
Andreas Jonathan tersenyum melihat keakraban papanya dengan istri dan putra tunggalnya. Ada kehangatan yang mengalir di sudut hati laki-laki itu, dan seperti ada beban yang terangkat hilang melihat kedekatan keluarga kecilnya. Beberapa tahun, Andreas Jonathan memang merasakan ada sesuatu yang hilang dari dalam dirinya, dimana kehidupan sehari-harinya hanya diisi dengan berfoya-foya, kerja, dan menyalurkan kesenangan duniawi saja. Sama sekali Andreas Jonathan tidak akan berpikir, untuk bisa terjebak hatinya pada perempuan sederhana, yang saat ini sudah menjadi istrinya itu, dan juga sudah memberikan seorang anak dengannya.
"Andre... Sandr, dan terutama kamu Alex. Sejak tadi aku mendengarmu koordinasi dengan para pengawal, jangan kamu pikir aku yang sudah tua ini tidak mengetahuinya. Ada apa sebenarnya, sepertinya ada yang kalian semua sembunyikan dariku.. apakah hal itu terkait dengan masuknya aku ke rumah sakit ini.." ketiga orang dewasa itu terkejut, mendengar perkataan Tuan Wijaya.
Ketiga orang itu saling berpandangan, dan Alexander hanya mengangkat kedua bahunya ke atas. Laki-laki itu juga bingung bagaimana akan menjelaskan pada tuan besarnya.
"Alex.. papa sudah tahu, dan sepertinya kesehatan papa juga sudah mulai stabil. Papa sudah cukup kuat untuk mendengarkan kenyataan pahit, ceritakan saja Alex.., karena kamu lebih mengetahui secara detail, dan juga terlibat langsung dalam prosesnya." mendengar perkataan dari Andreas Jonathan, Alexander hampir merasa tersedak. Dengan santainya, tuan muda Andreas melemparkan permasalahan itu kepadanya. Di samping tuan mudanya, Cassandra terlihat tersenyum menahan tawa dengan menutup mulut menggunakan telapak tangannya.
"Hmm.. begini tuan besar, sebelum Alex bercerita, apakah Alex boleh bertanya di malam sebelum tuan besar Wijaya dibawa tuan muda Andre ke rumah sakit, tuan besar mengkonsumsi apa? Dan dari mana tuan besar mendapatkannya." khawatir jika nanti yang diceritakan kontradiksi, dengan hati-hati Alexander bertanya pada laki-laki tua itu.
Wijaya bingung, kemudian mengingat apa yang dialaminya malam sebelum dibawa ke rumah sakit. Membawa wedang uwuh yang dibawa istrinya, Tuan Wijaya meminta ART untuk membuatkan untuknya. Memang ada rasa yang aneh, makanya wedang itu tidak dia habiskan.
"Sepertinya aku tidak mengkonsumsi apapun kecuali wedang uwuh, yang dibawa Sandrina ke dalam kamar. Memang sih, Sandrina tidak bilang jika wedang uwuh itu untukku, hanya digeletakkan di atas meja rias. Karena aku masih ada kerjaan malam itu, melihat tas kresek itu, muncul ide untuk meminum wedang uwuh itu." mendengar apa yang dikatakan papa mertuanya, Cassandra merasa jijik dan mual, karena tahu apa isi dari tas kresek putih itu.
Alexander tersenyum, kemudian..
"Tuan besar.. yang tuan besar minum malam itu bukan wedang uwuh tuan.. Kami sudah memeriksanya, dan saat ini bunga dan daunan kering, serta sedikit tanah itu sudah kami amankan, dan sudah dinetralisir oleh ustadz yang memahami masalah sihir. Jadi tuan besar sudah salah minum." Alexander kemudian menceritakan apa yang sudah dilakukannya atas perintah Andreas Jonathan. Termasuk saat sekarang, sudah ada dua ustadz yang sedang berdoa di mansion, dan juga perginya Andreas Jonathan dan Cassandra dari dalam mansion.
Selesai mendengarkan apa yang diceritakan oleh Alexander, wajah tuan besar Wijaya menjadi merah padam, Tampak kemarahan menerpa ke wajah yang sudah mulai banyak guratan wajah tua itu. Melihat reaksi papa mertuanya, Cassandra menyerahkan Altezz pada suaminya, kemudian perempuan muda itu mendekati tuan Wijaya.
"Papa.. semua sudah berlalu papa, dan Inshaa Allah tidak akan ada efek pada keluarga kita. Papa yang tenang saja dulu ya, dan fokus untuk mengembalikan stamina." Cassandra kemudian mengambil air mineral, kemudian perlahan meminumkannya pada tuan Wijaya. Satu tangan Cassandra mengusap pelan punggung laki-laki tua itu, dan perlahan wajah Tuan Wijaya sudah kembali seperti semula.
"Terima kasih menantuku.. putraku sudah tepat memilihmu untuk menjadi menantuku Sandra. Alex.. dimana sekarang perempuan laknat itu, aku tidak akan mengampuninya kali ini." tuan Wijaya bertanya pada ALexander.
"Beberapa waktu lalu, pengawal melaporkan tuan besar, untuk saat ini Nyonya Sandrina sudah pergi meninggalkan mansion dengan dijemput Jennifer. Atas intsruksi tuan muda, untuk sementara kita biarkan dulu Nyonya Sandrina kabur, toh semua flight sudah diintruksikan untuk mencekal nyonya besar." Alexander melanjutkan.
Mendengar perkataan tuan Wijaya, Andreas Jonathan menjadi terkejut. Laki-laki muda itu berjalan mendekati papanya yang duduk bersandar di atas ranjang. Melihat raut wajah suaminya, Cassandra segera memegangi lengan suaminya untuk menenangkannya.
"Apa maksud papa, apakah papa mengatakan jika perempuan itu bukan mama Andre yang sebenarnya..?" tanpa bisa dicegah, Andreas menanyakan status dari Sandrina pada keluarga Wijaya.
Tuan besar Wijaya terdiam, dan sepertinya laki-laki itu baru menyadari kekeliruannya dalam berbicara. Putranya Andreas Jonathan sudah bukan lagi seorang anak kecil, yang bisa dibohonginya selama ini. Laki-laki muda itu menatap tajam ke mata tuan Wijaya yang menundukkan wajahnya ke bawah. Istrinya Cassandra berusaha menenangkan perasaan Andreas Jonathan.
"Kak Andre. tenanglah kak, papa masih belum stabil staminanya. Jangan membuat papa menjadi lebih tertekan kak, tidak akan baik untuk kesembuhan papa." dengan suara oelan, Cassandra memperingatkan suaminya.
"Tidak honey... aku harus mengetahui cerita di balik semua ini. Jujur dari dalam hati kakak, aku bangga bukan merupakan keturunan dari perempuan laknat itu. Tetapi bagaimana keadaan mama, dan posisi keberadaannya saat ini, aku harus mengetahuinya honey. Menjadi kewajibanku untuk mencari tahu keberadaan mama, dan jika mama masih hidup, harus bersujud di atas kakinya." ucap Andreas Jonathan dengan tegas.
Mendengar perkataan suaminya, muncul rasa haru di hati Cassandra, tidak terasa ada air mata yang menetes dari sudut matanya. Tuan Wijaya menatap ke wajah Cassandra dan ANdreas Jonathan secara bergantian..
"Mama kandungmu masih hidup putraku.., terakhir kali papa menjumpainya di Singapura. Ada kontrak perjanjian di antara kami dan keluarga besar, untuk tidak mengatakan jika kamu Andreas Jonathan adalah putranya." ucap tuan Wijaya lirih. Tampak air mata mengalir dari sudut matanya yang sudah keriput. Dengan sigap, Cassandra mengambil tissue dan menyeka air mata itu.
Semua terdiam, bahkan Alexander juga tidak berani berkata sepatah katapun, dan Andreas Jonathan menatap wajah papanya dengan sorot mata tajam.
"Begitu tega papa menyembunyikan hal ini kepada Andre, dan membiarkan perempuan laknat itu mendapat panggilan mama dari Andre pa.." terlihat Andreas Jonathan menatap papanya tidak percaya.
"Maafkan papa.. Andre.. maafkan. Papa tidak berdaya saat itu.." ucap tuan Wijaya lirih.
Melihat keadaan papa mertuanya, Cassandra tidak tega membiarkan suaminya terus menekan laki-laki tua itu. Tanpa diminta, Cassandra merangkul suaminya kemudian membawanya keluar ke arah balkon rumah sakit, untuk memberi waktu pada tuan Wijaya untuk menenangkan dirinya.
********