki-laki itu, dan perlahan menutup pintu mobil.
"Kantor Pengacara Tan Peng Chin LLC, hmm.. untuk apa kak Alex datang dan mampir kesini. Pengacara ini sangat terkenal, dan memiliki tarif yang mahal jika kita memiliki kasus. Siapa yang punya kasus berat sehingga membutuhkan bantuan dari pengacara ini. Kak Andre atau kak Alex sendiri..?" Stevie bertanya pada dirinya sendiri.
Gadis muda itu perlahan berjalan mengikuti ALexander, karena merasa penasaran dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki muda itu. Perlahan Stevie menaiki anak tangga untuk naik ke atas teras kecil di depan kantor tersebut. Terlihat security berjalan mendekati Stevie, kemudian,.
"Apakah anda datang bersama dengan tuan Alexander miss.., jika iya, saya bisa mengantar miss ke dalam untuk mengikuti tuan Alexander." dengan ramah, security menanyakan tujuannya,
Stevie menggelengkan kepala, dia sendiri juga bingung untuk apa dia mengikuti langkah Alexander, yang menawarkan untuk mengajaknya saja tidak. Gadis itu kemudian kembali menuruni anak tangga, dan melangkahkan kaki menuju kolam ikan yang ada di taman kecil depan kantor pengacara tersebut.
"Wow.. ikannya lucu-lucu, KOI, si merah .." melihat banyak ikan koi berenang di dalam kolam kecil itu, mata Stevie tampak berbinar senang.
Tangan Stevie dimasukkan ke dalam air, dan berusaha menangkap ikan koi tersebut. Namun.. ternyata ikan koi itu jauh lebih gesit dari tangan gadis itu.
"Hmm.. pantas saja, ternyata tanpa sadar aku itu sedang berjalan dengan anak kecil yang suka bermain air." tiba-tiba terdengar suara di belakang Stevie.
**********