
Setelah berpikir panjang, akhirnya Andreas Jonathan bersedia mendengarkan istrinya. Laki-laki muda itu tidak akan memperkarakan dua perempuan yang pernah akan mencelakakan keluarganya. Untuk memberikan efek jera pada Thanom dan Arron, Andreas Jonathan meminta pada pejabat negara untuk melakukan deportasi pada dua laki-laki itu, dan mengembalikannya ke negaranya. Anak muda itu tidak mau meninggalkan dendam yang tidak berujung, sehingga lebih memilih upaya damai untuk keamanan keluarganya.
"Bagaimana kak, lebih tenang dan damai bukan, jika kita memilih tidak memperkarakan balik mama Sandrina dan Jennifer. Bagaimanapun sikap mama Sandrina padaku, tetapi perempuan paruh baya itu sebenarnya sangat menyayangi kak Andre, hanya kakak saja yang tidak bisa melihatnya.." Cassandra berbicara pelan pada suaminya, ketika mereka sudah hampir sampai di mansion mereka.
"Hemmm, siapa yang memerintahkanmu memanggil perempuan itu dengan panggilan mama... honey. Aku lebih suka mendengar dirimu menyebut perempuan itu dengan panggilan Nyonya seperti tadi. Panggilan itu seakan melecehkanku, dan mengingatkanku pada kepedihan di masa lalu." kata-kata yang diucapkan Andreas Jonathan seakan mengandung sebuah peringatan.
Cassandra menatap ke wajah suaminya, dan laki-laki itu terlihat tidak sedang bercanda, Wajah suaminya terlihat sangat serius, dan ada kesan tidak suka dengan panggilan mama oleh istrinya itu.
"Baik kak, bukan maksud Sandra untuk melecehkan penderitaan kak Andre. Hanya maksud Sandra untuk memberikan penghormatan pada perempuan yang lebih tua, dan pernah merawat suami Sandra. tapi jika memang kak Andre tidak menyukainya, Sandra akan kembali memanggil Sandrina dengan sebutan nyonya atau ibu saja. Bagaimanapun perempuan itu sudah berumur, paling tidak menghormati ketuaannya." Cassandra menjelaskan pada suaminya.
"Bagus.., mobil sudah berhenti, dan sepertinya itu adalah mobil ALexander. berarti anak itu, dan juga Stevie sedang berada di dalam mansion menunggu kita. Mari.. kita segera temui mereka.." karena mobil sudah berhenti, dan ketika pengawal sudah membukakan pintu, Andreas Jonathan segera membantu istrinya keluar dari dalam mobil.
Begitu Cassandra keluar dari dalam mobil, ternyata putranya Altezza sudah menunggu mereka di luar. Anak kecil itu sudah keluar terlebih dahulu dari dalam mobil, tanpa menunggu pengawal membukakan mobil untuknya.
"Auntie... kapan auntie datang ke rumah ini... Altezz baru saja berjalan-jalan ke desa dengan papa dan mommy.." melihat Stevie yang segera menjemputnya turun ke halaman, celoteh Altezza berkomunikasi dengan tantenya terdengar jelas.
.
"Sudah sejak tadi jagoan auntie.. Altezz kenapa tidak mengajak auntie untuk jalan-jalan bersama kalian.." Stevie menanggapi celotehan anak kecil itu.
"Tidak boleh sama papa auntie, ketika Altezz minta ijin untuk memberi tahu auntie. Tapi.. mending tidak ikut auntie, karena tadi Altezz melihat wajah papa marah, dan mommy juga terlihat tegang, Padahal pemandangan di sekitar rumah yang tadi kami kunjungi sangat bagus auntie.. tetapi ALtezz belum menikmatinya." anak kecil itu melanjutkan ceritanya, sambil bergandengan tangan dengan Stevie menuju ke dalam mansion,
Andreas Jonathan mengabaikan celotehan putranya, laki-laki muda itu merangkul istrinya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Laki-laki muda itu sepertinya khawatir dengan keadaan istrinya, karena mereka baru saja melakukan perjalanan, dan istrinya dalam keadaan hamil. Padahal Cassandra merasa baik-baik saja, tetapi tidak dapat membiarkan begitu saja suaminya karena akan dapat memancing kemarahan laki-laki itu. Meskipun secara langsung, Andreas Jonathan belum pernah marah pada perempuan muda itu, tetapi Cassandra tetap berusaha menetralisir keadaan.
**********
Canada
"Apakah kamu sudah siap istriku Sheilla, kita akan segera berangkat ke perusahaan. Sopir sudah menunggu kita di luar rumah.." terdengar suara tuan Wijaya memanggil istrinya.
"Sebentar kak.. ini Sheilla sedang menyiapkan bekal untuk ngemeal di perusahaan. Jadi ketika opa ikut hadir dalam rapat direksi, Sheilla bisa menunggu saja di ruangan.." membahasakan jika ALtezza memanggil suaminya, Nyonya Sheilla menyebut suaminya dengan panggilan opa.
Tuan Ridwan tersenyum, dan terkadang memang laki-laki tua itu tidak habis pikir. Bisa saja di perusahaan, Sheilla menyuruh sekretaris atau bagian pantry untuk menyiapkan makanan bagi mereka berdua, namun Sheilla selalu menolaknya. Sepertinya jika tidak terbuat dari tangannya sendiri, perempuan itu tidak pernah bisa puas menikmati makanan di kota Canada. Tidak lama kemudian, perempuan paruh baya itu keluar dengan menenteng paper bag berisi makanan, dan tuan Wijaya hanya tersenyum melihatnya.
"Sini aku bawakan saja Sheilla.." tuan Wijaya mengambil alih tentengan paper bag dari tangan perempuan apruh baya itu, kemudian keduanya segera berjalan keluar dari dalam rumah.
Tuan Wijaya dan nyonya Sheilla memang memilih bertempat tinggal di daerah pinggiran, karena ingin memiliki hunian dengan halaman luas dan banyak pohon tumbuh di atasnya. Dan hal itu terwujud, dan ketika mereka dulu sempat terpisah, tuan Wijaya memilih bertempat tinggal di apartemen mewah dengan istrinya saat itu Sandrina. Karena Sandrina menyukai kemewahan dan serba instan, sehingga bertempat tinggal yang dekat dengan bangunan mall merupakan hal yang cocok untuk perempuan itu. Sangat berbeda jauh dengan Sheilla istrinya.
"Apakah kamu masih menyukai tempat ini Sheilla, jika sudah bosan kita bisa pindah dari tempat ini..?" sambil berjalan menuju ke arah mobil yang sudah menunggu mereka, tuan Wijaya bertanya pada istrinya.
"Tidak perlu opa, Sheilla masih sangat suka dengan tempat ini. Udaranya sejuk dan tidak panas, karena banyak tumbuhan dan pepohonan besar di lingkungan sekitar. bukankah tempat ini dulu adalah pilihanku sendiri, apakah opa sudah melupakannya," Sheilla balik bertanya.
"Hemm.. benar juga, makanya meskipun kemarin kita sempat berpisah, aku tetap meminta orang untuk mengurus tempat ini, dan berencana untuk memberikan sebagai gono gini kepadamu. Tetapi kamu ternyata tidak pernah lagi datang, dirimu menghilang seperti ditelan bumi. Setelah menemukanmu kembali di SIngapura, hasratku untuk kembali ke rumah ini bersamamu, selalu menjadi keinginan terbesarku. Dan ternyata Tuhan mendengarkan doaku sayang.." Tuan Wijaya segera merangkul istrinya, dan sopir yang sedang membuka pintu mobil hanya tersenyum melihat kemesraan pasangan suami istri itu.
"Silakan masuk tuan besar.., nyonya besar.." sopir mempersilakan pasangan suami istri itu untuk masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih Andrew.." Sheilla mengucapkan terima kasih, kemudian dengan hati-hati perempuan itu masuk ke dalam mobil. Di belakangnya, suaminya tuan Wijaya segera mengikuti masuk. Tidak lama kemudian, sopir menutup pintu dengan pelan..
"Kita berangkat ke perusahaan ya nyonya besar dan tuan besar." terlihat tuan Wijaya menganggukkan kepala, meskipun mereka tidak menjawab secara lisan.
**********