CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 133 Menghentikan Dendam



Di depan pintu ruangan yang terbuka, Alexander menunjuk ke arah tuan muda dan nona mudanya yang sedang berciuman di atas sofa, dengan maksud untuk memberi tahu pada Stevie bagaimana seorang pasangan itu. Melihat pemandangan yang tak lazim itu, Stevie malah menutup wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya, gadis itu merasa malu. Melihat hal itu, Alexander menarik gadis itu kemudian mendekatkan mulutnya dengan telinga Stevie, kemudian...


"Untuk menghilangkan rasa malu, kita juga bisa melakukan seperti itu sayang. Lihatlah.., sangat mesra sekali bukan, dan sangat dalam bagaimana kakak kandungmu yang terkenal dengan sikap arogan terhadap lawan itu, bisa menunjukkan ketaklukan pada seorang nona muda Cassandra.." bisik Alexander di telinga Stevie, sambil meniup belakang telinga gadis itu,


Tubuh Stevie langsung merasa merinding mendapat perlakuan seperti itu, mata gadis itu melotot memberikan peringatan pada Alexander. Namun bukannya merasa bersalah, Alexander malah tersenyum smirk dan menganggukkan kepala sambil menatap Stevie yang masih terlihat malu.


"Kak Alex.., Stevie... sejak kapan kalian berdua disitu..?" rupanya Cassandra sudah menyadari kedatangan dua anak muda di dalam ruangan itu.


Beberapa kali terpergok pengawal dan juga Alexander, ketika sedang bermesraan dengan Andreas Jonathan, menyebabkan gadis itu sudah mulai bisa menahan rasa malu, ketika tanpa sengaja pengawal atau asisten pribadi suaminya itu memergoki mereka ketika tengah berciuman. Mungkin karena hal itulah, makanya Alexander tidak segera bergeser atau berbalik badan ketika melihat keduanya sedang melakukan ciuman mesra.


"Hmm.. apakah perlu kami kasih tahu nona muda,.." dengan senyum menggoda, Alexander menjawab dengan santai pertanyaan Cassamdra. Andreas Jonathan hanya diam sambil menatap Alexander yang menggandeng adik kandungnya Stevie, dan berjalan menghampiri mereka.


"Tidak bisakah kak Alex merubah bagaimana cara memandangku sih.." dengan muka sebal, Cassandra memprotes sikap ALexander yang tampak mengejeknya.


Melihat sikap itu, Cassandra menatap sebal pada laki-laki muda itu, namun Alexander malah  merasa easy going, dan tidak menganggap tatapan gadis itu sebagai teguran untuknya. Malah dengan santai, di depan kakak kandung gadis yang duduk di sampingnya, Alexander malah mendekatkan tubuh Stevie dan akan memberinya sebuah rangkulan. Namun.. ternyata Stevie masih menghormati dan bersikap malu melihat kakak kandung dan kakak ipar yang duduk di depannya.


Tiba-tiba tatapan Cassandra terpaku dan diam melihat rona merah yang ada di leher Stevie. Sebagai perempuan muda yang sudah menikah, gadis itu tentu saja tahu dan paham, apa arti noda merah di leher seorang gadis. Dengan tatapan membunuh pada Alexander, tiba-tiba..


"Stevie.. apa yang terjadi dengan lehermu sayang.., kenapa ada noda merah disana seperti lebamm..?" Cassandra langsung bertanya pada adik iparnya, sambil menatap tajam pada Alexander.


Mendapat pertanyaan seperti itu, sepertinya Stevie baru tersadar jika tadi perbuatan nakal Alexander menimbulkan ruam di kulit bagian lehernya. Wajah gadis itu menjadi merah menahan malu, dan menyiapkan jawaban untuk kakak iparnya, dan bahkan Andreas Jonathan yang sejak tadi hanya menatap fokus pada Alexander, kali ini tatapannya sudah berpindah menatapnya dengan pandangan datar.


"Iyakah kak.. Stevie malah tidak menyadarinya. Tapi mungkin karena tadi... tadi.. mmmm, tadi Stevie merasa gatal karena digigit nyamuk kak, jadi meninggalkan bekas ruam berwarna merah.." untuk menutupi perbuatan Alexander, Stevie berusaha mencari alasan sekenanya.


"Hmmm... tapi kenapa kakak tidak bisa menutupi kecurigaan kakak ya Stev.., semoga saja nyamuk yang menggigit lehermu itu, bukan nyamuk yang memiliki rambut hitam dengan high light berwarna putih di kepalanya. Jika nyamuk seperti itu yang melakukannya, penggal saja kepalanya.." dengan nada sarkasme, Cassandra menatap Alexander meskipun perkataan ditujukan untuk adik iparnya.


Stevie terdiam tidak mampu mengeluarkan kata-kata, gadis itu hanya menundukkan wajah ke bawah. Andreas Jonathan hanya terdiam, tatapan mata laki-laki itu mencari jawaban pada laki-laki muda yang duduk di depannya.


*********


Beberapa Saat Kemudian


Nyonya Sheilla menatap lembaran kertas yang diberikan ALexander kepadanya, kemudian membukanya perlahan di hadapan putra dan putrinya, serta menantunya. Beberapa saat perempuan paruh baya itu membaca lembaran kertas itu, dan tampak ada keterkejutan di wajahnya. Perempuan itu tidak lama kemudian mengangkat wajahnya ke atas dan menatap semua yang ada di dalam ruangan itu secara bergantian,


"Mama tidak tahu.. bagaimana harus mengatakan perasaanku. Di satu sisi, hati mama merasa tenang, merasa senang melihat akta perceraian ini. Namun bagaimanapun.. sebenarnya Armansyah juga tidak seluruhnya berbuat salah kepadaku. Di luar kekasaran dan perlakuan premannya, laki-laki itu sangat mencintai mama dengan sepenuh hatinya.." ucap nyonya Sheilla terkejut.


"Mama tidak boleh bicara seperti itu untuk membela papa Armand.. Stevie yang menjadi saksi mata mam.., bagaimana papa Armand selalu bersikap kasar, dan memperlakukan mama layaknya sapi perah. Stevie tidak akan rela melihatnya mam.. jangan bela lagi papa Armand. Jika mama tahu, dalam perjalanan untuk mengambil akta cerai ini, anak buah papa Armand hampir saja membunuh Stevie.., untung saja kak Alex dengan cepat menyelamatkan Stevie. Jika tidak.. mungkin Stevie sudah berakhir di liang lubur, atau di rumah sakit.." tiba-tiba Stevie mencoba menjelaskan semuanya.


"Apa yang kamu katakan Stevie... bagaimana bisa laki-laki itu menyakitimu lagi.." seperti kontras dengan pembelaannya tadi, Nyonya Sheilla terkejut mendengar perkataan putrinya.


Stevie segera menceritakan kejadian ketika pisau belati itu meluncur ke arahnya, dan bagaimana Alexander dengan cepat menyelamatkannya sehingga terhindar dari kejadian mengenaskan itu.


"Alex.. aku perintahkan jangan beri ampun pada laki-laki itu. Kejar, tangkap dan jebloskan Armansyah ke dalam bilik penjara, ternyata kita tidak bisa memberi ampun atau celah pada laki-laki itu.." mendengar cerita adik kandungnya, Andreas Jonathan langsung bereaksi.


Nyonya Sheilla terlihat sudah tidak berdaya untuk membantu penyelamatan mantan suaminya, karena sebenarnya pembelaan yang dilakukan tadi, untuk menghentikan dendam yang berkepanjangan pada Armansyah. Namun mendengar putra sulungnya sudah membuat perintah, tidak ada lagi yang bisa dilakukannya.


"Tapi kamu tidak apa-apa kan  Stevie.., tidak ada yang terluka sedikitpun.."  dengan perasaan khawatir, Cassandra bertanya pada adik iparnya.


"Tidak apa-apa kak, syukurlah karena tadi kak Alex cepat datang dan menyelamatkan Stevie.." ucap gadis muda itu lirih.


***********