CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 114 Kesempatan



Herlambang yang seperti merasa terpukul melihat lukisan Cassandra dengan seorang bayi dan CEO perusahaan, masih menutup wajahnya dengan menggunakan tangannya. Tetapi dalam hati kecil laki-laki ada rasa hangat, karena melihat ada kebahagiaan dalam tatapan teman dekatnya itu. Bahkan karena saking terharunya melihat lukisan itu, Herlambang tidak menyadari keberadaan Alexander yang sudah berdiri di belakangnya.


"Selamat pagi mas Herlambang.." suara Alexander mengejutkan anak muda itu.


Herlambang terkejut dan segera menyesuaikan emosinya, kemudian berdiri dan mengangkat tubuhnya ke atas. Melihat kedatangan Alexander, Herlambang menundukkan tubuhnya untuk memberikan sambutan..


"Selamat pagi tuan Alexander.., saya datang untuk menghadiri undangan Tuan.." masih dengan hati yang tidak bisa dibayangkan bagaimana rasanya, Herlambang menyapa balik laki-laki muda itu.


"Duduklah kembali mas Herlam.. kita akan berdiskusi tentang beberapa hal pagi ini." Alexander kemudian melangkahkan kaki, dan duduk di depan Herlambang,


Beberapa saat kedua laki-laki itu duduk dalam diam, dan terlihat Alexander membuka dan mempelajari berkas tentang pengembangan capaian kinerja yang berhasil dicapai oleh Herlambang. Beberapa kata dilingkari Alexander dengan menggunakan spidol yang sudah disediakan dalam ruangan itu. Sambil menata hatinya, Herlambang menunggu Alexander sampai selesai membaca dan mempelajari track record pencapaian yang telah dilakukan.


"Okay.. mas Herlam.., apakah anda tahu, untuk apa perusahaan memanggilmu ke kantor pusat? Dan apakah anda merasa layak untuk menduduki posisi sebagai salah satu petinggi dalam salah satu perusahaan yang berada di bawah bendera PT. Indotrex. Tbk?" pertanyaan yang diucapkan Alexander, mengandung banyak makna bagi Herlambang. Laki-laki itu mengambil nafas beberapa saat, dan setelah kembali menata hatinya..


"Baik tuan Alexander. Kedatangan saya kesini berasal dari ketidak tahuan saya, dan kurang kecermatan yang saya lakukan. Saya sama sekali tidak mengetahui jika perusahaan tempat saya bekerja, ternyata merupakan subsidiary dari PT. Indotrex. Tbk. Saya sadar, ketika tadi pagi saya sampai di depan lobby perusahaan, dan ternyata perusahaan ini dulunya tempat bekerja teman dekat saya, yang sudah terpisah beberapa saat dengan saya. Tetapi melihat lukisan di dinding ruang ini, saya hanya berharap jika teman dekat saya itu bahagia tuan Alex, entah dengan siapa dia saat ini." dengan tegas, Herlambang mulai menjawab pertanyaan Alexander. Beberapa saat Herlambang menghentikan kalimatnya..


"Untuk masalah posisi yang akan ditawarkan pada saya, harapan yang saya inginkan, tidak akan terkait dengan masa lalu saya dengan gadis itu, karena merasa memiliki kelayakan untuk duduk dalam posisi itu. Terlepas karena balas budi yang mungkin akan disampaikan pemilik perusahaan ini kepada saya. Namun.. jika perusahaan ini meminta saya untuk datang ke perusahaan ini, dan menawarkan posisi tinggi untuk saya, hanya karena permintaan teman saya, maka saya akan menolaknya tuan. Saya merasa memiliki kemampuan untuk berjuang sendiri, tanpa karena kemudahan yang ditawarkan orang lain." lanjut Herlambang.


Mendengar jawaban dari laki-laki yang duduk di depannya itu, senyuman muncul dari bibir Alexander. Laki-laki itu betul-betul tidak menyangka dengan keterus terangan dari laki-laki yang memiliki nama Herlambang itu.


"Hmm.. saya merasa senang dengan tingkat confidence yang anda miliki saudara Herlambang. Perusahaan ini memang butuh orang-orang yang memiliki pemikiran optimis. Jujur mas Herlambang.. asal mula ketertarikan kami mempekerjakan anda adalah karena tuan muda ingin memberikan balas budi pada anda. Namun.. melihat track record pencapaian kinerja dari saudara Herlambang selama bekerja di Surabaya, saya mengakui jika anda memang layak untuk berada dalam posisi ini." kata-kata Alexander melegakan Herlambang, meskipun terselip keraguan juga dalam kata-kata itu.


"Apakah anda menerimanya mas Herlambang, dan saya tidak akan mengulang lagi kata-kata saya. Jika anda memutuskan saat ini untuk menolak, maka pintu kesempatan akan saya tutup sekarang juga." lanjut Alexander dengan nada tegas.


"Saya menerimanya tuan Alexander.. namun apakah saya bisa diberikan kesempatan untuk bertemu dengan teman dekat saya beberapa saat saja. Terus terang tuan Alex.. saya sangat merindukan miss Cassandra, dan ingin meihat dan mengenal adik bayinya." tiba-tiba Herlambang membuat sebuah permintaan.


*********


Di pinggir kolam renang, Cassandra tampak duduk dengan Altezza dan menatap air di kolam renang yang tampak tenang di depannya. Gadis muda itu merasa bingung dengan tidak ada kesibukan, selain hanya bermain dengan Altezza. Namun begitu Altezza tidur, gadis itu menjadi kehilangan aktivitas. Tiba-tiba dua buah tangan memeluk tubuh Cassandra dari belakang, dan reflek gadis itu mengangkat wajahnya ke atas. Terlihat Andreas Jonathan yang telah melakukannya, dan melihat wajah istrinya yang menghadap kepadanya, sebuah ciuman dalam pada binir gadis itu terjadi untuk beberapa saat.


"Apa yang kamu lamunkan honey.. sebentar lagi sinar matahari turun, masuklah ke dalam rumah.." dengan suara lembut, Andreas Jonathan bertanya pada perempuan muda itu.


"Jujur kak.., Sandra merasa tidak memiliki kesibukan apapun di Pent house ini. Ada suster perawat dan ART yang membantu menemani Cassandra merawat Altezz, dan putra kita juga terlihat sangat mandiri. Sandra sangat kesepian kak.. rindu masa-masa bekerja.." dengan jujur Cassandra mengucapkan curhatan dan keluh kesah dalam hatinya.


Andreas Jonathan tanpa melepaskan rangkulannya, memutarkan badan kemudian duduk disamping gadis itu. Tanpa merasa malu, laki-laki itu lagi-lagi memberikan ciuman mesra di bibir Cassandra menjadi risih, dan mendorong dada laki-laki itu.


"Jangan beginilah kak, malu jika dilihat oleh orang lain.  Seperti kita tidak memiliki rasa malu saja untuk bermesraan," dengan jengah, Cassandra menolak perlakuan suaminya.


"Kenapa kita harus malu hoeny.. kita ini pasangan suami istri, kita sudah menikah dan memiliki Altezz. Biar dunia dan seisinya iri, jealous dengan sikap kita, agar mereka segera termotivasi untuk segera melegalkan hubungan mereka dengan kekasih mereka." dengan tidak tahu malunya, Andreas Jonathan seperti tidak menyadari kesalahannya.


"Hmm.. terserah apa yang kakak mau saja. Tapi Sandra harap, kak Andre mendengar apa yang tadi cassandra keluhkan barusan." merasa tidak akan menang jika berdebat dengan suaminya, Cassandra menanggapi sikap konyol suaminya itu.


"Jika honey bosan.. kenapa sesekali tidak ikut aku ke perusahaan. Honey punya kesibukan untuk membuka mata orang-orang di perusahaan, yang dulu sering merendahkanmu disana.. Bukankah itu mengasyikkan honey.., tidak perlu lagi honey terlibat dalam kegiatan perusahaan." sahut Andreas Jonathan asal.


"Ga seru.. tidak ada tantangan dalam bekerja.." Cassandra langsung menolak tawaran itu.


"Kita akan melakukan perjalanan ke SIngapore honey.. aku akan mencari keberadaan mama.." tiba-tiba Andreas Jonathan berbicara pelan.


***********