
Di perusahaan
Nyonya Sheilla membuktikan ucapannya, ketika tuan Wijaya suaminya masuk ke dalam ruang rapat, perempuan paruh baya itu hanya menunggu di ruangan. Ketika tuan Wijaya mengajaknya untuk masuk ke dalam ruang rapat, karena perempuan paruh baya itu juga memiliki saham di perusahaan itu, dengan tegas Nyonya Sheilla menolaknya. Menurut perempuan itu, pada usianya yang sudah kepala lima, sudah bukan lagi masanya untuk bekerja dan ikut campur tangan menjalankan perusahaan. Menikmati hidup dengan selalu mengalokasikan waktu untuk berlibur, menjadi pilihan hatinya.
"Nyonya besar.. apakah menghendaki untuk kami pesankan makanan, agar nyonya besar lebih nyaman menunggu tuan besar..?" sekretaris eksekutif mendatangi Nyonya Sheilla di ruang kerja tuan Wijaya.
"Tidak perlu Miss, aku sudah membawa banyak makanan untuk aku nikmati dengan suamiku. Jika kamu mau, kamu bisa berkenan untuk makan snack denganku.." Nyonya Sheilla menolak, dan malah menawarkan pada sekretaris itu untuk makan bersamanya.
"Mohon maaf nyonya besar, bukannya saya menolak. Tapi saya harus masuk ke ruang rapat untuk menjadi notulis dalam rapat tersebut. Panggil pantry nyonya besar, jika nanti nyonya besar membutuhkan sesuatu. Mereka sudah saya tugaskan untuk menunggu panggilan dari nyonya besar, mereka berada di luar ruangan Direksi ini nyonya besar.." dengan ramah, sekretaris eksekutif menolak tawaran itu.
"Hemm... baiklah miss.. kembalilah ke ruang kerjamu, tinggalkan aku sendiri di ruang kerja suamiku. Aku tidak akan kehabisan waktu untuk mengisi waktu sendiri.." dengan halus, Nyonya Sheilla meminta sekeretaris eksekutif itu untuk meninggalkan ruangan.
"Baik nyonya besar.., selamat pagi.." dengan sikap hormat, sekretaris itu mundur dari ruang kerja tuan Ridwan.
Sepeninggal dari perempuan muda itu, Nyonya Sheilla menyeruput hot coffee dari cangkirnya langsung. Setelah meletakkan cangkir itu kembali ke atas meja, Nyonya Sheilla mengambil ponsel dan membuka-bukanya. Dahi perempuan paruh baya itu berkerut, ketika melihat reels dan status dari menantunya. Ternyata tidak biasanya Cassandra mengunggah kebersamaannya dengan Sandrina, mantan istri dari suaminya yang pernah dengan jahat menggantikan posisinya saat itu.
"Sangat indah... dan sangat syahdu jika kita berusaha untuk berdamai dengan keadaan. Hilangkan rasa dendam, dengan sejuta kebaikan yang kita berikan pada orang yang berbuat jahat pada kita.." tulisan quotes yang ada sebagai keterangan dalam reels, dan status membuat mata Sheilla berkata-kata.
perempuan paruh baya itu terdiam sebentar, tetapi tidak lama kemudian terlihat Nyonya Sheilla mengambil nafas dalam.
"Aku memang harus belajar banyak dari menantuku Cassandra. Gadis muda itu memiliki kebesaran hati seluas samudera, dalam usianya yang masih sangat muda, jika dibandingkan denganku, menjadi sangat luar biasa bisa memaafkan orang yang berkali-kali berupaya untuk melenyapkannya." Nyonya Sheilla bergumam sendiri.
"Apakah yang terbaik, aku juga harus melakukan hal yang sama, untuk memberikan haknya Sandrina. Mungkin dengan kebesaran hatiku, semua akan berakhir dengan indah, tidak ada lagi dendam di masa mendatang.." kembali perempuan paruh baya itu berkata-kata sendiri. Ada kebimbangan dalam hatinya, dengan mengingat rasa pedih dan sedih ketika perempuan bernama Sandrina itu merampas kebahagiaannya. Tetapi juga ada keinginan untuk menghapuskan dendam di masa lalunya.
"Sepertinya aku tidak akan bisa memutuskan sendiri. Aku akan mencoba mengajak bicara opanya ALtezza, bagaimana pendapatnya. Karena bagaimanapun, opanya Altezza saat ini sudah kembali menjadi suamiku, jadi aku harus menghormati dan selalu meminta pendapatnya sebelum mengambil suatu keputusan." akhirnya Sheilla mendapatkan jalan keluar.
***********
"Sedang apa istriku, apa yang sedang kamu lihat..?" melihat istrinya fokus seperti tidak menyadari kedatangannya, tuan Wijaya bertanya pada perempuan itu.
"Hanya mengasah kembali insting Sheilla opa, siapa tahu masih tajam untuk membuat analisis." Tuan Wijaya tersenyum mendengar jawaban istrinya. Laki-laki itu mengakui ketika Sheilla masih menjadi istrinya di masa lalu, perempuan itu selalu membantunya untuk mengambilnya keputusan. Analisa perempuan itu lebih kuat, dengan analisis yang tajam.
"Kenapa meragukan kemampuan sendiri sayang, pasti analisismu masih tetap tajam seperti dulu. Hal apa yang akan kamu usulkan untuk membantuku memecahkan masalah perusahaan. Ada usulan dari manajer operasi, untuk menambah pabrik baru karena meningkatnya permintaan akan output perusahaan. Tapi aku belum memberikan mereka jawaban. Siapa tahu, istriku bisa membantuku untuk membuat jawaban." seperti anak muda, tuan Wijaya memeluk Sheilla dari belakang.
"Pastilah sudah akan menyimpang analisisku opa.. Usia seseorang tidak bisa untuk dibohongi, dan sudah bukan eranya lagi mama campur tangan dalam perusahaan." nyonya Sheila merendah di hadapan suaminya.
Tuan Wijaya tersenyum, laki-laki itu memberikan ciuman di kening istrinya kemudian duduk memegang tangan nyonya Sheilla, dan mengajaknya untuk berpindah tempat duduk. Ternyata laki-laki itu membawa istrinya berpindah tempat duduk di atas sofa dalam ruangan kerja mereka. Tetapi beberapa saat nyonya Sheilla terdiam, dan hal itu menimbulkan kecurigaan pada suaminya.
"Sheilla... apa yang terjadi denganmu, aku melihat mood mu hari ini berubah. Apakah ada hal salah yang tanpa sengaja telah aku lakukan, dan hal itu menyinggung perasaanmu sayang..?" dengan serius, tuan Wijaya menanyakan langsung pada istrinya.
Nyonya Sheilla tidak menjawab, dan hanya menatap mata suaminya. beberapa saat perempuan paruh baya itu terdiam, dan akhirnya....
"Begini pa... baru saja mama terketuk dengan quotes yang dituliskan putri menantu kita dalam reels dan update status di whattsapps, Tetapi setelah aku pikir beberapa saat, sepertinya melupakan dendam, dan memaafkan kesalahan seseorang yang menyakiti kita merupakan salah satu obat mujarab untuk menghentikan dendam." perempuan itu mulai berbicara.
"Aku malah menjadi bingung dengan kata-katamu ma..., ceritakan secara langsung. Aku tidak akan marah, akan mendengarmu sampai selesai.." masih merasa bingung, tuan Wijaya meminta istrinya untuk melanjutkan kata-katanya. Perempuan paruh baya itu hanya tersenyum..., tetapi kemudian..
"Papa.. ini semua tentang mantan istri papa, yaitu Sandrina dan Jennifer... Apakah suamiku punya kebesaran hati untuk memberikan maaf pada dua perempuan itu...?" dengan hati-hati, Sheilla menyampaikan kegundahannya.
Tidak ada kata keluar dari mulut tuan Wijaya, laki-laki itu malah menghela nafas dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Nyonya Sheilla juga tidak berani mengejar pada suaminya, jadi hanya diam menunggu bagaimana respon yang akan diberikannya.
"Sheilla istriku... kenapa kamu bertanya ini padaku, bagaimana dengan perasaanmu sendiri? Apakah mudah untuk menghapuskan dan memaafkan seseorang yang sudah menghancurkan hidupmu selama ini. Sesungguhnya kamulah yang sudah menjadi korban kejahatannya, bukan aku Sheilla..." dengan kata-kata yang diturunkan intonasi bicaranya, tuan Wijaya membalikkan pertanyaan pada istrinya.
**********