
Di bangunan rumah tua yang ada di pinggir kota Inter Laken, driver menghentikan mobilnya. Tidak lama kemudian, pengawal yang sejak tadi memberikan pengawalan pada mobil itu bergegas membukakan pintu untuk tuan muda dan nona muda mereka. Tidak lupa, ada pengawal yang membukakan pintu untuk tuan kecil Altezza. Dengan wajah penuh senyum, Andreas Jonathan memegangi tangan istrinya yang perlahan keluar dari dalam mobil, sambil memegangi perutnya yang sudah mulai membuncit.
"Hati-hati honey.." ucap Andreas Jonathan dengan suara lembut. Para pengawal saling berpandangan, mereka tidak terbiasa mendengar kata-kata lembut dari laki-laki itu selama bersama dengan mereka. Hanya ketika tuan muda bersama dengan istrinya, laki-laki muda itu baru bisa bersikap seperti itu.
"Mommy... Altezz suka disini. Halamannya luas, Altezz bisa bermain sepak bola di halaman ini... Pemandangan gunung-gunung juga terlihat lebih jelas mommy, hanya saja suhu udaranya sangat dingin.." dari depan, Altezz menghampiri mommy nya, dan bicara seperti itu.
"Altezz suka..., nanti Altezz sampaikan pada papa ya, biar papa membawa kita kesini, dan mengijinkan kita untuk menginap disini kapan-kapan.." sambil tersenyum, Cassandra menjawab kekaguman putra kecilnya. Altezza mengaitkan jari-jari tangannya ke jari tangan mommy nya,
Melihat apa yang dilakukan oleh putranya, Andreas Jonathan yang sudah berjalan di depan kembali ke belakang. Laki-laki itu menundukkan tubuhnya ke bawah, dan melepaskan kaitan tangan putranya Altezza dari istrinya. Hal itu dilakukan untuk keamanan dari istrinya Cassandra, karena dalam keadaan hamil terkadang keseimbangan seorang perempuan sedikit hilang. Andreas Jonathan tidak mau ada kejadian kedua orang yang sangat disayanginya itu mendapatkan musibah.
"Harus hati-hati ya sayang jika mau berpegangan pada mommy... Lihat., tubuh mommy sudah harus membawa adiknya Altezz, nanti jika tangan Altezz tanpa sadar menarik tangan mommy, keseimbangan tubuh mommy bisa oleng." terdengar laki-laki muda itu dengan pelan memberi tahu putranya.
"Ehmm... tubuh mommy bisa jatuh ya papa... terus tubuh adiknya Altezz bisa kesakitan.." dengan lucunya, Altezza berceloteh ringan.
"Yap.. benar sekali, sekarang Altezz bergandengan tangan dengan papa saja. Biarkan mommy berjalan sendiri, okay..." Andreas Jonathan mengangkat telapak tangan ke atas, dan dengan semangat Altezza menepuk telapak tangan papanya. Keduanya kemudian bergandengan, dengan Cassandra berjalan di samping mereka berdua,
Dari belakang, para pengawal yang melihat adegan itu saling berpandangan, tampak pandangan iri di mata mereka melihat itu semua. Tetapi karena bagi tuan muda mereka, keluarganya adalah satu-satunya yang bisa membuatnya bahagia, semua pengawal memakluminya. Tidak ada satupun dari mereka yang berani mengeluarkan suara, untuk mengganggu kedekatan keluarga itu. Beberapa saat kemudian, ketika mereka sudah akan sampai di teras...
"Tuan muda.. nona muda, dan tuan kecil, ada baiknya tuan dan nona berhenti dan menunggu disini. Biar kamilah yang akan mengetuk pintu, dan melihat keadaan di dalam rumah. Kami tidak mau, ada sesuatu yang buruk yang dapat mengganggu keluarga tuan muda.." seorang pengawal menghentikan keluarga itu.
"Hemm... lakukan, kami akan menunggunya." meskipun Andreas Jonathan sendiri merasa sangsi jika Sandrina dan Jennifer memiliki kekuatan untuk melawan mereka, tetapi laki-laki itu tetap berjaga-jaga. Andreas Jonathan sedikitpun tidak mau ada mara bahaya yang mengancam istri dan juga putranya.
Dari arah belakang, tiga pengawal berjalan di depan, kemudian memblokir tubuh Andreas Jonathan beserta keluarganya. Kemudian satu pengawal berjalan ke depan, dan menuju ke arah pintu untuk membunyikan bel. Di dalam rumah itu, selain Sandrina dan Jennifer ada tiga pengawal yang ditugaskan untuk memberikan pengawalan pada dua perempuan itu.
*******
"Kalian tahu sendiri bukan, betapa luasnya hati istriku Cassandra? Meskipun dengan kejamnya kalian berdua memperlakukan istriku, tetapi Cassandra tetap memiliki hati yang lembut dan mulia. Istriku berusaha meyakinkanku untuk menyelamatkan kalian dan membawanya kesini. Padahal, melihat wajah kalian berduapun aku sudah muak, tapi demi istriku semuanya aku lakukan.." dengan nada tinggi, Andreas Jonathan berbicara pada dua perempuan itu.
"Iya putraku Andre..., mama sangat menyesal dengan sikap kekanak-kanakan mama di masa lalu. Terima kasih menantuku Cassandra, mama tidak akan pernah melupakan kepedulianmu, dan sikap baikmu pada mama. Ternyata karena kebesaran hatimulah, mama dan Jenni bisa selamat dan keluar dari sarang singa itu.. Hiks.." dengan air mata berderai, Nyonya Sandrina menumpahkan air matanya.
"Mama...??? Jika sudah terjepit begini, kamu menganggapku sebagai seorang anak. Kemana lagi kamu akan membawa diri dan kemunafikanmu Sandrina.., jangan besar kepala. Hanya karena istriku Cassandra, aku berkenan membawamu kesini, tapi bukan kemudian aku membiarkanmu untuk menjual kepedihan dan pura-pura menganggapku sebagai seorang anak.." Andreas Jonathan mengingatkan hubungan keduanya yang sudah terputus.
Tangan Cassandra terulur untuk menghentikan suaminya berbicara, dan laki-laki yang sedang marah itu menoleh ke arah istrinya. begitu bertemu dan bertatapan dengan istrinya, wajah Andreas Jonathan kembali melembut.
"Kak Andre tenangkan hati dulu, jika tidak bisa bersikap baik, lebih baik tidak mengeluarkan statement, daripada bisa menimbulkan fitnah atau buruk sangka." dengan lemah lembut, Cassandra mengingatkan istrinya. Laki-laki muda itu hanya mengangguk, kemudian diam dan mengalihkan pandangan ke tempat lain.
"Terima kasih Cassandra, mama minta maaf padamu nak.. Jika dihitung, mungkin kesalahan mama tidak mungkin untuk dimaafkan, dan ternyata kalian berdualah yang memberikan mama pertolongan. Mama benar-benar menyesali semua kesalahan mama di masa lalu. Bahkan jika sekarang ini, kalian berdua menyerahkan mama dan Jenni ke kantor polisi, dan polisi segera menahan kami, mama ikhlas Sandra. " melihat Cassandra sudah berkomentar, Sandrina kembali meminta maaf.
Cassandra terlihat mengambil nafas dalam, kemudian menatap kedua perempuan itu secara bergantian. Melihat keduanya terpuruk seperti itu, Cassandra tidak bisa melakukan apapun. Untuk menjawab pernyataan itu, Cassandra juga memperhatikan perasaan suaminya,
"Nyonya Sandrina.. menurut saran saya, ada baiknya Nyonya dan Jenni merenungi apa yang sudah kalian lakukan di masa lalu. Untuk bagaimana selanjutnya, Sandra pasrahkan semua keputusan pada kak Andre, karena pada suami saya, semua yang boleh Sandra lakukan ditetapkan.." akhirnya Cassandra memberikan jawaban menggantung,
Sandrina dan Jennifer hanya kembali saling bertatapan, dan Andreas Jonathan malah berdiri dan berjalan keluar sambil membawa putranya Altezza.
"Kita biarkan dulu kak Andre berpikir, banyak yang harus dipikirkan olehnya.." Cassandra bersuara pelan, dan Nyonya Sandrina hanya menganggukkan kepalanya.
**********