CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 70 Kebaikan Warga Desa



Cassandra menengadahkan wajahnya menatap laki-laki muda yang selalu siap siaga memberinya pertolongan itu. Herlambang terlihat seperti dewa penolong malam ini, setiap air mata yang menggenang di kelopak mata gadis itu, tidak akan pernah dibiarkannya untuk mengalir ke bawah. Cassandra merasa tersentuh dengan perlakuan dari laki-laki itu, tetapi kemudian gadis itu teringat kembali dengan masalah yang sedang dihadapinya saat ini..


"Mas Herlam.. aku.. aku..." terlihat Cassandra tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dengan wajah malu dan marah, terlihat gadis itu menahan rasa sesak di dadanya.


"Tenanglah Sandra.. jika kamu akan menyampaikan, atau menceritakan apa yang sedang kamu alami saat ini, percayalah. Aku sudah mengetahuinya Sandra.. dan hilangkan rasa khawatir dari dalam hatimu. Kita akan merawat bayimu secara bersama-sama, jangan patah semangat karena tidak memiliki ayah untuk bayimu, aku akan dengan senang hati memposisikan diri sebagai ayahnya.." Cassandra kaget mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Herlambang. Gadis itu melihat ke arah berkas yang masih ada di atas mejanya, hasil pemeriksaan kehamilan dari Dokter Ridwan..


"Maafkan aku Sandra.. aku sudah membacanya tanpa ijinmu. Aku pikir, saat ini kamu sedang memiliki penyakit, sehingga membuatmu terpuruk seperti ini. Untuk itu, aku sudah lancang mencari tahu, dengan mempelajari berkas hasil pemeriksaan dokter," ucap Herlambang pelan.


"Apakah mas Herlam tidak marah melihat hal itu, melihat dan mentertawakan kebodohan Cassandra.." dengan suara tercekat, gadis itu bertanya pada laki-laki itu.


Herlambang tersenyum, kemudian menengadahkan wajah Cassandra. Kedua anak muda itu saling bertatapan, dan Herlambang menggelengkan kepada di depan Cassandra.


"Tidak ada yang bodoh Sandra.. dan tidak ada yang berhak marah, mentertawakan nasib burukmu. Kita ini adalah teman, dan juga sebagai keluarga di perantauan, kita harus saling membantu dan menguatkan. Percayalah.., masalahmu juga akan menjadi masalahku  Sandra.." ucap Herlambang dengan tulus. Ada kesungguhan yang terlihat jelas di manik-manik mata laki-laki itu. dan jujur, Cassandra melihat betapa makna terkandung dalam di manik mata tersebut.


Kedua orang itu saling terdiam, namun ada rasa hangat mengalir di sudut hati Cassandra. Masih ada orang terdekat yang tidak menyalahkannya, malah menawarkan bantuan kepadanya.


"Sandra .. kamu harus tetap semangat. Hidup ini masih panjang, apalagi dengan adanya janin di dalam perutmu. Kamu harus tetap berjuang untuk merawat, untuk membesarkannya, dan melahirkan ke dunia ini Sandra. percayalah.. aku akan selalu ada untukmu, juga untuk bayi yang masih ada dalam kandunganmu itu.." ucap Herlambang meyakinkannya.


"Terima kasih mas Herlam.. saat ini Cassandra merasa memiliki orang dekat, yang selalu ada untukku  dalam keadaan apapun. Meskipun tidak ada hubungan darah di antara kita, namun Cassandra merasakan seperti memiliki seorang kakak kandung, yang selalu menopang dan memberikan dukungan untuk Cassandra. terima kasih sekali lagi mas herlam.." ucap gadis itu, sambil menatap ke arah mata Herlambang.


Laki-laki itu tersenyum kecut, meskipun gadis itu menganggap keberadaannya di dekatnya, tidak sesuai yang diharapkan di dalam hatinya, namun kebahagiaan Cassandra masih menjadi prioritasnya saat ini. Perlahan Herlambang mendekat ke arah gadis itu, kemudian tanpa meminta ijin laki-laki itu menarik tubuh gadis itu, kemudian memeluknya erat. Cassandra merasa terharu, dan akhirnya di dada laki-laki itu, gadis itu menumpahkan semua rasa yang dirasakannya.


*******


Keesokan Harinya


Dengan harapan baru untuk menyambut buah hatinya, Cassandra akhirnya bisa menjalani hari-hari dengan senyuman. Pagi itu, tiba-tiba saja Cassandra ingin masak sayur asem, ikan asin, dan tempe goreng. Selama ini, gadis itu selalu mengandalkan Grab Mart untuk mencukupi kebutuhan dapurnya. Namun kali ini, entah ada angin apa, begitu melihat ada penjual sayur yang sedang dikerubungi para pembeli, muncul niatan untuk mendatangi penjual tersebut, dan berbelanja.


"Ada neng.. sebentar mamang siapkan. Neng ini penduduk baru ya, makanya baru sekarang keluar.." dengan ramah, penjual sayur menanggapi perkataan Cassandra.


"Bukan mang.. sudah satu bulan lebih saya tinggal di desa ini, Namun.. karena ada kerjaan yang harus saya lakukan secara online, makanya tidak bisa berbelanja secara langsung.,Biasanya saya mengandalkan Gram mart untuk berbelanja mang.." Cassandra mencoba menjelaskan,


"Iya mang.. suami neng ini baik dan ramah kok.. Mas Herlambang sudah memberi tahukan pada tetangga, jika istrinya tidak bisa berlama-lama di luar rumah. Kata mas Herlam, neng ini bekerja secara online.. bukankah begitu neng.." Cassandra kaget mendengar perkataan ibu-ibu itu. Dalam hatinya, Cassandra menyesal sudah terlalu banyak menyebabkan Herlambang masuk dalam kehidupan pribadinya. bahkan harus menyamar dan mengaku sebagai suaminya segala, Ada rasa hangat dan kekaguman yang muncul dalam hati Cassandra,


"Terima kasih bu.. atas pengertiannya. Dan mohon maaf, karena ketidak sopanan saya.." dengan cepat, Cassandra segera mengucapkan terima kasih pada ibu-ibu itu.


"Tidak apa-apa mbak, kami maklum kok mbak. Untung suami mbak Sandra ini orangnya baikan, sehingga mencegah adanya pembicaraan buruk tentang mbak Sandra di desa," salah satu ibu-ibu yang juga berbelanja, malah tanpa sadar memuji kebaikan Herlambang.


Penjual terlihat sudah selesai menyiapkan pesanan Cassandra, dan menggabungkan dengan sayuran yang sudah dipilih oleh gadis itu. Melihat hal itu, dan tidak ingin jika pembicaraan semakin melebar kemana-mana, akhinya Cassandra segera mencukupkan belanjanya.


"Ibu-ibu.., saya duluan ya. Karena harus segera memasak untuk sarapan pagi.." merasa tidak enak terlalu lama mengobrol dengan ibu-ibu, Cassandra berpamitan pada mereka.


"Baik neng.. hati-hati.." salah satu ibu menjawab perkataan Cassandra.


"Mbak Sandra cantik ya ternyata, ramah juga. Suaminya mas Herlambang juga tampan, sopan lagi. Selalu menyapa jika datang dan keluar dari desa ini.." begitu Cassandra berjalan meninggalkan tempat itu, omongan ibu-ibu tentangnya dan juga Herlambang masih berlanjut.


Cassandra hanya tersenyum, ketika telinganya masih mendengar gunjingan dari ibu-ibu itu. Namun.. dia tidak menggubrisnya, melainkan terus berjalan menuju ke arah rumah yang disewanya. Karena masih di desa, sewa rumah yang ditempatinya itu masih terhitung murah. Hasil tabungan selama bekerja, dan juga pendapatan dari membuat desain dan menawarkan secara online masih cukup untuk membiayai hidupnya selama ini. Jika Herlambang, memberinya sejumlah uang, gadis itu selalu menolaknya dengan alasan masih memiliki sejumlah uang.


"Aku sudah sangat lapar, aku harus segera memasak. Sudah tidak sabar rasanya menikmati sayur asem dan ikan asin.." Cassandra merasa ngiler membayangkan rasa masakan yang akan segera dimasaknya itu. Gadis itu segera bergegas menuju ke arah dapur untuk menyiapkan masakan.


********