
Andreas Jonathan menemui Alexander di rumah laki-laki itu, setelah mendapatkan laporan tentang kaburnya tawanan dan meninggalnya satu tawanan karena bunuh diri. Hanya salam waktu tiga puluh menit, Andreas Jonathan meluncur ke rumah Alexander, dengan pengawal yang mengemudikan mobil di depan.
“Tin.. tin.. tin..” karena pintu gerbang masih tertutup rapat, driver yang membawa Andreas Jonathan membunyikan klakson berulang-ulang.
Tidak lama kemudian, pintu gerbang segera dibuka dari dalam dan terlihat dua orang penjaga berlari-lari memegangi gerbang dari dua sisi. Driver segera membawa mobil ke dalam dengan kecepatan tinggi, dan menghentikan disamping mobil yang biasa dibawa Alexander.
“Tuan muda akan langsung masuk ke dalam, atau saya dulu yang melihat apakah tuan Alexander sudah berada di dalam rumah itu.” Sebelum membukakan pintu, pengawal bertanya pada tuan mudanya.
“Apakah kamu tidak melihat jika di samping mobil ini adalah mobil Alexander. Kita masuk ke dalam Bersama-sama saja..” tanpa menunggu pengawal itu membukakan pintu mobil, Andreas Jonathan segera membuka pintu dan langsung berjalan keluar dari dalam mobil yang dikendarainya.
Pengawal yang menjadi driver itu segera berlari menyusul tuan mudanya, dan di depan pintu terlihat dua orang pengawal menganggukkan kepala, serta mempersilakan masuk pada Andreas Jonathan, Tanpa menjawab, CEO PT. Indotrex. Tbk itu langsung masuk ke dalam diikuti pengawal yang datang bersamanya. Terlihat di sebuah ruang pertemuan kecil, Alexander sedang berbincang dengan beberapa orang. Melihat kedatangan Andreas Jonathan, orang yang sedang berbincang dengan wakil CEO itu kemudian berdiri dan mempersilakan tuan mudanya untuk duduk.
“Lanjutkan pembicaraan kalian.., aku ingin mendengarnya..” melihat orang yang sedang berbincang dengan Alexander akan meninggalkan ruangan tersebut, Andreas Jonathan melarangnya. Oramg itu kemudian Kembali duduk dan menghadap pada laki-laki itu.
“Begini tuan muda.., seperti yang tadi sudah aku sampaikan lewat panggilan telpon, kami tidak bisa menahan dua tawanan itu. Ternyata mereka memilih untuk mengakhiri hidupnya, daripada harus berurusan dengan orang yang telah membayar mereka. Dan orang-orang kita tidak sanggup untuk mengendalikannya, dan setelah kami periksa ternyata mereka menyimpan beberapa obat yang dikemas seperti permen, dan menyimpan di saku baju mereka. Begitu kita lengah, ternyata mereka menggunakannya untuk bunuh diri.” Alexander mengulang informasi pada tuan mudanya.
Andreas Jonathan diam, laki-laki itu terlihat sedang berpikir. Dengan memiliki keberanian untuk mengakhiri hidup mereka, berarti kekuatan yang dimiliki Armansyah sangat besar. Andreas Jonathan tidak tahu jika ada kekuatan Thanom Nopadon yang ikut menjadi daya dukung sumber daya Armansyah dan Sandrina.
“Bagaimana mereka bisa memiliki sumber daya sebesar itu. Padahal untuk kehidupan sehari-hari Ketika masih di Singapore saja, mereka mem pressure mama Sheilla dan Stevie,” Andreas Jonathan bergumam sendiri.
“Hmm.. itu juga yang sejak tadi juga menjadi pemikiran kami berdua tuan muda. Dua orang itu, tiga bersama dengan Jennifer semacam memiliki kekuatan baru, yang digunakan untuk melawan kita. Atau lebih jelasnya, mungkin untuk berbalas dendam kepada kita.” Alexander ikut menanggapi.
“Benar Alex.., hal itu yang semakin memotivasiku untuk segera membawa istri dan putraku meninggalkan negara ini. Aku sangat mengkhawatirkan keselamatan mereka, karena Armansyah ternyata tidak bisa kita anggap mudah.” Ucap Andreas Jonathan pada akhirnya.
“Sepertinya dari tatapan wajahmu, ada yang ingin kamu bicarakan kepadaku Alex.. Masalah apa, sampaikan kepadaku.” Melihat diamnya Alexander, malah menimbulkan tanya pada CEO PT. Indotrex. Tbk itu.
“Ya tuan muda, sedikit kaget dengan keputusan tiba-tiba dari tuan muda.. Bagaimana nanti keadaan PT. Indotrex. Tbk, dengan tidak adanya tuan muda.. Dan, kepergian tuan muda beserta nona muda dan tuan kecil ke Switzerland, apakah untuk jangka waktu yang lama ataukah hanya sementara saja..” akhirnya Alexander memberanikan diri bertanya pada laki-laki itu.
“Aku tetap akan memantau perusahaan itu dari negara Switzerland Alex. Dan jika membutuhkan kehadiranku secara fisik untuk menangani masalah perusahaan, aku akan cepat menyelesaikan dan mengurus semuanya. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana keluarga, putra dan juga istriku dalam keadaan aman. Untuk mama Sheilla dan Stevie, menjadi tanggung jawab dari papa. Jadi.., jika kamu ingin tahu bagaimana Stevie ke depannya, lakukan pendekatan pada papa.” Merasa jika anak muda yang berbicara padanya itu, merasa khawatir jika akan berpisah dengan Stevie, Andreas Jonathan memberikan informasi kepadanya,
Alexander tersenyum, apa yang sejak tadi menjadi keresahan dan mengganjal dalam pikirannya akhirnya terselesaikan. Memang akan menjadi sesuatu yang berat untuknya, jika dia harus berpisah dengan Stevie. Padahal, Alexander sedang gencar melakukan pendekatan pada gadis itu. Namun, ternyata Stevie masih memiliki hati yang keras, dan belum menjawab dengan pasti bagaimana perasaannya pada laki-laki itu.
“Baik tuan muda.., terima kasih atas kesempatan dan ijin tuan muda, agar saya bisa mendekati Stevie. Secepatnya, saya akan bertemu dengan tuan besar Wijaya, untuk bertanya apa yang akan dilakukannya dalam waktu yang dekat ini. Jika perlu tuan muda.., saya akan langsung meminta Stevie untuk saya tuan muda..” sambil tersenyum, dengan mantap Alexander mengatakan niatnya.
“Okay by the way… bagaimana rencanamu selanjutnya Alex.. Kita tidak bisa hanya berdiam diri, dan menunggu sampai munculnya Armansyah dan Sandrina. Kita perlu untuk membuat gebrakan, membuat agar orang-orang itu memunculkan wajahnya pada kita.” Andreas Jonathan Kembali mengalihkan focus pembicaraan.
“Kita masih melacak melalui rekaman CCTV dari lokasi pelarian. Saat ini anak buah kita sedang melakukan peretasan CCTV yang dipasang Dinas Perhubungan, untuk memberikan pengawasan dan hasil pemantauan mereka, Kita tinggal menunggu hasilnya saat ini, karena mereka sudah mendapatkan rekaman kamera CCTV tersebut, dan baru melakukan pengecekan.”
Andreas Jonathan terdiam, sudah lama laki-laki itu tidak bermain kucing-kucingan seperti itu lagi. Kali ini laki-laki ini merasa mendapatkan lawan yang sesuai dan tangguh. Namun karena ada tanggungan istri dan putranya, tidak seperti kala laki-laki itu masih muda, membuat Andreas Jonathan lebih berhati-hati dalam melangkah.
„Untuk sementara tuan muda.. kita hanya menunggu saja. Beberapa saat lagi, orang-orang kita akan meluncur ke tempat ini. Cepat atau lambat, aku yakin orang-orang itu pasti akan tertangkap, dan akan mudah bagi kita untuk membuat pengadilan untuk mereka semuanya.” Kembali Alexander melanjutkan kalimatnya.
„Hmm.. atur semuanya Alex.., juga jangan lupa. Atur penerbangan untukku dan keluarga kecilku. Aku ingin segera pergi meninggalkan negara ini, karena aku tidak mau bertaruh untuk keselamatan mereka.” Ucap Andreas Jonathan memberikan perintah pada anak muda itu.
**********