
Andreas Jonathan tidak menjawab pertanyaan putranya itu, hanya saja hati kecil laki-laki muda itu merasa tersentak. Laki-laki muda itu sadar, jika dirinya sudah berlaku tidak adil pada anak kecil yang duduk di sampingnya itu. Tetapi tidak akan mungkin untuk menjelaskan semuanya saat ini, mengingat usia dari Altezza. Andreas Jonathan merasa jika dia punya hutang penjelasan pada Altezza, ketika anak kecil itu besar. Tanpa keluar kata-kata dari bibirnya, tuan muda dari PT. Indotrex. Tbk itu mengangkat Altezza dari kursinya, kemudian mendekap dan memeluknya erat. Untungnya makanan dan minuman yang dipesan Alexander sudah dibawa oleh waiters.
"Minum dulu kak Andre... keburu minumannya dingin. Altezz mau mommy suapin cheese cakenya, atau mau makan sendiri.." untuk mengalihkan fokus perhatian putranya, Cassandra bertanya pada Altezza.
"Makan sendiri saja mommy, Altezz sudah besar.." dengan lugas, anak kecil itu menjawab. Andreas Jonathan kembali meletakkan putranya, tetapi kali ini diselipkan di tengah antara dirinya dengan Casaandra. Begitu mommy nya meletakkan piring kecil di depan kursinya, ALtezza dengan cepat memotong cake dengan menggunakan garpu, dan mulai memasukkan ke dalam mulutnya.
"Pelan-pelan Altez.., nanti tersedak sayang..." dari depannya, nyonya Sheilla memberi arahan pada cucunya.
"Mmmm... iya oma.. " sahut Altezza polos.
Keluarga tuan Wijaya berada di coffee shop hampir dua jam, karena pihak petugas bandara yang bertanggung jawab untuk maintenance private jet datang, dan memberi tahu mereka jika pesawat sudah terscedulle untuk berangkat, keluarga itu segera bersiap.
"Tidak perlu mengantarkan mama dan papa sampai di landasan pacu. Sampai disini saja, kalian mengantarkan kami." tuan Wijaya menghentikan keluarganya yang akan mengikutinya sampai masuk ke dalam. Laki-laki tua itu memeluk semua anggita keluarganya satu persatu, demikian juga Nyonya Sheilla.
Andreas Jonathan dan semuanya berhenti, akhirnya mereka semua berpelukan. Tidak lama kemudian pasangan suami istri itu berjalan meninggalkan mereka. ketika punggung tuan Wijaya dan Nyonya Sheilla sudah tidak terlihat lagi, mereka akhirnya segera berkemas dan bersiap untuk kembali ke Inter Laken,
***********
Apartemen Zurich
Sandrina terlihat tidak sabar, perempuan itu berharap urusan balas dendam dan mendapatkan harta kekayaan dari perkawinannya dengan Wijaya segera usai. Namun perempuan paruh baya itu menilai, jika orang-orang di sekitarnya itu tidak mendukungnya. Beberapa kali Armansyah selalu ngeles menurutnya, ketika ditanya bagaimana balas dendamnya. Sedangkan Thanom, dengan berada di negara Swiss, merasa terbatasi ruang geraknya. Laki-laki itu baru menyadari, jika untuk melakukan tindak kejahatan seperti yang mereka rencanakan, tidak semudah yang mereka bayangkan. Di setiap sudut jalanan, camera CCTV dan pengawasan aparat polisi tampak membatasi gerak mereka.
"Jika memang kalian semua sudah tidak sanggup untuk membalas dendamku, untuk apa kita bertahan di negara ini. Apakah kalian pikir, kita semua disini sudah ada yang mensuplai kebutuhan kita..??" dengan nada tinggi, Sandrina tampak memprotes teman-temannya.
Jennifer hanya diam, dan semangat balas dendam gadis itu tiba-tiba naik lagi. Dimana selama ini sudah berhasil ditekannya, dan harus rela untuk hidup bersama dengan Arron, keponakan dari suami Sandrina. Impian untuk menjadi nona besar dalam keluarga Wijaya, sudah tidak terlihat lagi dalam pikirannya. Yang ada hanya kesuraman masa depan, beserta anak turunnya jika ada keturunan untuk gadis itu.
"Jaga mulutmu Sandrina.., untuk apa kita bisa sampai di negara ini jika bukan untuk menuntaskan balas dendammu. Apa kamu pikir, dengan mudahnya kita menangkap mereka, layaknya kita menangkap lalat yang terbang satu persatu. Dari sumber daya, jelas kita sangat kalah dibandingkan mereka, persenjataan, maupun pengawal. Hanya melihat kelengahan mereka, kita akan bisa menyusup masuk ke dalamnya. Tapi.., dengan enaknya kamu tidak bisa menutup bacotmu.." seperti hilang kesabaran, Armansyah menanggapi komentar dari Sandrina.
Mendengar kata Stevie disebut, ekspresi wajah Armansyah menjadi berubah. Tiba-tiba saja laki-laki itu merindukan untuk berbincang, dan memeluk gadis itu. Ada rasa berdesir di hati Armansyah, tetapi tidak mungkin laki-laki itu akan mengungkapkan pada kesempatan kali ini. Laki-laki paruh baya itu hanya mengambil nafas dalam, untuk menekan rasa kerinduannya pada gadis muda itu.
"Kenapa paman tiba-tiba diam tidak menanggapi perkataan tante Sandrina.., jangan-jangan paman Arman sudah bosan, dan tidak tertarik dengan pengejaran keluarga Andreas Jonathan.." seperti bisa membaca pikiran dari laki-laki paruh baya itu, Jennifer bertanya pada Armansyah.
Semua yang berada di dalam ruangan itu, menoleh dan memperhatikan wajah Armansyah. Merasa menjadi pusat perhatian, laki-laki paruh baya itu berdiri, kemudian berjalan meninggalkan mereka semua di tempat itu. Sandrina menatap laki-laki itu dengan pandangan sengit, tetapi sepertinya Armansyah tidak mempedulikannya, laki-laki itu tetap berjalan keluar dari dalam ruangan.
"Kita harus tenang, jangan terpancing keributan. Sepertinya saudara sepupumu itu sedang memikirkan masalah Sandrina, kita harus mencoba untuk memahaminya. Tapi aku juga tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Armansyah. Pelan-pelan kita harus mengajaknya untuk kembali bicara, dan mengajaknya untuk fokus pada apa yang menjadi target dan tujuan kita sampai berada di negara Swiss." Thanom menghentikan istrinya yang akan mengikuti Armansyah keluar.
"Hmm.. baiklah Thanom, kali ini aku ikut dalam rencanamu." akhirnya Sandrna menyetujui apa yang diucapkan oleh suaminya.
********
Di luar apartemen
Sesampainya di balkon apartemen, seperti biasa Armansyah duduk di sofa yang ada di depan balkon. Laki-laki itu kemudian menyalakan rokoknya, dan tidak lama kemudian asap rokok sudah keluar dari mulutnya. Pandangan laki-laki itu jauh menembus ke depan, dengan beberapa kali menghela nafas.
"Kenapa aku bisa tertarik dengan ajakan Sandrina untuk sampai ke negara ini.. Apakah semua hanya karena obsesiku untuk membawa kembali Sheilla dan Stevie...?" laki-laki itu bertanya pada dirinya sendiri. terlihat sekali, jika Armansyah saat ini sedang gundah.
"Aku memang sangat mencintai Sheilla, demikian juga dengan Stevie. Tetapi karena rasa cemburu yang sering tidak beralasan di masa lalu, menjadikanku selalu memojokkan istriku dan juga putriku. Meskipun gadis itu bukan putri kandungku, sesungguhnya aku sangat menyayangi dan mencintainya." kembali Armansyah bergumam.
"Aku harus merubah mind set dan pikiranku, karena tidak mungkin aku akan begini terus. Mengejar keluarga itu, sedangkan mereka sangat jauh untuk aku dekati. Sandrina sudah punya kehidupan sendiri dengan Thanom, aku bisa diam-diam untuk kembali ke Singapura. Di negara itu, aku bisa hidup dan meratapi kepedihan hatiku, daripada tinggal di negara ini hanya dengan angan-angan." akhirnya Armansyah menyimpulkan sesuatu untuk dirinya sendiri.
*********