CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 75 Batas Kesabaran



Nyonya Besar Sandrina mendatangi suaminya yang sedang menikmati kopi dan sandwich di ruang keluarga. Setelah kejadian di Indonesia, hubungan pasangan suami istri itu memang sedikit hambar. Tuan besar Wijaya tidak menyukai tindakan memaksa yang dilakukan istrinya untuk mengatur kehidupan Andreas Jonathan. Tetapi istrinya sama sekali tidak menyadari hal itu, bahkan akan mencarikan perempuan lain, setelah tahu jika Jennifer tidak disukai oleh anak laki-laki mereka.


"Pa.. papa ini masih mau mendengarkan mama tidak sih sebenarnya..?" sambil duduk di samping tuan Wijaya, Nyonya besar Sandrina berusaha mengajak bicara suaminya.


Tuan besar Wijaya meletakkan cangkir di atas meja, kemudian menatap ke wajah istrinya, yang terlihat sangat berharap besar.


"Ingat ma.. sampai kapanpun, papa akan berada di pihak Andreas. Apa yang dimaui anak muda itu, masuk akal, dan bisa diterima oleh akal sehat. Kita tidak bisa semudah itu, memaksakan sesuatu kepadanya, bahkan kita sendiri tidak tahu dan tidak paham apa yang diinginkannya." dengan santai Tuan besar Wijaya menanggapi perkataan istrinya.


"Papa selalu saja begitu, selalu memanjakan Andre.. lihat umur anak itu pa.. usianya sudah tidak muda lagi. Harusnya kita sudah memiliki cucu, dan membawanya jalan-jalan. Jangankan cucu, istripun sampai sekarang belum dimiliki Andreas. Kita hanya harus sedikit keras dengan Andre pa, kita tegaskan kepadanya untuk tidak selalu mempermainkan kita.." Nyonya besar Sandrina semakin bicara ngelantur kemana-mana.


"Cukup ma.. hentikan kata-katamu yang selalu berusaha memojokkan Andreas. Dengan siapapun Andreas putraku akan menikah nantinya, aku akan selalu mendukungnya. Jangan ikut campur dalam masalah anak itu, mamah tidak tahu apa-apa, hanya selalu memaksakan kehendak yang tidak masuk akal. Sampai sudah tahu bagaimana Jennifer, dengan segala perilaku buruknya, mama malah berusaha untuk mendekatkan mereka." tidak diduga, Tuan besar Wijaya bersuara dengan nada keras.


Sepertinya batas kesabaran laki-laki tua itu habis, sudah merasa jika dilanggar oleh sikap istrinya. Beberapa kali, tuan besar Wijaya berusaha memaklumi apa yang dilakukan oleh perempuan itu, tetapi lama kelamaan, Nyonya besar Sandrina malah semakin ngelunjak. Mendengar nada tinggi yang digunakan suaminya, perempuan paruh baya itu terkejut, baru kali ini suaminya berbicara kasar kepadanya. Selama ini, semua keinginan selalu dituruti dan dipenuhi oleh suaminya, tetapi kali ini, respon yang berkebalikan ditunjukkan oleh tuan besar Wijaya.


"Papa berani membentak mama sekarang.., apa mama tidak salah dengar..?" dengan mata berkaca-kaca, Nyonya besar Sandrina bertanya pada suaminya dengan nada lirih.


Tuan besar Wijaya menatap wajah istrinya, dengan senyuman smirk di bibirnya.


"Apa yang kamu tanyakan Sandrina.. Selama ini, aku sudah terlalu banyak mengalah denganmu, aku sudah terlalu menuruti semua keinginan dan maumu. Tetapi untuk kali ini, aku tidak akan pernah membiarkannya, kamu melakukan sesuatu yang buruk terhadap putraku. Kamu harus selalu ingat itu Sandrina.." kata-kata yang diucapkan dengan perlahan oleh tuan besar Wijaya, seakan sembilu yang mengiris hati dan perasaan perempuan itu.


"Pap.. papa.. kenapa papa menjadi kejam kepada mama. Apakah salah pa, jika mamah berusaha memikirkan yang terbaik untuk putra kita, Andreas..?" dengan tatapan tidak percaya, Nyonya besar Sandrina memberanikan diri beradu pandang dengan suaminya.


"Hah.. memikirkan yang terbaik untuk putraku.. Sandrina, apakah bukan untuk kepentinganmu saja. Kebersamaan kita. mentolererir semua sikap konyolmu Sandrina.. akhirnya memberikan pencerahan kepadaku. Ingat Sandrina.. jika Andreas Jonathan adalah putraku, ada darahku yang mengalir dalam darah anak muda itu. Aku tidak akan mengijinkan orang luar, mengacak-acak itu semua. Ingat itu.." tidak diduga, ucapan keras itu seperti menampar kesadaran diri nyonya besar Sandrina.


Tanpa kata, tuan besar Wijaya berdiri dan meninggalkan Nyonya besar Sandrina sendiri. Perempuan paruh baya itu merasa terpukul, dengan reaksi keras yang ditunjukkan oleh suaminya. Selama ini, laki-laki tua itu sangat penurut, dan selalu mendukung keputusannya, tetapi kejadian tadi seperti membuat batasan antara dirinya dengan suaminya.


*******


Tepat pada pukul sebelas malam, tuan besar Wijaya keluar dari area bandara dan langsung menuju ke arah pintu kedatangan. terlihat ada dua pengawal yang ditugaskan Alexander untuk menjemput laki-laki itu. Sebelum laki-laki itu naik ke dalam pesawat ketika masih di Fort Frances Airport, tuan besar Wijaya sudah meminta Alexander untuk menyiapkan penjemputan untuknya, di bandara Halim perdana Kusumah Jakarta,


"Selamat malam tuan besar, mohon ikuti kami.." pengawal mengambil alih barang bawaan yang dibawa oleh laki-laki tua itu.


Tanpa bicara, tuan besar Wijaya segera mengikuti kedua pengawal itu menyusuri pintu ke arah jalan keluar, Di depan terminal kedatangan, sudah ada mobil mewah Maserati yang menunggu tuan besar Wijaya.


"Silakan masuk tuan besar.." salah seorang pengawal membukakan pintu, dan mempersilakan tuan Wijaya untuk masuk ke dalam.


Tanpa banyak bicara, tuan besar segera masuk. Dua cangkir minuman panas sudah menanti tuan besar, dan tampak driver sabar menunggu  sampai tuan besar mencicipi minuman yang disiapkan untuknya. Susu panas dipilih tuan besar Wijaya, dan laki-laki itu menghabiskan minuman itu dalam beberapa menit.


"Langsung antarkan aku ke mansion Andre di PIK 2.." setelah meletakkan kembali gelas yang sudah habis, tuan besar Wijaya membuat perintah.


"Siap tuan besar.. kami segera meluncur." tanpa banyak kata, pengawal segera menjalankan mobil yang sudah menyala mesinnya sejak tadi. Tuan besar Wijaya memang tidak banyak bicara, sama persis dengan kepribadian Andreas Jonathan, hanya saja laki-laki tua itu masih lebih bisa mentolerir sebuah kesalahan.


Mobil mewah itu segera membelah jalanan kota Jakarta yang sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa mobil yang melintas, karena mereka melewati tol. dan setelah pukul sepuluh malam, jalanan di tol memang terbilang sepi. Tidak butuh waktu lama, hanya dalam waktu tiga puluh menit, gerbang besar mansion yang ditempati Andreas terlihat di depan mata.


"Tuan besar Wijaya.. kita sudah sampai di tujuan.." melihat tuan besar Wijaya yang masih tidur, pengawal dengan hati-hati berusaha membangunkannya perlahan,


Laki-laki tua itu mulai membuka mata secara perlahan, tetapi melihat lampu di atasnya sudah mulai menyala, laki-laki itu kemudian mulai menegakkan punggung. Beberapa saat kemudian, tanpa bicara tuan besa Wijaya mulai turun dari dalam mobil.


*********