
Alexander kaget sampai membelalakan mata ketika melihat tiba-tiba kakak iparnya Andreas Jonathan sudah berdiri di depan mereka. Stevie hanya senyum-senyum sendiri, dalam hati gadis muda itu bersyukur karena suami dan kakak kandungnya tidak mengetahui tujuannya untuk datang ke A & W Grill Restaurant. Jika mereka mengetahui jika kedatangannya ke restaurant ini karena untuk mengucapkan selamat tinggal dengan papanya Armansyah, Stevie tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi mereka. Keberadaannya di restaurant ini terlihat seperti natural tanpa rekayasa apapun.
"Bagaimana bisa kalian berdua datang ke restaurant ini untuk menikmati steak, tanpa ada tawaran untuk mengajak kami..? Padahal kamu tahu sendiri bukan, jika istriku sangat menyukai Steak Alex.." Andreas Jonathan pura-pura marah menegur asisten pribadi, yang kini sudah menjadi adik iparnya itu.
"Bisa Alex jelaskan kak, ini kesalah pahaman. Kedatangan Alex kemari karena menyusul Stevie. Hanya karena melihatku berada di ruang kerja, istriku ingin makan steak dan hanya mengajak sopir keluarga untuk menemaninya kesini. Akhirnya aku menyusulnya kemari kak... please.." Alexander membela dirinya, dan tanpa sadar menyebut istrinya.
"What.., Stevie pergi sendiri ke restaurant ini. Ehm... sepertinya bukan Stevie yang kakak kenal deh, benarkah seperti itu sayang..." merasa curiga dengan kata-kata Alexander, Cassandra menekankan fokus pada Stevie. Selama mereka berada di Inter Laken, baru sekali Stevie akan melarikan diri ke bandara Zurich, dan berakhir dengan ada insiden di belakangnya. Setelah itu, sepertinya gadis muda itu tidak pernah melakukannya lagi. mendengar penjelasan Alexander, seperti ada yang aneh dengan gadis muda itu.
Stevie mendadak pucat mendengar kata-kata kakak iparnya, dan perubahan ekspresi wajahnya tidak bisa disembunyikan dari kakak kandungnya. Andreas Jonathan tidak mengalihkan pandangan dari adiknya itu, dan hal itu menjadikan Stevie tambah gelagapan seperti menyembunyikan sesuatu. Alexander menoleh, melihat ke arah istrinya, dan terlihat gadis itu bertambah gugup.
"Apa yang kamu sembunyikan dari kami Stevie.., jangan membuatnya semakin berbelit-belit.. lebih baik kamu ceritakan semuanya dari awal, sebelum semuanya terlanjur kemana-mana..!" tiba-tiba suara tegas Andreas Jonathan tampak tertuju pada gadis muda itu.
Melihat istrinya yang tambah gugup, tidak ada yang bisa dilakukan oleh ALexander. Laki-laki muda itu hanya mengusap-usap punggung istrinya naik turun ke bawah dan ke atas.
"Maafkan Stevie kak, kak Alex pun juga tidak tahu apa yang Stevie lakukan, jadi jangan salahkan suami Stevie.." akhirnya Stevie memulai penjelasan.
"Kedatangan Stevie ke restaurant ini, karena ingin mengucapkan kata-kata perpisahan dengan papa Armansyah. Maafkan Stevie kak, bagaimanapun papa Armansyah memiliki arti lebih dalam diri Stevie. laki-laki itu yang sudah membantu mengenalkan Stevie pada dunia kak, membukakan mata Stevie tentang kerasnya hidup ini.. Jangan adili papa kak.." tangis Stevie tumpah, dan dengan sigap Alexander menyandarkan kepala istrinya di dadanya.
Andreas Jonathan terhenyak, laki-laki itu mengambil nafas panjang, kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Sama halnya dengan Alexander, Cassandra lebih bisa untuk bersikap tenang, dan bisa menerima serta memahami perasaan Stevie. Beberapa saat, dalam meja itu ada keheningan, tidak ada yang berani untuk bicara.
"Hmm... sepertinya kita semua harus memposisikan diri pada diri Stevie kak.. Sejak Stevie lahir, berlatih berjalan, mengenal kehidupan, hanya Armansyah yang dikenal dan dipanggilnya sebagai seorang papa. Sandra yakin, sebenarnya Armansyah juga mengalami hal yang sama, ada kebimbangan dalam hatinya. Ikatan papa dan anak, meskipun tidak terhubung oleh darah, lebih kental." akhirnya Cassandra memecah keheningan.
"Benar kak, Stevie juga tidak memiliki niat untuk mencari keberadaan papa. Sebenarnya papa tadi kirim pesan pada Stevie, untuk berpamitan. Karena papa menyadari, jika apa yang dilakukannya saat ini merupakan hal yang keliru. Di masa tuanya, papa ingin menenangkan diri, dan menjauhkan diri dari kehidupan manusia pada umumnya. Papa akan mengasingkan diri di desa Maureen kak, dan Stevie memaksa untuk menemuinya barang sebentar. Kak Alex pun tidak tahu apa-apa, dan tidak sengaja kak Alex datang ke restaurant ini untuk menjemput Stevie pulang.."akhirnya dengan terisak, Stevie menceritakan keadaan yang sebenarnya.
"Itu semua di luar pengetahuan Stevie kak, karena pertemuan kami pure.. hanya untuk mengucapkan kata perpisahan. Tidak ada waktu untuk bertanya ataupun menjelaskan hal lainnya.." lanjut Stevie tanpa berani mengangkat wajah untuk menatap wajah kakak kandungnya.
Kembali suasana menjadi hening, semua yang duduk di meja itu tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Cassandra yang tadi memancing Stevie, ada rasa penyesalan dalam hatinya karena memicu perdebatan seperti ini. Melihat ada air mineral yang masih utuh, Cassandra mengambil kemudian membukanya.
"Minum dulu kak.. sepertinya kita tidak perlu terlalu over thinking. Stevie sudah mengakui semuanya, dan semoga saja Armansyah tulus menyayangi Stevie, dan apa yang diceritakan pada Stevie semuanya jujur kak, benar adanya." kembali Cassandra memecah kesunyian,
"Iya kak, timpakan semua kesalahan yang dilakukan Stevie padaku kak.. Alex suaminya, seharusnya semua yang dilakukan Stevie di bawah pengawasan atau paling tidak Alex ikut mengetahuinya. Tetapi semuanya terjadi, tanpa sepengetahuan dari Alex.. Sepertinya Alex telah gagal menjadi suami yang baik untuk Stevie.., hingga istriku tidak memiliki kepercayaan untuk bercerita kepadaku.." tiba-tiba dengan gentle, Alexander mengakui semua kesalahan Stevie menjadi kesalahannya.
Mendengar kata-kata suaminya, Stevie langsung memeluk erat, dan menciumi wajah laki-laki itu sambil menangis.
"Kak Alex... maafkan Stevie kak, jangan lagi kakak bicara seperti itu. Tidak ada laki-laki lain dalam hidup Stevie, yang bisa menyayangi dan mencintai Stevie sampai seperti ini kak. Sekali lagi, maafkan Stevie, ini semua Stevie yang salah, bukan kak Alex.." masih sambil menangis, Stevie memeluk erat suaminya.
"Hmm.. kak Andre, kak Alex.. kita menjadi pusat perhatian di restaurant ini, karena kita berada di ruang publik. Orang-orang yang tidak tahu bisa memikir jika kita sedang melakukan penindasan. Mungkin masalah ini bisa kita bicarakan di rumah, dan kita bisa mencari bagaimana jalan keluarnya," Cassandra berusaha mendinginkan situasi.
Mendengar kata-kata istrinya, akhirnya Andreas Jonathan bisa menerima. Laki-laki muda itu kemudian berdiri, kemudian tangannya menarik tangan Cassandra untuk mengajaknya pergi dari restaurant itu.
"Stevie.. kak Alex, kita pulang dulu. Nanti kita akan lakukan pembicaraan di mansion kak Andre..." sebelum mengikuti langkah kaki suaminya, Cassandra berpesan pada pasangan suami istri itu.
********