
Cassandra tergugu di dalam kamar, setelah pulang dari memeriksakan dirinya di klinik dokter kandungan. Gadis itu betul-betul tidak menyangka, akan bertambah berat penderitaannya. Dalam keadaan tanpa suami, harus menjalani kehamilan. Cassandra tidak dapat membayangkan respon masyarakat melihat keadaanya, bayangan akan dicibir oleh anggota masyarakat, sangat menghantui gadis muda itu,.
"Sandra.. apakah kamu ada di dalam rumah Sand.. aku membawakan nasi goreng untukmu.." terdengar suara Herlambang memanggilnya dari ruang tamu.
Cassandra terdiam, tidak merespon panggilan dari laki-laki itu. Gadis itu menutup wajahnya dengan menggunakan bantal, dan duduk di pojok ranjang yang ada di dalam kamarnya. Hanya isak tangis yang menjawab panggilan dari laki-laki itu. beberapa saat, Herlambang masih mencoba menunggu di ruang tamu, namun ketika mendengar isak tangis Cassandra yang semakin keras, laki-laki itu memberanikan diri untuk menerobos masuk ke dalam kamar perempuan itu. Herlambang mendorong pintu itu, dan betapa terkejutnya melihat posisi dan keadaan gadis itu saat ini.
"Apa yang terjadi denganmu Sandra, hal apa yang membuatmu menangis.." Herlambang terlihat panik melihat keadaan gadis itu. Laki-laki itu segera mendekat pada gadis itu, dan ketika akan memeluknya, tiba-tiba gadis itu mendorong dada laki-laki itu, memintanya untuk menjauh.
"Jangan mendekat padaku, jangan mendekat mas Herlam.. Pergilah jauh dari hidupku, pergilah jauh.. aku kotor mas.. aku kotor. pergilah mas.." Herlambang kaget mendengar kata-kata yang diucapkan oleh gadis itu, tetapi laki-laki itu tetap bertahan di dalam ruangan. Sedikitpun Herlambang tidak memiliki niat untuk meninggalkan Cassandra, laki-laki itu tetap bertahan, berdiri di dalam kamar Cassandra.
Dengan perasaan prihatin terhadap gadis yang ditaksirnya itu, Herlambang berusaha mencari tahu sebenarnya apa yang dialami oleh Cassandra. Laki-laki itu duduk di kursi yang ada di dalam kamar gadis itu, terus melihat ke arah Cassandra, untuk mencegah jika terjadi hal negatif pada gadis itu,
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu Sandra.. sepertinya ini bukan masalah baru., Apakah hal ini terkait dengan permintaan tolongmu malam itu, untuk membawamu keluar dari dalam apartemen.." sambil memandang Cassandra yang masih menangis, Herlambang bergumam sendiri.
Jika laki-laki itu bisa, Herlambang ingin menggantikan rasa sakit yang dialami oleh gadis itu. Tanpa sepengetahuan Cassandra, Herlambang sampai mengaku sebagai suami dari Cassandra pada warga yang tinggal di desa itu. Hal itu terpaksa dilakukannya, karena untuk mempermudah agar Cassandra tetap bisa tinggal dan hidup di desa tersebut. Beberapa tempat sudah ditawarkan Herlambang pada Cassandra, namun hanya desa inilah yang disetujui oleh gadis itu.
"Sepertinya masalah yang kamu hadapi sangat berat Sandra.. ijinkan aku untuk menjadi tongkat penyanggamu, Aku ikhlas, aku ridho Sandra.. yang penting kembalilah tersenyum untukku. Jangan kamu simpan sendiri kesedihanmu.." kembali Herlambang mengajak gadis itu untuk berkomunikasi.
Namun malah semakin keras tangisan Cassandra terdengar, dan membuat laki-laki itu kembali mundur dan terduduk di kursinya. Tiba-tiba tatapan Herlambang melihat tumpukan berkas di atas meja, dan yang mencolok sehingga menimbulkan perhatiannya adalah logo sebuah klinik kesehatan.
"Siapa yang sakit, apakah karena hasil diagnosa dokter yang menyebabkan Cassandra menjadi seperti ini.." Herlambang berbicara pada dirinya sendiri.
Dilandasi rasa ingin tahu yang besar, Herlambang memberanikan diri untuk mengambil berkas di atas meja itu. Begitu membaca isi berkas itu dengan perlahan, tiba-tiba lutut laki-laki itu terasa lemas. Hasil test pack, dan hasil diagnosa secara tertulis, yang menyatakan jika Cassandra sedang dalam keadaan hamil, membuat laki-laki itu tidak mampu berpikir apa-apa. Seketika rasa blank, seperti menghantui Herlambang.
"Cassandra ternyata hamil, apakah ini alasannya ketika malam itu, dia memintaku untuk membawanya keluar dari dalam apartemen. Siapa yang melakukannya..?" terlihat urat kemarahan tampak menonjol di wajah Herlambang.
"Dukk... duk..." tembok di luar rumah menjadi sasaran kemarahan Herlambang, Hanya pada dinding itu, laki-laki ini bisa meluapkan rasa kesal di hatinya, dan entah kesal yang ditujukan kepada siapa.
Tampak darah merembes keluar dari telapak tangannya yang baru saja beradu dengan tembok. Namun sedikitpun laki-laki itu tidak merasakan rasa sakit ataupun rasa perih. Nyeri dalam ulu hatinya masih lebih sakit, ketika melihat sendiri apa yang dialami oleh Cassandra., Namun tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini, untuk membantu menyembuhkan luka hati gadis itu,.
"Jadilah laki-laki sejati Herlambang.. gadis itu membutuhkan bantuanmu, jangan kamu hakimi dia. Cassandra sudah sangat menderita dengan keadaannya, bantu dia, tegakkanlah kembali wajahnya." tiba-tiba seperti ada yang bersuara dalam hati laki-laki itu.
Perlahan Herlambang mengusap keringat yang mengalir di dahinya, dan laki-laki itu kembali terduduk mencoba menyeimbangkan kembali pernafasannya yang sempat kacau. Cukup lama, laki-laki itu duduk termenung, tidak jelas apa yang melintas dalam pikirannya saat ini.
"Aku harus mencari tahu siapa laki-laki biadab yang telah membuat Cassandra seperti ini. Mungkin besok, aku akan bisa mengajak gadis itu untuk bicara. Untuk saat ini, sepertinya hanya kediaman yang akan membantu untuk menyembuhkan luka hatinya. Percayalah Sandra.. aku akan menjagamu, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku bisa mencintaimu dengan cara yang lain, tidak harus aku dapat memilikimu..:" kembali Herlambang berbicara dengan dirinya sendiri,
Setelah beberapa saat terdiam, Herlambang kembali berdiri. Tiba-tiba saja muncul keinginannya untuk melihat keadaan gadis itu, dan muncul niat untuk menenangkannya. perlahan Herlambang kembali masuk ke dalam rumah, kemudian menekan beberapa saklar lampu, untuk menyalakan lampu di dalam rumah. Setelah melihat ruang tamu sudah menjadi terang, karena suasana di luar rumah memang sudah menjelang Maghrib. herlambang kemudian kembali masuk ke dalam kamar gadis itu, kemudian menyalakan lampu kamar.
"Terima kasih mas.. tidak meninggalkanku sendiri.." kata-kata lirih terucap dari bibir perempuan itu.
Herlambang terpana melihat Cassandra yang sepertinya dengan cepat sudah mengembalikan kondisinya.
"Tenanglah Sandra.. sampai kapanpun aku akan selalu mendukungmu, akan menemanimu. Istirahatlah, dan buang jauh pikiran-pikiran buruk dari dalam pikiranmu. Kita akan menghadapinya secara bersama-sama.." dengan lemah lembut, Herlambang menasehati Cassandra,
Air mata kembali mengalir dari kelopak mata Cassandra, dan menetes ke pipinya. Dengan penuh kasih, Herlambang menggunakan jari-jarinya mengusap air mata itu. Sambil tersenyum, laki-laki itu meletakkan kedua telapak tangannya di pipi Cassandra..
"Life must go on... tenanglah.." ucap Herlambang sambil tersenyum. Perlahan kesejukan seperti mengalir di hati gadis itu.
*******