
Senin pagi setelah menempuh perjalanan dari dari Surabaya dengan menyetir sendiri melalui toll, Herlambang sudah sampai sejak kemarin sore di Jakarta. Untungnya pemilik kost yang dulu masih mau memberi tempat tinggal untuk anak muda itu, sebelum Herlambang mendapatkan tempat tinggal untuk ke depannya. Laki-laki itu saat ini sudah berdiri di depan lobby PT. Indotrex. Tbk, tempat dulu dia sering melakukan antar jemput Cassandra. Keterkejutan sangat terlihat pada diri anak muda itu, karena sama sekali tidak menyangka jika ternyata perusahaan induk dari perusahaannya yang ada di Jakarta adalah PT. Indotrex. Tbk.
"Selamat pagi pak.. dimana saya bisa bertemu dengan Tuan Alexander.." Herlambang dengan sopan menyapa petugas keamanan yang berjaga di pintu lobby. Meskipun Herlambang merasa kenal dengan petugas keamanan itu, tapi laki-laki itu tetap menempatkan dirinya sebagai tamu di perusahaan.
Ternyata petugas keamanan itu masih mengenali Herlambang, dan terkejut ketika melihat keberadaan anak muda itu kembali ke perusahaan itu. Selama ini, kedatangan Herlambang ke perusahaan, karena ada maksud untuk menjemput atau mengantar Cassandra ke perusahaan. Namun.. kali ini ternyata laki-laki itu ingin bertemu dengan wakil CEO.
"Bukankah ini mas Herlambang dulu itu ya, yang sering mengantar jemput non Cassandra. Apakah saya tidak salah lihat..?" petugas keamanan itu malah balik bertanya pada laki-laki muda itu. Herlambang tersenyum dan menganggukkan kepala. Petugas keamanan itu kemudian mendekati Herlambang, dan menjabat tangan anak muda itu.
"Benar pak.. ini saya yang dulu sering kemari, untuk antar jemput teman saya nona Cassandra. Tetapi kedatangan saya kali ini, bukan untuk mencari atau bertemu dengan nona Cassandra. Apakah bapak mendengar, bagaimana kabar teman saya sekarang itu.." Herlambang balik bertanya kembali tentang Cassandra. Meskipun kecil harapannya untuk kembali mendengar kabar tentang gadis itu, tapi Herlambang tetap mencoba menanyakan kabar Cassandra.
"Sudah lama sekali mas Herlam,. nona Cassandra tidak balik ke perusahaan. Bahkan sampai sekarang tuan muda juga tidak mencari gantinya, mungkin masih menunggu sampai non Cassandra kembali ke perusahaan ini. Padahal non Sandra itu baik banget mas, sering menyapa kami dengan ramah, meskipun posisinya ada di bawah CEO dan Wakil CEO. Tidak ada kesombongan sama sekali,. hanya teman-teman perempuan saja yang sering iri dan sering mengerjainya." petugas keamanan itu malah bicara panjang lebar.
Herlambang mengambil nafas panjang.., senyum kecut keluar dari dalam mulutnya. Kepergian Cassandra yang misterius sampai sekarang, belum diketahui bagaimana kabarnya sekarang. Gadis itu hanya meninggalkan selembar kertas yang dititipkan pada pemilik rumah yang dikontrak untuk tempat tinggal Cassandra
"Ya sudah pak, jika saya boleh diantarkan, di tempat mana saya akan bisa bertemu dengan tuan Alexander." akhirnya Herlambang menepis kerisauannya untuk bertemu dengan Cassandra, dan kembali bertanya pada laki-laki itu.
"Baik mas Herlam.., mari ikuti saya. Kita langsung ke atas saja, di depan ruang kerja tuan Alexander. Sekalian nanti saya tanyakan beliau, dimana nanti mas Herlam bisa bertemu dengannya." dengan ramah, petugas keamanan itu, meminta Herlambang untuk mengikutinya.
Tanpa bicara, Herlambang mengikuti petugas keamanan masuk ke dalam gedung perkantoran. Beberapa karyawan melihat ke arah anak muda itu, dan beberapa dari mereka banyak berbisik-bisik menanyakan keberadaan anak muda itu. Tidak lama kemudian, kedua anak muda itu sudah memasuki pintu lift dan langsung menuju ke lantai atas.
*********
Setelah petugas keamanan melapor pada Alexander, ternyata Herlambang diminta untuk menunggu di ruang tamu Direksi. Petugas keamanan segera keluar, kemudian menghampiri Herlambang dan mengajak anak muda itu untuk menuju ke ruang tamu.
"Tidak masalah mas Candra.. nanti saya bisa sendiri menunggu tuan Alexander di dalam. Jika tidak salah, tuan Alexander itu wakil CEO ya, yang sering bersama dengan tuan Andreas Jonathan." sambil melangkahkan kaki. Herlambang teringat laki-laki tampan bertubuh tegap, yang selalu membersamai CEO perusahaan itu.
"Benar mas.. tuan Alex itu yang sering bersama dengan tuan muda. Dimanapun tuan muda berada, biasanya ada tuan Alexander juga. Jika dulu masih ada non Cassandra, mereka terbiasa kemana-mana bertiga, namun ketika nona Cassandra sudah tidak ada lagi di perusahaan ini, mereka akhirnya kembali berdua." Candra menambahkan.
Herlambang tidak menanggapi pembicaraan laki-laki muda itu, karena sejak tadi putaran pembicaraan masih mengarah pada Cassandra. Mendengar nama gadis itu disebut, muncul perasaan rindu ingin melihat kembali wajah gadis itu. Beberapa saat kemudian, akhirnya kedua laki-laki itu sudah sampai di depan sebuah ruangan, dan Candra membuka ruangan tersebut, kemudian mengajak Herlambang masuk ke dalam.,
"Silakan duduk mas Herlam.. seperti tadi yang sudah saya katakan, saya tidak bisa tinggal disini untuk bersama dengan mas Herlam. Karena saya harus kembali bertugas, mohon ijin saya permisi.." Candra kemudian keluar dari dalam ruangan, dan tinggallah Herlambang sendiri di dalam ruangan itu.
Baru saja Herlambang akan duduk di sofa, pandangan mata laki-laki itu terpaku pada sebuah lukisan yang ada di ruang tamu Direksi. Terlihat sebuah lukisan keluarga kecil dengan satu anak bayi di tengahnya, dan yang membuat Herlambang terkejut adalah, gambar perempuan yang sedang menggendong bayi tersebut. Tampak laki-laki tampan memeluk bahu perempuan itu, dan terlihat ada kebahagiaan dalam lukisan tersebut.
"Bukankan itu lukisan Cassandra.., tapi kenapa gadis itu bisa ada dalam lukisan tersebut. Bayi itu, mungkinkan itu bayi yang dilahirkan Cassandra. Namun.. siapa laki-laki itu, bukankah itu CEO PT. Indotrex. Tbk, dan bagaimana mereka bisa berada dalam satu frame yang sama?" berbagai pertanyaan bergejolak di benak Herlambang.
Laki-laki itu kemudian berdiri, dan mengamati lukisan itu lebih dekat. Ketika mengamati lebih dekat lukisan itu, ternyata gadis yang ada dalam lukisan itu betul-betul wajah Cassandra. Tiba-tiba saja hati Herlambang berdegup kencang, tangan kanannya mengusap lukisan itu sambil menatap pada lukisan wajah Cassandra, yang seolah melihatnya dengan tatapan tajam.
"Hmm.. jika benar ini Cassandra, berarti bayi yang ada dalam kandungan gadis itu kemarin, merupakan generasi penerus perusahaan ini. Dan apakah aku bica mencapai tahapan ini, karena pengaruh dari keberadaan Cassandra, sebagai istri dari CEO perusahaan. Oh my God.. ada apa ini, apa yang harus aku lakukan.." tiba-tiba saja Herlambang menjadi kebingungan, tidak tahu apa yang harus dilakukannya kemudian.
Hati laki-laki itu terasa hancur, dan tidak memiliki harapan sama sekali. Sambil menutup wajahnya, Herlambang kembali mundur ke belakang, kemudian duduk di atas sofa, sambil matanya tidak bisa beralih tetap menatap lukisan yang ada di depannya.
***********