CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 280 Konflik



Miss Cathy terkejut, ketika mereka sudah sampai di dalam kamar, Herlambang menyentakkan tubuhnya ke atas ranjang di kamar tersebut. Tatapan laki-laki itu berubah menjadi marah, dan seperti tanpa berkedip melihat ke arah Miss Cathy. PerempuanĀ  itu yang belum pernah diperlakukan kasar atau dalam keadaan marah oleh Herlambang, kaget melihat sisi lain dari laki-laki tersebut. Setelah beberapa saat kemudian...


"Aku tidak paham dengan sikapmu malam ini Cathy.. bicarakan kepadaku jika memang ada yang membuat sikapmu seperti itu. Aku tidak mau bermain teka teki silang, itu saja.." dengan kata bernada sinis, Herlambang bertanya pada kekasihnya.


Miss cathy diam saja, perempuan itu berusaha menenangkan dirinya sendiri. Kali ini, dia seperti melihat kekasihnya berubah menjadi temperamental. Perempuan itu menatapnya dengan pandangan ngeri.


"Ada batasanku yang sudah kamu langgar Cathy, dan perlu kamu ingat. Aku adalah laki-laki yang tidak mau bersembunyi, dan dibingungkan oleh sikap perempuan. Akan menjadi seperti orang yang kurang pekerjaan, jika aku mengabaikan semua sikapmu tadi. Katakan sekarang, atau kita cukupkan hubungan kita, bubar sampai disini." kata-kata terakhir yang diucapkan Herlambang, tampak mengejutkan Miss Cathy. Dengan tatapan tidak percaya. perempuan itu memberanikan diri kembali menatap laki-laki itu dengan pandangan langsung.


"Herlambang... apakah kamu serius dengan ucapanmu terakhir kali. Tidak bolehkah, aku sebagai seorang perempuan, sama halnya dengan perempuan yang lain merasa cemburu dengan sikapmu. Aku tahu.. semenjak kamu bertemu Tuan Alex, dan tahu jika Tuan Muda Andreas Jonathan serta istrinya Cassandra tidak datang bersamanya, kamu seperti orang bingung Herlam.. Kamu ternyata masih berharap dengan perempuan itu, tidak bolehkah aku cemburu..." dengan mata berlinang, Miss Cathy mengeluarkan semua uneg-unegnya.


mendengar ungkapan perasaan dari Miss Cathy, herlambang tersenyum smirk. Laki-laki itu kemudian berjalan, mendekati perempuan itu, dan duduk di sampingnya. Herlambang terdiam beberapa saat disamping perempuan kekasihnya itu.


"Cathy... tidakkah kau tahu bagaimana hubunganku dengan Cassandra sebelumnya... Cassandra adalah adikku, dan kami sudah sepakat untuk mengakui hal itu. Apakah salah jika seorang kakak merindukan kedatangan adiknya, dan hal itu yang harus selalu kamu ingat. Kamu bertemu denganku, dan kita sepakat untuk menjalani hubungan ini, bukankah kamu juga sudah tahu semuanya. Kenapa... sekarang kamu malah mempermasalahkannya.." laki-laki itu merubah intonasi suaranya menjadi lebih pelan, sambil kembali mengambil nafas.


"Itukah penjelasanmu Herlam... Jujur saja, sebagai seorang perempuan aku mempermasalahkan hal itu. Karena aku masih melihat, ada harapan lebih dalam hatimu selain hanya menjadikan Cassandra sebagai seorang adik. Apakah benar feeling yang aku rasakan, dan apakah merupakan hal yang salah jika perasaanku mengatakan demikian.." Miss Cathy tidak mau mengalah. Perempuan itu malah ingin menuntaskan semuanya.


"Aku tidak peduli bagaimana penilaianmu padaku Cathy..., dan berkali-kali sudah aku jelaskan kepadamu. Jika kamu mau menjalani hubungan kita berdua, dengan kelemahan yang aku miliki, kita masih bisa berjalan lagi. Namun... jika kamu menuntut sesuatu yang lebih, dimana aku tidak bisa untuk menjalaninya, hem... apa lagi yang bisa kita harapkan dari hubungan ini. Pergilah dariku Cathy... jika memang kamu merasa, tidak bisa bertahan dengan semuanya.." kata-kata Herlambang bukannya semakin melembut, tetapi malah menjadi semacam duri tajam yang menembus ke ulu hati perempuan itu.


"Kamu kejam Herlam... tidak adakah secuil hatimu tersisa untukku.." tanpa mau berkata-kata. mulut Miss Cathy berdesis.


"Aku sudah mengutarakan hal ini, jauh sebelum kita putuskan untuk bersama Cathy. Itulah aku, meskipun aku sudah menikah, dan memiliki seorang anak, nama Cassandra akan selalu tertanam indah di relung hatiku. Tidak akan ada, siapapun yang bisa menyingkirkannya dari tempat tersebut.." kata-kata yang terucap dari bibir Herlambang semakin pedas.


Miss Cathy berdiri, dan dengan mata yang berlinang air mata, perempuan itu kemudian berlari keluar dari dalam kamar Herlambang. laki-laki itu tidak berusaha mencegahnya, hanya melihat punggung perempuan itu berjalan meninggalkannya.


***********


Semua tamu dan keluarganya yang diundang untuk menghadiri rapat besar tahunan dari PT. Indotrex Tbk, semuanya sudah hadir. Perusahaan itu mampu untuk membooking Hotel Bulgari untuk menyelenggarakan acara tahunan perusahaan, dan hanya Pant house yang tidak bisa diinjak oleh para tamu undangan. Tanpa sepengetahuan Herlambang. Alexander sudah mengosongkan Pant House sendiri, dan menggunakan keuangannya pribadi, seperti yang dilakukannya dimanapun. Memahami bagaimana karakter Andreas Jonathan, meskipun sudah menjadi kakak iparnya, Alexander masih mengingat kebiasaan laki-laki itu.


"Bagaimana kak Alex masih tetap memiliki keyakinan jika kak Andre akan datang ke hotel ini, bahkan sampai sekarangpun tidak ada kabar dari mereka berdua. Nomor ponsel kak Sandra, juga tidak bisa Stevie hubungi kak.." melihat suaminya sedang mengecek fasilitas di Pant House, Stevie yang menemani suaminya bertanya pada Alexander.


Perempuan itu sudah terlihat cantik dan elegan dengan busana hamil yang dikenakannya, dan Stevie memilih tema paduan ungu dan burgundy, selaras dengan warna jas yang dikenakan suaminya. Pada acara Gala Dinner, sebelum dimulainya acara meeting, semua memang diwajibkan berpenampilan lengkap. Meskipun sedang hamil tua, Stevie tidak mau melewatkan kesempatan tampil di acara perusahaan pertama yang diikutinya.


"Jikapun kak Andre dan kak Sandra tidak datang malam ini, kita yang akan menempatinya sayang. Tidak perlu direpotkan memikirkan akan kita apakan kamar-kamar ini. Bahkan aku malah berencana, ingin berada di pulau Bali untuk beberapa saat, sampai putra kita terlahir. Apakah kamu menyetujuinya..." Alexander menanggapi pertanyaan dari istrinya.


"benarkah kak... tapi siapa yang nanti akan membantu Stevie untuk beradaptasi dengan bayi kita, karena mama Sheilla juga berada di negara Swiss..." ada sirat kekhawatiran dari jawaban Stevie.


"Perempuan hamil., melahirkan, dan merawat bayi sebenarnya merupakan sesuatu yang alami. pelan-pelan aku akan membantumu untuk melewati hal itu.. Dan disini, banyak juga metode tradisional maupun modern, yang bisa kita pelajari. Karena pulau Bali, bisa dikatakan sebagai kumpulan dari warga dunia di pulau ini. Banyak tersedia fasilitas untuk kita melewatinya.." Alexander menenangkan istrinya.


Stevie menatap mata suaminya dengan tidak percaya, tapi laki-laki itu menganggukkan kepala tampak untuk meyakinkan istrinya.


"Hemm... sudahlah Stevie.., tidak perlu kamu pikirkan itu. Kita ke ball room sekarang saja, karena acara sudah akan dimulai. Barusan Herlambang mengirimkan chat padaku.." melihat ponsel, akhirnya Alexander segera mengajak istrinya untuk bersiap menuju ke arah ballroom.


"Baik kak Alex.." Alexander menggunakan lengannya untuk menahan tangan istrinya. Pasangan suami istri itu segera menuju ke arah pintu lift, dan segera menombol arah turun. Tidak lama mereka menunggu, akhirnya pintu lift segera terbuka, dan pasangan suami istri itu segera masuk ke dalamnya.


************