
Di Mansion
Cassandra belum bisa tertidur, perempuan itu masih menunggu kabar dari suaminya, dan menunggu di ruang tengah. Beberapa kali perempuan muda itu melihat ke arah ponselnya, namun chat juga tidak diberikan oleh suaminya. Di sudut ruangan, terlihat nyonya Sheilla dan tuan Wijaya juga sedang menunggu dengan cemas. Terutama nyonya Sheilla, perempuan itu sejak tadi merasa gelisah, dan suaminya mencoba menenangkan perempuan tersebut.
"Sandra.. apakah Andre belum memberikan kabar, bagaimana keadaan adikmu...?" dari tempatnya, tuan Wijaya bertanya pada Cassandra.
"Belum pa.., tapi Sandra tidak berani untuk mencari tahu lewat kak Andre. Pasti sedang ada kesibukan yang ditangani kak Andre, sampai papanya Altezz belum memberikan kabar. Kita sabar dulu saja pa, ma..., kita berdoa semoga semuanya segera kembali, tanpa ada apapun. Keselamatan dan keamanan untuk keluarga kita semua." masih dengan hati yang tidak karuan, Cassandra mencoba menenangkan papa dan mama mertuanya.
Laki-laki tua itu terdiam, dan terus mengusap punggung istrinya yang sejak tadi menangis merasa kehilangan putrinya Stevie. Nyonya Sheilla memang terlihat lebih memperhatikan Stevie daripada Andreas Jonathan. Hal itu, karena rasa sayang perempuan tua itu, yang mengingat sejak kelahirannya Stevie tidak mendapatkan kasih sayang dari papanya, yakni tuan Wijaya. Meskipun ada Armansyah, yang memposisikan sebagai papanya, namun laki-laki itu lebih sering memberikan tekanan dan hukuman, daripada kasih sayang.
"Benar katamu Sandra.., kamu sudah sangat mengenali bagaimana sikap dan karakter dari suamimu.. Pasti Andre sedang mengurus sesuatu, sehingga belum memberikan kabar pada kita.." akhirnya tuan Wijaya mengiyakan kata-kata menantunya.
"Tapi bagaimana dengan Stevie, adikmu selamat kan Sandra tidak terjadi apa-apa dengan dirinya?" dengan penuh rasa panik, nyonya Sheila bertanya pada menantunya.
"Inshaa Allah mam.., semua akan baik-baik saja. Sudah ada kak Andre dan suami Stevie kak Alex, semua pasti akan aman terkendali." Cassandra mencolok menenangkan mama mertuanya.
Nyonya Sheila terdiam, dan tuan Wijaya menggenggam tangan perempuan paruh baya itu. Melihat hal itu, Cassandra tersenyum, dan teringat pada suaminya kembali. Seperti papanya, suaminya Andreas Jonathan juga sangat menjaga perasaannya. Tiba-tiba terdengar suara ribut di jalan belakang, seperti suara helikopter sedang mendarat.
"Itu pasti anak-anak sudah datang," tuan Wijaya berkomentar.
Laki-laki itu kemudian berdiri, diikuti dengan istrinya. Begitu juga Cassandra, tidak bisa dipungkiri gadis muda itu sejak tadi juga menjaga perasaan khawatirnya. Hanya saja Cassandra lebih bisa menahan diri, karena melihat mama mertuanya seperti terpukul menanti putrinya.
Tiga orang dewasa itu segera melangkahkan kaki menuju ke pintu belakang. Seorang penjaga dari arah depan segera berlari dan membukakan pintu. Mata Nyonya Sheilla tampak berbinar melihat putrinya Stevie berjalan sambil dipeluk suaminya Alexander.
"Stevie putriku... kamu baik-baik saja nak..." perempuan paruh baya itu segera memeluk putrinya. Alexander melepaskan tubuh istrinya, dan laki-laki itu berdiri di belakang kedua perempuan itu.
"Honey... untuk apa ikut kemari? Aku pikir kamu berada di kamar, sedang tidur istirahat?" Andreas Jonathan segera mendatangi istrinya, kemudian merengkuh bahu perempuan muda itu.
"Sandra ikut merasa khawatir melihat mama Sheilla panik kak. Akhirnya Sandra menemani papa dan mama di ruang tengah, sambil menunggu kak Andre datang." Cassandra menyembunyikan perasaannya.
"Hmm... benarkah hanya karena itu. Tidak ada sedikitpun kerinduan dan kekhawatiran honey untukku." Andre Jonathan menggoda istrinya, seperti tidak tahu tempat, laki-laki itu mencium kening istrinya sambil berjalan masuk ke dalam mansion.
*******
Di dalam kamar
"Hmm... ada apa honey.., aku sangat menyukai sikapmu hari ini...? Aku merasa dibutuhkan untukmu." sambil tersenyum smirk, Andreas Jonathan bertanya lembut pada istrinya.
Cassandra ingin kembali menarik tubuhnya ke atas, namun laki-laki itu lebih cepat. Dengan cepat, Andreas Jonathan menarik istrinya dan mendudukkan di pangkuannya. Ciuman lembut diberikan laki-laki itu ke bibir istrinya, dan beberapa saat pasangan suami-isteri itu menghentikannya. Cassandra kembali menegakkan punggungnya, dan mendorong lembut dada suaminya ke depan.
"Kenapa berhenti honey...," dengan suara serak, Andreas Jonathan kembali bertanya.
"Sandra pingin bertanya pada kakak, mumpung masih ingat." ternyata ada yang ingin dikonfirmasi oleh gadis muda itu.
Laki-laki muda itu menoleh ke arah suaminya. Perempuan muda yang duduk di pangkuannya itu tersenyum, tangan mungil Cassandra membelai wajah laki-laki muda dan tampan itu. Tangan Cassandra mengukir mata, telinga, dan hidung suaminya, sampai laki-laki muda itu menahan nafas, kemudian tangannya menghentikan tangan istrinya kemudian memberi kecupan di jari-jari ramping itu.
"Apa yang sejak tadi kak Andre pikirkan, sampai mengabaikan keberadaan Cassandra di kamar ini? Apakah hari ini ada kesalahan yang Cassandra lakukan?" dengan suara lirih, perempuan muda itu bertanya pada suaminya.
Andreas Jonathan tersenyum dan menggelengkan kepala. Laki-laki itu masih menatap mata istrinya. Pasangan suami-istri itu kembali saling bertatapan, kemungkinan saking berciuman beberapa saat.
"Jujur honey..., aku mulai merasa khawatir dengan keselamatan keluarga kita. Kejadian yang menimpa Stevie telah mengusikku, dan aku sebagai kepala keluarga harus melindungi keluarga kecilku. Aku ingin kembali mengajakmu pindah ke negara lain." ucap Andreas Jonathan lirih.
Cassandra kaget sampai menajamkan pandangan matanya pada laki-laki itu.
"Apakah Cassandra tidak salah dengar kak?" perempuan muda itu terdiam sebentar.
"Sampai kapan kita akan terus melakukannya pelarian. Bukan hanyalah Sandra dan Altezz yang harus menjadi beban perlindungan bagi kakak. Ada mama, papa, dan juga Stevie serta kak Alex. Hanya dengan bersama kak, kita akan menjadi lebih kuat. Kita akan bisa berdiskusi, bertukar pikiran untuk menemukan solusi terbaik untuk keluarga kita." Cassandra mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
Andreas Jonathan terdiam tidak memberikan tanggapan. Tangan Cassandra diangkat ke atas, dan memegang dagu laki-laki muda itu, keduanya kembali saling menatap.
"Negara ini atau kembali ke Indonesia, hanya itu pilihan yang akan Sandra jawab, jika kak Andre bertanya." Cassandra mengakhiri kata-katanya.
Andreas Jonathan tidak memberikan jawaban, laki-laki itu malah menangkap tangan perempuan muda itu, kemudian keduanya kembali saling berciuman. Tetapi kali ini, Andreas Jonathan tidak melepaskan istrinya. Sambil terus memberikan ciuman dalam, satu tangan laki-laki itu mengangkat tubuh Cassandra hanya dengan satu tangan.
"Honey..., layani aku malam ini honey.." bisik lembut Andreas Jonathan di telinga istrinya.
Tidak lama kemudian, tubuh pasangan suami-istri itu sudah saling bergelut di atas ranjang kamar mereka.
******